Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air # 55
Jusni Hilwan/Indonesia Media
Kalau saja ada suatu komunitas di negeri ini yang mencerminkan negara
kesatuan R.I., pilihanku jatuh ke paguyuban Sanbima exIBMer. Bila Anda belum
tahu, itu adalah komunitas mikro beberapa ratus warga Indo yang tadinya
bekerja di PT IBM Indonesia, kemudian ganti bulu menjadi PT USI Jaya sebelum
ganti merek lagi ke IBM Indonesia. Semalam sebagian di antara kami yang
tinggal di Jabodetabek, ngerumpi di resto Kusuma Sari, Kebayoran Baru. Dari
ciri 'chain restaurant' Solo yang dimiliki oleh Uda Datuak Palindih, kita
sudah bisa menduga suasana serba toleran di antara kami semua. Sebab yang
didiskusikan dan dicandakan, bukan perbedaan-perbedaan yang ada di antara
kami, tetapi p e r s a m a a n, maupun nostalgia di era-era kita masih
nyangkul di ibeem. Sebagian besar yang datang sudah sering saya jumpai a.l.
karena tahun lalu kami mengadakan trip ke SumBar dengan basis di Kotogadang.
Beberapa datang khusus untuk memberikan daku oleh-oleh, sedemikian banyaknya
sehingga rencana saya yang tadinya hanya akan membawa pulang 1 koper besar,
terpaksalah canoe pack-ku kan kumanfaatkan. Ya, untuk jaga-jaga, saya membawa
satu tas yang kami sebut canoe pack, yang kapasitasnya sekitar 150 liter.
Kalau canoe pack tersebut diisi penuh bila kami canoeing, bebannya bisa
mencapai 30-an kg.
Dari 100 daftar barang di checklist yang saya bawa ke Jakarta, ada sebotol
insect repellant, cairan penangkal nyamuk, yang sudah terpakai setengahnya.
Satu botol lagi adalah suncreen lotion SPF 30 yang setetes pun tak pernah
kupakai sebab mubazir. Kenapa? Lantaran prens sadayana, bersedihlah kalian
semua anak Betawi, yang namanya matahari di atas kota ini, sudah tidak bisa
lagi mencorong membakar kulit kita karena tertutup smog :-(. Buktinya sudah
2 minggu saya bolak-balik setengah jam setiap hari di kolam renang Tirta Mas
en toh kulitku tidak pernah hangus. Jangankan 2 minggu, sehari kita ada di
matahari musim panas di Kanada, kalau tidak memakai sunscreen, dijamin
keesokan harinya tubuh atau kulitmu tidak bisa dipegang karena perih terbakar.
Pada saat pesawat CX yang membawaku dari Hong Kong mau mendarat di Cengkareng,
dari kejauhan sudah kelihatan lapisan smog yang ada di atas kota Jakarta.
Itulah yang membuat kebijaksanaan 'visa on arrival' RI yang cuma sebulan,
tidak bisa diperpanjang, jadi sreg untuk kami berdua :-).
Sepandai-pandai tupai meloncat, sekali ia akan jatuh juga, kata bu guru di
dalam pelajaran tatabahasa Bahasa Indonesia mengenai arti-arti peribahasa.
Si tupai JeHa kemarin amblas blo'on banget ketika dalam rangka reuni di
atas, mencoba masuk ke Kebayoran dari arah Kapten Tendean, Pasar Santa.
Padahal dahulu daerah Blok Q dan Blok S itu pernah hampir setiap hari saya
satroni sebab ada satu tante favoritku yang tinggal di Jl. Ciomas, yang
usianya tidak berbeda terlalu jauh dari saya. Namun karena tidak hapal
landmark, pertama saya salah belok kiri, kecepatan nikungnya di jalan ke
arah Kalibata Pasar Minggu :-(. Kutelepon prenku Pa Aji minta petunjuk dan
memang Tendean mah bukan kesitu masuknya tetapi lebih ke barat. Kubalik-arah
ke Gatot Subroto dan ketemu papan guede bertuliskan Blok M, Santa. Hatiku
berbinar melihatnya dan begitu melihat jalanan ke kiri, kumasuki. Salah lagi!
Itu mah Jl. Tegal Parang dan meski pun sudah dibacakan oleh kenekku, tetap
saja saya teruskan perjalanan (sebab sempit untuk bisa U-turn) untuk buang
waktu 15-an menit disitu, balik lagi ke Gatot Subroto sebelum menemukan Jl.
Kapten Tendean yang sebenarnya. Duh, malu-maluin anak Betawi banget aye :-).
"Weyo weyo weyoooo," bunyi sirene berbunyi di jalanan dari Semanggi menuju
Tomang ketika saya cabut seusai pertemuan silahturahmi dengan prensku IBMer.
Kuminggir ke arah kanan sebab kendaraan bersirene itu ada di kiriku. Kupikir
ambulans yang sedang bergegas menuju rumah sakit membawa seorang korban.
Ja'ul bin kurang ajar, pejabat negara yang tidak mau ikut mengalami sengsara
macetnya jalanan di ibu kota. Begitulah prens sadayana, sampai kuda makan
kue talam, kita semua rakyat jelata akan tetap mengalami kemacetan di kota
ini lantaran para pemimpin bangsa ente, TIDAK MENGALAMINYA! Kujadi teringat
bos, chief executive officer TTC, PPD-nya Toronto, setiap hari ke kantor ia
naik kendaraan umum alias bis/kereta TTC. Jadi sebego-begonya TTC, masih ada
harapan lach yauw untuk diperbaiki dari waktu ke waktu sebab yang jadi bos
akan mengalami derita yang dialami para penumpang kalau servisnya mengenaskan.
Tidak demikian halnya di negeri antah berantah ini.
"Bagaimana hasil pertemuan warga milis serviamTO tadi?," tanya seorang prenku
anak Toronto di japri. Bila Anda belum tahu, milis itu adalah perumpian
imigran eks Indo di Kanada, mayoritas tinggal di Greater Toronto Area. Selain
kami-kami yang sudah bervisa PR(permanent resident) Kanada, juga minoritas
terdiri dari beberapa puluh keluarga yang sudah melamar untuk mendapatkan
sang visa alias menjadi wan-wan-sib kami di negeri itu. Sudah bukan rahasia
lagi, sedemikian banyaknya mereka yang sudah jenuh gerah alias ingin
meninggalkan kampung halaman tanah airnya. oleh banyak sebab dan alasan.
Di dalam pertemuan kali ini kami melakukannya secara santai, kekeluargaan
istilahnya :-). Yakni cuma tanya jawab, Q & A, silahkan mau menanyakan
mengenai hal atau masalah apa yang akan dihadapi mereka yang baru landed.
Selain saya yang menjadi pembicara, Bang Roli juga ikut membantu menjawab
pertanyaan yang susah-susah :-). Ia banyak membahas susahnya, kesulitan yang
akan dihadapi dan supaya seimbang, saya mengemukakan beberapa keasyikannya
pindah ke Kanada. Misalnya tidak ada uang pangkal, uang sekolah sampai dengan
si anak masuk universitas, jaminan kesehatan banyak gratisnya, kestabilan
perekonomian dan perpolitikan maupun tentunya keamanan oke punya.
Bang Roli dibantu Winston mengemukakan beberapa hal yang menyukarkan hidup
seperti iklim yang dingin, apalagi di propinsi Alberta misalnya. Sukarnya
mencari pekerjaan sesuai dengan keahlian yang kita miliki, terutama karena
hebatnya saingan di dalam mencari pekerjaan. Sedemikian sehingga sering
dibutuhkan juga KKN alias networking. Tetapi ada satu dua faktor yang karena
singkatnya waktu pertemuan, hanya sekitar 2 jam-an, tidak disinggung di
dalam kami mengemukakan hal-hal yang engga oke pindah atau tinggal di Kanada.
Yakni hal yang bersifat psikologis, tercabutnya kita dari masyarakat tempat
kita dibesarkan selama puluhan tahun, untuk ditransplantasi ke masyarakat
yang terkadang engga sreg atau asing bagi kita. Tadi saya pergi ke Misa yang
puanjang banget upacaranya sebab Paroki St. Bonaventura di Pulo Mas lagi
hajatan 30 tahun berdirinya. Selain si Romo banyak menyanyikan doa-doanya,
juga paduan suara yang manggung, oke sekali. Mendengar banyak lagu-lagu yang
dulu saya kenal dengan baik, menimbulkan kegumbirahan hati yang tak mungkin
bisa kita dapatkan (kembali) bila kita hijrah. Itulah satu contoh kehilangan
yang tak akan sama bagi setiap orang tentunya. Tetapi so pasti akan ada
hal-hal yang membuat beban psikologis dengan kepindahan kita ke negeri yang
asing. Singkatnya, menjadi imigran tidaklah mudah dan bukan untuk semua
orang, terutama bangsa Indonesia yang hidupnya manja :-), ihik ihik.
Sampai berjumpa di kisah selanjutnya, bai bai lam lekom.
|