OEY HAY DJOEN - 'TOKOH KEBANGSAAN'

IBRAHIM ISA / Indonesia Media

Kutulis artikel ini,dalam rangka memperingati Ultah ke-62 Hari

Kemerdekaan Indonesia. Dengan memfokuskan pada tokoh Oey Hay Djoen,

dimaksudkan agar, bersama kita mengkhayati dalam fikiran dan pemahaman

tentang makna KEBANGSAAN INDONESIA. Bahwa nasion ini, selain terdiri

dari sukubangsa-sukubangsa, yang sering disebut BUMIPUTERA atau

PRIBUMI, bahwa bangsa yang sedang tumbuh dan berkembang ini,

bagian-bagiannya, anggota-anggotanya juga terdiri dari pelbagai etnik

asal asing, seperti etnik Tinghoa(ini yang paling banyak ketimbang

lainnya), India, Eropah, Arab, Tamil, dll.

Tidak adanya kesatuan fikiran dan pemahaman mengenai sejarah dan

identitas nasion kita, a.l. menyebabkan sementara fihak dari pelbagai

jurusan, dengan maksud jahat,(baik yang datang dari luar maupun dari

dalam negeri), -- menggunakannya untuk mengadu domba

'kita-sama-kita'. Juga untuk mengalihkan perhatian masyarakat umum

dari masalah yang riil (seperti kemiskinan, ketidak-adilan, korupsi,

kesewenang-wenangan aparat dan birokrasi, ketidaksiapan menghadapi

bencana alam, dsb) yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Kasarnya

mencari 'kambing hitam' untuk lepas tangan dari tanggungjawab sendiri.

Catatan sejarah kita menunjukkan 'aksi-aksi atau kekerasan

anti-Tionghoa' sering digunakan oleh penguasa dan sementara kaum

reaksioner untuk 'mengalihkan perhatian masyrakat' dan atau dengan

gampang-gampangan menuding 'kambing hitam'.

Mengenai apa atau siapa yang dinamakan bangsa Indonesia, atau

bagaimana identitas nasion ini, tidak sedikit yang kurang mamahaminya,

atau punya pemahaman dan interpretasi berbeda. Sebagai contoh

sederhana: mungkin tidak banyak yang tau bahwa salah satu tokoh

penting pejuang kemerdekaan Indonesia, tokoh nasionalis Mohammad Husni

Thamrin, kakeknya, adalah seorang usahawan berbangsa Inggris. Pejuang

kemerdekaan Dr Douwes Dekker, adalah asal Belanda. Mantan Menteri

Republik Indonesia, Siauw Giok Tjan (Kabinet Presiden Sukarno, 1945),

adalah keturunan etnik Tionghoa. Tokoh Nasionalis Mr. Utrecht, adalah

asal Indo-Belanda. Dr.Magnus Franz Suseno, asal Jerman, dll.

* * *

Ada pelbagai pertimbangan mengapa kali tulisan difokuskan pada seorang

tokoh Kebangsaan Indonesia OEY HAY DJOEN, asal etnis Tionghoa.

Pasalnya, ialah, karena dalam sejarah kita sejak abad ke-18

berkali-kali terjadi aksi-aksi, gerakan ataupun kampanye anti-etnis

Tionghoa di Indonesia. Sering dalangnya atau sumbernya adalah

penguasa. Menunjukkan bahwa mengenai asal etnis Tionghoa di Indonesia,

masalahnya tidak sesederhana soal orang-orang asal etnis asing

lainnya. Satu dan lain hal disebabkan oleh jumlah penduduk Indonesia

yang asal etnis Tionghoa jauh lebih besar dari yang asal etnis

lainnya. Juga kedudukan asal etnis-Tionghoa dalam masyarakat, di

lapangan kegiatan ekonomi negeri sedemikian rupa, sehingga menimbulkan

macam-macam soal. Sehingga amat mudah dilakukan penghasutan rasialis

yang bermuara pada kekerasan dan pembunuhan.

* * *

Penamaan atau titel sebagai 'TOKOH KEBANGSAAN', untuk OEY HAY DJOEN,

bukanlah penemuan atau karanganku sendiri. Penamaan tsb diberikan

oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), suatu parpol yang dibangun

pada awal periode gerakan Reformasi. PKB didirikan dan dibimbing

oleh Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Republik Indonesia. Wahid

juga dikenal sebagai salah seorang pimpinan penting NU. Selain itu

Gus Dur diakui sebagai salah seorang kiayi Islam Indonesia dewasa

ini. Wahid dihargai dan dihormati karena pandangannya yang konsisten

demokratis, pluralis dan sekular.

Penamaan sebagai 'Tokoh Kebangsaan' untuk Oey Hay Djoen, dinyatakan,

ketika PKB memberikan 'GUSDUR AWARD' (Juli 2007) kepada Oey Hay

Djoen sebagai pengakuan dan penghargaan atas peranan positif Oey Hay

Djoen dalam kehidupan dan kegiatan sebagai orang Indonesia.

Siapapun , atau lembaga manapun yang menamakan Oey Hay Djoen sebagai

TOKOH KEBANGSAAN, nama itu sepenuhnya tepat. PAS pada tokoh OEY HAY

DJOEN. Dengan itu dinyatakan (diingatkan) kepada seluruh bangsa,

bahwa sebagai seorang 'keturunan' Tionghoa, jelas, --- Oey Hay Djoen

-- , memang sejak masa mudanya adalah pejuang konsisten demi

kemerdekaan Indonesia, demi keadilan dan kemakmuran bagi bangsa.

Sebagaimana halnya banyak tokoh-tokoh keturunan Tionghoa lainnya,

antara lain, Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, Tan Ling Djie, Tan Po

Goan, Oey Tjoe Tat, Tjoa Sek In, Yap Thian Hien, dan banyak lainnya ,

mereka-mereka itu:

----- Adalah bagian dari potensi politik nasion Indonesia, bagian

dari kekuatan REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA. Yang telah mengabdikan

bagian terpenting dari kehidupan mereka pada negeri dan nasion Indonesia.

* * *

 

Tahun 1960-an, ketika itu, aku sesungguhnya baru mengenalnya sebagai sebagai salah

seorang tokoh pimpinan Lekra, Lembaga Kebudayaan Rakyat. Orangnya

sangat energetik. Luar biasa hangat terhadap kawan, serta punya rasa

solidaritas yang tinggi. Selalu gembira dan antusias. Lebih-lebih lagi

ia optimis terhadap haridepan bangsa dan tanah air.

Kemudian terjadilah 'G30S', 1 Oktober 1965'. Hari itu dimulai kudeta

merangkak Jendral Suharto. Presiden Republik Indonesia Sukarno

digulingkan. Peneliti (Researcher) John Rosa, dalam bukunya yang

terbit tahun lalu, menamakan 'G30S, 'A pretext for a mass murder'.

Dalam peristiwa 1 Oktober itu, enam orang jendral dan seorang perwira

muda TNI dibunuh. 'Gerakan 30 September', menurut pernyataan para

pencetus dan pelakunya sendiri, melakukan gerakan militer mereka

dengan tujuan, untuk menggagalkan rencana Dewan Jendral yang

berrencana mengkup Presiden Sukarno. Tujuan mereka adalah untuk

menyelamatkan Presiden Sukarno.

 

* * *

Oey Hay Djoen, yang ketika itu adalah anggota DPR (sebelumnya anggota

Konstituante RI), juga 'diamankan' dan dikirim ke pulau pembuangan P.

Buru. Empatbelas tahun Oey Hay Djoen dipenjarakan oleh Orba bersama

ribuan warganegara Indnesia tak bersalah dan setia kepada Republik

Indonesia. Apa salah mereka? Sebagian besar dari mereka tidak

mengetahui apa salah mereka, bahkan tidak tahu apa tuduhan yang

difitnahkan pada mereka.

Oey Hay Djoen, sebagaimana ribuan warganegara tak bersalah lainnya,

dibuang ke P Buru pada tahun 1969, tanpa proses pengadilan yang

bagaimanapun. Sesudah 10 tahun meringkuk dan merana di pulau

pengasingan itu, ia 'dibebaskan' dalam bulan Desember 1979. Rezim

Orba melepaskannya dengan dengan pernyataan: Tidak terdapat cukup

bukti akan keterlibatan dengan G30-S (1979-1998). Lepas dari pulau

Buru, Oey Hay Djoen hakikatnya masih tetap tidak bebas. Karena,

sebagai ET - Eks Tapol, duapuluh tahun lamanya, sampai 1998, ia

harus melapor sekali seminggu - kemudian sekali sebulan -- pada

instansi KODIM - sebagai tahanan kota.

Mengapa Oey kemudian tidak perlu lagi lapor sejak tahun 1998?

Sebabnya jelas! Adalah Gerakan Reformasi yang menggelora dan

menggulingkan Jendral Suharto, itulah yang menyebabkan, Oey Hay Djoen

dan banyak ET lainnya tidak perlu melapor lagi kepada aparat.

Sebenarya perlakuan Orba selama lebih dari tigapuluh tahun, merupakan

pelanggaran HAM yang amat biadab, merupakan 'CRIME AGAINST HUMANITY'.

Kejahatan terhadap kemanusiaan. Menahan dan membuang warganegara

sendiri yang tidak bersalah, tanpa proses pengadilan apapun. Membunuh

dan 'menghilangkan' banyak orang tak bersalah.

Namun, 'warisan Orba tsb', yang merupakan kejahatan yang bukan main

kejamnya dan luar biasa luas skalanya, tokh masih belum diurus dan

ditangani pemerintah. Para korban masih belum DIREHABILITASI nama

baik serta hak-hak politik dan hak-hak kewarganegaraannya. Meskipun

pemerintah-pemerintah silih berganti sejak jatuhnya Suharto sering

bicara soal Reformasi, Demokrasi dan Rekonsiliasi.

Nasib Oey Hay Djoen ini, 'masih untung', kata sementara orang di

kampung. Karena Oey tidak 'dihabisi', tidak dibunuh. Pada masa

berkecamuknya teror Jendral Suharto terhadap warganegaranya sendiri,

banyak orang-orang Kiri dan PKI yang pada tengah malam buta, diangkut

dari rumah masing-masing dengan truk-truk militer. Dan . . . . mereka

tidak kembali lagi untuk selama-lamanya. Sampai dewasa ini, ribuan

istri, ibu, bapak, adik dan abang tidak mengetahui dimana orang-orang

yang mereka cintai itu dikubur.

* * *

Tidak sedikit para ET - Eks Tapol -- yang tidak tahu apa yang harus

mereka kerjakan, sesudah mereka dilepas dari penjara. Karena kampanye

Orba terhadap mereka (a.l. peraturan 'bersih lingkjungan'), yang

hakekatnya adalah 'chracter assassination' terhadap orang-orang

Kiri dan pendukung Presiden Sukarno, para Eks-Tapol dianggap manusia

yang martabatnya lebih rendah dari kaum 'kasta Paria', kasta terrendah

di kalangan pengikut Hindu. Mereka sering juga disebut 'the

untouchables'. Sesudah lepas dari penjara, para ET tidak mungkin

mencari pekerjaan di lembaga pemerintahan, meskipun tadinya banyak

yang pegawai negeri , bahkan tidak sedikit yang tadinya pejabat tinggi

kementerian, dsb. Bagi Oey Hay Djoen, kesulitan-kesulian sesudah

'dibebaskan' dari pulau Buru, dihadapinya sebagai tantangan dalam

perjuangan demi cita-cita mulya untuk keadilan dan pembebasan dalam

arti kata sebenarnya dari rakyat Indonesia.

Setelah ia `bebas dari pulau Buru', dengan tekad mantap dan semangat

tinggi, Oey melakukan kegiatan dalam rangka membantu generasi muda

Indonesia untuk memperoleh literatur berguna. Oey mulai secara khusus

menerjemahkan buku-buku pengetahuan dan teori ilmu sosial, politik

dan ekonomi. Umumnya literatur progresif dan sosialis.

Memahami arti penting literatur progresif, Sosialis dan Marxis yang

oleh rezim Orba dilarang dan dimusnahkan, Oey Hay Djoen memncurahkan

segenap tenaga dan fikirannya untuk mengisi kekosongan akan literatur

Sosialis. Tidak kurang dari 29 karya-karya hasil pemikiran para

peneliti ilmu sosial dan ekonomi, teoretikus-teoretiks sosialis dan

Marxis yang telah diterjemahkan oleh Oey Hay Djoen. Antaranya,

misalnya buku klasik Karl Marx dan Frederich Engels, Das Kapital

Jilid, 1,2 dan 3. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam

literatur sosialis berbahasa Indonesia di sepanjang sejarah kita. Juga

karya Prof. Dr W. F. Wertheim, 'Gelombang Pasang Emansipasi'. Kemudian

karya progresif mutakhir karangan Dan Lev dan Ruth McVey, 'MAKING

INDONESIA', juga sudah diterjenmahkan oleh Oey Hay Djoen. Dan banyak

lainnya lagi.

 

Dalam kegiatannya, khususnya untuk menerbitkan, Oey Hay Djoen,

bekerjasama dengandan mendapat bantuan sejumlah penerbit seperti

penerbit buku bermutu HASTA MITRA. Untuk itu Oey Hay Djoen dibantu oleh sejumlah

kawan-kawannya, Editor Jusuf Isak, serta dari golongan muda seperti

cendekiawan Hilmar Farid, dll.

 

Kutulis artikel ini untuk menggaris-bawahi, bahwa penganugerahan

'GUS DUR AWARD' kepada Tokoh Kebangsaan OEY HAY DJOEN, SEPENUHNYA TEPAT!

 

       

 


FastCounter by bCentral