Ayam Betawi

Iftar Darpi / Yani / Indonesia Media

Pemuda enerjik ini dipanggil oleh kawan-2nya dengan nama Yani, menjalankan rumah makan ayam goreng ini mengikuti jejak sang ayahanda dan ibunda. Sang ayah yang bernama H. M. Noor dan sang ibunda bernama Hj. Nurlailah pada tahun 1975 membuka sebuah warung makan di jalan Mampang Prapatan Raya. Namun dengan perkembangan kota Jakarta , warung ini digusur untuk pelebaran jalan. Saat itu mayoritas pelanggannya hanya sebatas driver dan karyawan Blue Bird.

 

Kemudian setelah penggusuran mereka membuka rumah makan sederhana di jalan Buncit III Jakarta, yang sekarang bernama jalan Mampang Prapatan VI dengan nama rumah makan Ayam Goreng H. H. M. Nur. Dengan kepindahan ini, pelanggannya merambah ke karyawan-karyawan di dearah Kuningan, Gatot Subroto, dan sekitarnya. Penulis sendiri mulai mencoba makanan dirumah makan sederhana ini sejak tahun 1993. Para pelanggannya saat ini terlihat banyak karyawan bank swasta nasional dan swasta asing, terlihat dari seragam karyawannya.

 

Pada tahun 1993, mereka menambah cabang di jalan Duren Tiga, Jakarta . Rumah makan sederhana ini, dinamai Rumah Makan Ayam Goreng Hj. Nurlailah, dan pada saat makan siang dipenuhi oleh para pegawai kantor-kantor disekitar Pasar Minggu, Kali Bata, dan Pancoran berdatangan untuk menyantap makanan yang lezat ini.

 

Dengan menu sederhana dan cara penyajian yang sederhana, rumah makan ini meningkatkan penjualan dengan kerja keras dan penyajian cepat. Menu rumah makan ini hanya ayam goreng, sop iga sapi, dan tahu/tempe goreng. Dan tidak lupa sambal terasi rumah makan ini yang membuat para pengunjung lupa daratan pada saat menikmati ayam goreng. Sop iga sapinya pun sangat enak, walaupun agak sedikit berlemak, namun dengan minum es jeruk ataupun the panas, lemak ini dapat larut. Sayur asam pendamping ayam goreng, wokeee banget deh.

 

Pada saat penulis menanyakan tentang flu burung, Yani menjawab bahwa issue flue burung menyebabkan penurunan penjualan rumahmakannya. Yani menambahkan bahwa tidak usah khawatir tentang flu burung, ayam yang dignakan selektif, dan cara masakpun ayam-ayam ini pada waktu setelah pemotongan, direndam dalam air panas untuk dicabuti bulunya. Setelah dicabuti bulunya dikeluarkan isinya dan dicuci kembali, dan dicuci bersih, diberi bumbu, dan diungkep sampai bumub meresap. Setelah bumbu meresap ayam dimasukan kedalam lemari es, dan bila diperlukan untuk digoreng baru dikeluarkan.

 

Hanya satu yang kadang dapat mematahkan keinginan makan dirumahmakan ini, yaitu mereka tutup sampai dengan jam 3 sore. Mereka tidak buka pada malah hari. Ketika ditanya oleh penulis, Yani menjawab bahwa keluarga mereka ingin berbagi rejeki dengan pedagang disitu, terutama yang mereka yang berdagang makanan dimalam hari.

 

Dari cabang ini saja, mereka berpendapatan kira-kira Rp. 3 – 4 juta perhari. Pada saat penulis datang, sekitar jam 2 siang, terlihat sepi. Namun penulis hanya dapat menikmati 2 buah ayam goreng dan sayur asam. Ketika ditanya kenapa hanya tinggal 2 ayam goreng, rupanya banyak pesanan-pesanan antaran kekantor dan sudah selesainya jam makan siang. Menurut Yani, penjualannya untuk antaran 40% dari total penjualan.

 

Jadi bila Anda sedang berkunjung ke Jakarta dan ingin menikmati ayam goring yang lezat, Anda dapat mengunjungi rumah makan sederhana ini. Mudah-mudahan, penulis dapat menambah tulisan baru untuk restoran-restoran lainnya, baik yang moderen maupun tradisional, dimajalah tercinta ini.

 

       

 


FastCounter by bCentral