|
|
Takut Tak Bisa Menjawab Nya
Lebih dari itu, kita adalah bangsa yang berstatus sebagai produser TKI legal dan ilegalnya di negeri jiran.
Dokter RSUD Ulin Banjarmasin
/ Indonesia Media
Harus diakui, Indonesia pada 2007 bukan lagi Indonesia pada 1945. Masalah yang dihadapi Indonesia pada 2007 sungguh berbeda dan sangat lain substansi dan urgensinya, dengan yang dihadapi Indonesia pada 1945.
Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus l945 dan Indonesia lepas dari cengkeraman tentara pendudukan Jepang yang kalah dalam PD II serta ancaman bercokolnya kembali pemerintahan kolonial Belanda, teriakan merdeka sangat relevan dengan obsesi paling mendasar dari perjuangan suatu bangsa jajahan untuk merebut kedaulatannya. Merdeka yang menjadi kata sapaan, pembukaan bagi setiap pidato dan yang kita teriakan penuh semangat, tidak lagi sekadar sebuah slogan tapi sekaligus menjadi puisi yang menggetarkan perasaan kebangsaan kita.
Lalu, tatkala kita merayakan Hari Proklamasi yang ke 62 tahun ini, teriakan merdeka dipastikan berkumandang lagi di Istana Merdeka, di Lapangan Monas, di halaman kantor kecamatan, kelurahan, RW dan RT. Tapi adakah kata yang begitu luhur pada 1945-an itu kini masih menggetarkan kalbu? Tidakkah terasa, kata merdeka itu telah kehilangan daya getarnya karena ia menjadi bunyi belaka, sekadar slogan dan tidak lagi menyebarkan puisi? Apa sebenarnya yang berubah dalam kehidupan kebangsaan kita?
Barangkali lantaran dulu pada 1945 kemerdekaan adalah obsesi yang masih perlu dilengkapi dengan kedaulatan, sehingga merdeka menjadi satu priotitas dalam agenda perjuangan bangsa. Sedangkan sekarang, 2007 di abad 21 ini, merdeka menjadi realitas nasional. Meskipun, sebuah realitas yang memprihatinkan Indonesia merdeka sudah dengan atau tanpa teriakan Merdeka.
Yang belum justru Indonesia Mulia. Kita tampil selama 62 tahun sebagai bangsa yang merdeka. Tapi selama itu kita belum berhasil menjadi bangsa yang mulia. Terbukti, kita adalah bangsa yang hampir seluruh pejabatnya merdeka untuk korupsi sehingga tercatat sebagai bangsa paling korup di dunia. Kita adalah bangsa yang konglomerat dan bankirnya merdeka untuk menjarah uang negara. Lebih dari itu, kita adalah bangsa yang berstatus sebagai produser TKI legal dan ilegalnya di negeri jiran. Ini terang-terangan menunjukkan posisi inferior kita sebagai bangsa kuli: kuli bangunan, kuli perkebunan, kuli di rumah majikan di negeri orang.
Barangkali sudah waktunya kita menyusun agenda arus perjuangan kebangsaan kita. Yaitu, bagaimana mencapai Indonesia mulia tanpa korupsi tanpa kongkalikong konglomerat, tanpa jadi kuli yang terlunta-lunta di negeri tetangga. Sebab, tak ada Indonesia Mulia tanpa Indonesia Merdeka. Sedangkan Indonesia Merdeka ternyata tidak dengan sendirinya, berarti Indonesia Mulia .
Lalu, haruskah kemerdekaan kembali berjalan surut dengan pemerintahan sekarang? Kita masih harus menunggu. Bisa jadi, kata merdeka nanti menjadi makin mahal jika pemimpin kita sekarang tak hati-hati. Kecemasan bisa terus mewarnai bangsa ini kalau mereka tak segera mengambil berbagai inisiatif. Kemerdekaan memang bukan tanpa batas. Ia harus berada dalam beranda tatanan hukum yang telah disepakati bersama.
Akhirnya, penanganan perkara korupsi di negeri ini hanya menimbun kecewaan publik. Nilai kemanusiaan pun tererosi sedikit demi sedikit. Tidak salah kalau tudingan pun ada di pundak pemimpin. Mungkin, kita hanya miskin keteladanan. Atau barangkali pemimpin kita bisa mencontoh Umar bin Abdul Azis yang sederhana dan menjauhi kemewahan. Usai dilantik jadi khalifah, misalnya, beliau justru murung dan menangis di kamar. Istrinya, Fatimah heran mengapa suaminya tidak mensyukuri kenikmatan tersebut.
"Hai Fatimah, aku telah mengemban beban berat untuk mengurus umat. Terpikir olehku nasib si fakir dan miskin yang kelaparan, mereka yang sakit telantar, mereka yang tidak bisa membeli pakaian, kaum teraniaya banyak anak tapi miskin harta. Sosok semacam itulah yang tersebar di pelosok negeri ini," kata Umar. Lalu apa yang kanda pikirkan? tanya istrinya. Jawab Umar: "Aku ingat, Tuhanku akan bertanya dan minta pertanggunganjawabku di hari kiamat kelak. Aku takut jika tidak bisa memberi jawaban itu kepada Nya. Itulah sebabnya aku menangis."
Memang, menjadi pemimpin itu mestinya memberikan yang terbaik kepada yang dipimpin. Bukan cuma menjaga kursi dari rongrongan, mengurusi partai atau bangga berjalan di hamparan karpet merah. Atau, puas dikawal mobil bersirene meraung-raung yang menakutkan kendaraan lain. Merdeka memang tak pernah selesai.
| |