Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air # 54
Jusni Hilwan / Indonesia Media
"Jalanan semakin macet," kata Romo Sandy yang sehari-harinya tukang ukur jalan
atau keliling kota kemana-mana. Tidak salah lagi, busway atau jalur eksklusif
yang dipakainya, memberi andil yang besar di dalam menambah kemacetan lalin
di kota Jakarta ini. Tampak nyata bila kita melalui jalan yang sedang macet
parah, eh ja'ul satu jalur di sebelah kanan kita kosong melompong karena
itulah jalur busway. Inilah contoh bikin proyek pakai otak di dengkul pejabat,
yang penting beliauw-beliauw sudah bisa jalan-jalan meninjau ke La Paz,
Bolivia, yang dijadikan contoh soal suksesnya busway. Padahal mana nempil
kota yang penduduknya sejutaan tersebut dibandingkan dengan Betawi yang
cuma Jakartanya saja berpenduduk 8 juta (tambahkan dengan penduduk Depok
Bogor Tangerang Bekasi beberapa juta lagi) plus jumlah kendaraan bermotor
sekitar 2.8 juta. Akibatnya, kalau di kota lain pengangkutan umum semakin
maju seperti lewat monorail di udara atau subway di bawah tanah, Indonesia
persisnya Jakarta mundur beberapa ratus tahun. Kog? Yah suwer prens, di
beberapa bagian kota, sekarang kita bisa naik delman atau andong. Kereta yang
ditarik kuda! Acungan jempol patut kita ajukan ... kepada ... sang kuda.
Suatu ketika kubertemu dengan si kuda di suatu tanjakan dari Jl. Pramuka
menuju Jl. Proklamasi. Ia tenang sahaja naik melaju, suatu perilaku yang
bagus untuk dicontoh manusia, terutama Anda-anda yang suka ikut Jeha Outfitter
trip camping canoeing ke cagar alam di propinsi Ontario :-).
Kemarin saya ke kantor pos pusat di Pasar Baru ke bagian pengiriman paket
luar negeri. Tujuanku mengirimkan satu box indomie ke seorang sahabatku di
Kerala, India. Ongkos kirimnya sepertiga dari kalau kulakukan dari Toronto.
Jadi setiap saya pulkam, kulakukan. Dulu masih bisa dikirim dari kantor pos di
Jl. Rawamangun. Sekarang harus ke kantor pos pusat. Ketika masih di Rawamangun
bebas pungli. Namun saking sudah membudayanya korupsi di negeri antah berantah
ini, pungli pun sukarela sifatnya :-). "Minta stempel ke atas Pak," kata
tukang bungkus paket tsb. Oya, kukira hanya di kantor pos Republik Indonesia
ada jasa istimewa di dalam ruang kantor pengiriman. Yakni pembungkusan dos
paket kita dengan karung plastik dan dijahit pakai tali rafia. Ongkosnya
berdamai alias tawar menawar. Dari Rp 15 ribu saya tawar sampai 8 ribu doang.
Soalnya kalau tidak ditawar, merusak harga pasar dan kasian kan Anda-anda
yang nanti membutuhkan jasa tersebut :-). Ketika si abang mulai menjahitkan
plastiknya ke dos indomie, saya bertanya, "Kog belum ke pabean udah ditutup?"
Jawabannya adalah: "Kasih 10 rebu perak aja Pak, sukarela". Jadi ya saya
ikuti dong kebiasaan anak Indo bila sedang di Indo, naik ke ruangan atas
tempat paduka tuan bea cukai bertahta, menyodorkan formulir pengiriman yang
sudah saya isi untuk distempel, dan sebagai tanda terima kasih banget
kukepitkan upeti a la kadarnya buat paduka. Begitulah sistim gotong royong
kita, saling membantu sesama manusia di Indonesia ini :-). Akan halnya
bagian pengiriman atau kang pos sendiri, tinggal kita bulatkan saja ongkos
kirimnya, misal Rp 161 ribu sekian, kita berikan 165 dan tidak perlu minta
uang kembalinya sebab itu hanya dilakukan oleh bukan orang Indonesia :-).
Anda yang di Indo tentu maklum bahwa di tanggal 10 Juli kemarin dulu, tim
sepakbola Indonesia berhasil mengalahkan Bahrain. Koran-koran memuat betapa
hebat atau serunya pertandingan tersebut dan pelatih tim RI, Ivan Kolev
mengucapkan terima kasih kepada kedua anakku dan sepupu-sepupunya :-). Kog?
Ya, mereka ber-10 menonton pertandingan tersebut di kelas VIP alias lumayan
dekat ke lapangan dan saking hebatnya mereka berteriak-teriak ngejagoin
tim Indo, beberapa di antaranya habis suaranya setengah permainan :-). Oom
Ivan mengatakan bahwa dukungan supporter yang meneriakkan yel-yel Indonesia,
membuat anak-anak asuhannya bermain penuh semangat. Juga Anda yang di
Indo
dan baca koran mungkin maklum akan betapa susahnya mendapatkan karcis untuk
pertandingan tersebut. Atau beli di tukang catut 3 kali lipat atau antri
beberapa jam. Namun, berkat strategi Alfa dan Jeffrey kedua sepupu, mereka
berhasil mendapatkan 10 lembar karcis, dianterin petugas penjual tiket lagi.
Alfa dan Jeff memang gila bola, yang satu fans tim Ajax dari Belanda dan
yang lainnya Manchester United dari Inggris. Sudah sejak di TO Alfa bertekad
nonton pertandingan Indonesia lawan siapa saja di Kejuaraan Piala Asia ini,
Ketika Jeff berusaha memperoleh karcis lewat telepon suatu nomor panitia,
ia menghadapi birokrasi alias disuruh beli di loket, antri saja. Ia lalu
menyuruh Alfa untuk telepon dan ngomong pakai bahasa Inggris. Tak sia-sialah
prens sadayana, kita bapak ibuk yang atau hijrah ke luar batang jadi imigran
atau sekolahin anak di luar negeri. Perilaku panitia menjadi lain ketika
Alfa mengaku sebagai turis dari Kanada dan ingin membeli karcis VIP 10 lembar
untuk menonton bersama sohibnya (ada benarnya, mereka ajak 2 supir Pak Inen
dan Yus yang sudah puluhan tahun menyupiri Jeff). Singkat cerita, panitia
datang sendiri membawa 10 lembar karcis ke mereka yang menunggu di Hotel
Mulia, tidak sampai sejam. Bukan main memang keramah-tamahan bangsa ini
terhadap "orang asing". "Was he shocked to find out that you are not bule?,"
tanyaku ke Alfa. "I don't care, he is already committed," katanya.
Begitulah ceritanya kenapa tim RI bisa menang 2-1 lawan Bahrain sebab setelah
pertandingan di atas, tidak sekali pun mereka menang lagi, lantaran para
supporter mereka yang dari Kanada sudah balik ke rumah.
Tiada kunjungan ke Indo ini yang sreg sebelum bini kita bisa berbelanja di
factory outlet di Bandung :-). Itu sebabnya meski sudah sekali diajak kesana
oleh sepupunya, isteriku Cecilia mengulang pergi lagi kemarin dan saya
tentu tak mau ketinggalan. Bukan main prens, berbis-bis turis dari mancanegara
sekarang ke Bandung hanya untuk ke FO-FO. Yang bikin sregnya adalah jalan
tol lewat Cikampek yang membuat lamanya perjalanan cuma 2 jam, ketimbang
bisa 20 jam kalau lewat Puncak di waktu malam Tahun Baru :-). Dapat saya
saksikan, setelah kami sedua-keluarga membantu perekonomian Indo bahwa memang
mutu barang yang dijual di FO itu oke punya. Bukan saja dari merek-mereknya,
juga ketahuan dari bahannya maupun harganya. Beberapa pakaian ada label
harganya di dalam dollar dan satu kemeja yang kubeli, Esprit, di Kanada
65 dollar, di Bandung sekitar 10-an dollar. "Aku puas sekali," kata Alfa
seusai belanja, kepada sepupunya Feli dan suami yang mengantarkan kami.
Itulah asyiknya kunjungan ke Indo bila gaji kita di dalam dollar. Sampai
seri mendatang, bai bai lam lekom.
|