|
|
Nyulik Raisah Siap Jihad
.poskota.co.id
/ Indonesia Media
Satu jaringan organisasi Islam terlarang diduga kuat berada di balik sindikat penculikan Raisah. Hal ini terungkap dalam buku harian tersangka Firnando Azisco. Pelajar kelas 3 SMA 35 yang rajin beribadah dan pintar mengaji ini mengidolakan salah seorang tokoh agama yang diseganinya bernama YA.
Catatan buku harian tersebut ditemukan oleh Ny. Zuzi Zalmed, 38, ibu kandung Firnando Azisco. Ditemui di rumahnya Jalan Petamburan II Rt 11/03, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Ny. Zuzi mengaku, awalnya ia mengira sang anak diringkus petugas karena terkait jaringan terorisme. Namun, ia tidak menyangka kalau sang anak terlibat dalam kasus penculikan yang menggemparkan. .
Ungkapan itu terlontar dari mulut ibu empat anak ini, mengingat tingkah laku sang anak berubah semenjak ikut organisasi kerohanian di sekolahnya di SMA 35, Jalan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakpus. "Sejak itu Edo (panggilan akrab Firnando) jarang pulang dengan alasan belajar di rumah teman," ungkap Zuzi, Jumat petang.
Didampingi Jimmi Darlen, 38, suaminya, Zuzi mengaku baru mengetahui anaknya terlibat kasus penculikan dari wartawan dan belum mendapat konfirmasi dari polisi. " Dalam buku harian itu anak saya menulis bahwa ia siap jihat dan mati di jalan Allah adalah cita-citanya. " kata Ny. Zuzi.
Lantaran perubahan perilaku anaknya itu, Zuzi mulai melarang sang anak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler mengaji di sekolahnya, tapi Firnando menolak. "Perilaku Edo makin bertambah aneh sejak berkenalan dengan seseorang yang disebutnya bernama YA seorang seniornya di organisasi Rohis pada bulan Juni 2007," kata Zuzi.
Sang anak terlihat sangat mengidolakan sosok YA, yang dianggapnya sebagai kakaknya. Dari pengakuan Zuzi, sang anak pernah bercerita tentang YA yang dikatakan Firnando berasal dari tanah Sunda dan akan membiayainya kuliah di kemudian hari.
Namun untuk mewujudkan semua itu, Firnando diharuskan YA mencari uang sebanyak Rp 10 juta untuk membuka toko buku agama. "Edo pun bercerita bahwa ia pernah menginap beberapa hari di rumah YA, yang dikatakannya berada di daerah Pondok Gede dan Cikunir, Bekasi," lanjut Zuzi.
Curiga dengan identitas sosok misterius yang disebutkan sang anak, maka Zuzi memeriksa beberapa buku catatan harian Edo, dan menemukan sebuah catatan anaknya tentang jihad. Dikatakan Zuzi, sejak ayah kandungnya meninggal dunia, saat ia berumur 12 tahun sampai umur 15 tahun, Firnando tinggal bersama pamannya, Azelindo, di Rawamangun, Jaktim. Sejak kenal dengan YA itulah Firnando selalu berbicara tentang jihat.
Kabid Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan, pemeriksaan Polda Metro Jaya yang menangani kasus ini belum mengarah kepada adanya organisasi Islam terlarang di balik penculikan itu. " Sampai saat ini, dari hasil penyidikan, motif dari penculikan yang dilakukan Yogi Cs adalah uang tebusan, belum mengarah ke hal lain, " katanya.
"Untuk motif lain, nanti tergantung hasil pengembangan penyidikan yang saat ini masih dilakukan," kata Sisno yang dihubungi semalam. Sedangkan arah dugaan pelaku berasal dari kelompok atau jaringan tertentu, menurut Sisno perlu pengembangan selanjutnya.
KOMENTAR ULAMA
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan, mengecam pelaku penculikan karena tidak dibenarkan dalam agama.
"Apapaun motifnya harus dikecam sekeras-kerasnya, apalagi tindakan itu dikaitkan dalam agama," cetus wakil ketua umum Majelis lama Indonesia itu, Jumat (24/8) malam.
Betapapun niat mencari uang, dia menegaskan, janganlah dilakukan penyendaraan terhadap seseorang, apalagi anak kecil, yang tentu akan mewariskan dampat psikologis sangat berat
"Saya minta yg melakukannya berempati kalau anak atau adik mereka diperlakukan seperti itu, apakah tidak merasakan kepedihan. Yakinlah Allah SWT Maha cepat membalasnya, di dunia dan akhirat," ujarnya.
WARGA GEMPAR
Sementara itu berita penangkapan terhadap Yanuarisman membuat gempar werga, Bahkan orangtua pelajar SMA ini dibuat sok dan sama sekali tidak percaya dengan kelakuan anaknya yang diluar batas kemanusiaan dan nalar seorang pelajar. "Saya sampai detik ini tidak percaya kalau anak saya melakukan penculikan, itu pasti karena pengaruh temannya," kata Ny. Nurmiyati, ibu tersangka , didampingi suaminya. Pelaku yang merupakan anak dari 4 bersaudara tersebut dikenal pendiam dan tidak banyak tingka laku yang merepotkan keluarganya.
ISTRI MUDA TERLIBAT
Tersangka Yogi Permana, 28, dikenal sebagai sosok lelaki yang pendiam. Tapi siapa sangka, guru mengaji di SMA 35 ini punya pengaruh dan mampu merekrut tiga murid ngaji di sekolah tersebut untuk berkomplot menculik Raisah Ali Said, 5, kemudian minta uang tebusan Rp 1 milyar.
Begitu juga dengan Ny. Sarita Angraini, 26, Istri muda Yogi Permana. Wanita muda ini juga menjadi guru ngaji Raisah dan dikenal pribadi yang santun dalam keluarga Ali Said. Yang mengejutkan, pasangan ini menjadi dalang kasus penculikan siswi TK Al-Ihsan tersebut.
Dalam aksinya, suami istri itu tidak sendiri. Mereka dibantu tersangka, Anggana Harjakusuma, 29, Budi Haryanto, 16, Januarisman, 16, dan Firnando Aizsco, 17. Ketiga tersangka terakhir ini adalah siswa SMA 35 yang direkrut Yogi Permana menculik Raisah.
Kawanan penculik anak Ketua II Hipimi Ali Said ini berhasil ditangkap Reserse Kejahatan Keras Polda Metro Jaya, Jumat (24/8) pagi di daerah Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Sedangkan Ny. Sarita Angraini dibekuk di Tasikmalaya, Jumat (24/8) petang.
Dalam wawancara khusus dengan Pos Kota, Yogi Permana menjelaskan, niat untuk menculik itu sudah direncanakan. Pasalnya, pria yang hobi memelihara jenggot dan disebut-sebut dekat dengan salah satu organisasi Islam yang terlarang itu punya utang Rp 150 juta. " Usaha toko buku saya bangkrut. Saya punya utang dengan teman bisnis. Untuk membayar utang ini, saya menculik Raisah kemudian minta tebusan Rp 1 milyar, " kata tersangka ini berdalih.
Untuk memuluskan niat jahatnya itu, Yogi minta bantuan Ny. Sarita, istri mudanya yang mengajar Raisah mengaji. Dari sang istri inilah Yogi mendapat gambaran kalau Ali Said keluarga kaya. "Saya jadikan target Raisah karena saya tahu persis keluarganya orang berada," aku Yogi terus terang.
MURID NGAJI DIREKRUT
Seminggu sebelum penculikan, Yogi menemui tersangka Januarisman, Budi Haryanto, dan Firnando Azisco. Tiga siswa SMA 35 ini dikenal dekat Yogi dan mereka juga berstatus murid ngaji Yogi. Murid ngaji ini direkrut menculik Raisah. Selain itu, Yogi juga mengajak Anggana Harjakusuma, alumni SMA 35. Pria ini diajak karena memiliki kendaraan yang dipersiapkan untuk operasional.
" Kalau aksi ini berhasil, saya akan memberi imbalan buat anak-anak ini masing-masing sebesar Rp 50 juta," kata Yogi.
Waktu penculikan ditetapkan pada 15 Agustus 2007. Saat itu, Raisah ditemani Linda, 20, berboncengan motor pulang sekolah di kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede. Di depan TK tersebut, mobil yang ditumpangi pelaku menghadang Raisah. Murid TK dipaksa masuk ke mobil.
" Selama di tangan kami, Raisah ditemani istri saya dan pelaku lainnya. Kami membawa Raisah jalan-jalan ke Bandung dan Sumedang, " tambah Yogi.
Yogi menuturkan, saat berada di Sumedang, Raisah sempat diinapkan di Hotel Citra Sumedang. Keesokan harinya, Raisah kembali dibawa ke Jakarta. Selama tujuh hari berada di Jakarta, Raisah tidak pernah menginap di hotel atau rumah, tapi tetap berada di mobil sedan Timor. Jika mau mandi, Raisah diantar ke kamar mandi umum seperti di pom bensin.
Selama Raisah dalam kendali mereka, kata Yogi, dirinya bersama rekan-rekannya tidak pernah pulang. Sambil membawa Raisya jalan, pada 16 Agustus, Yogi menghubungi Ali Said melalui HP. " Kepada Ali Said saya jelaskan kalau anaknya kami culik. Saya minta uang tebusan Rp 700 juta, " ujar tersangka.
Keesokan harinya, Yogi kembali menghubungi Ali Said lewat HP. Setiap kali menghubungi Al said, Yogi mengaku tidak pernah memunculkan nomor handphonenya. Dalam pembicaraan kedua itu, lagi-lagi Yogi meminta uang tebusan. Kali ini uang tebusan naik menjadi Rp 1 milyar. Uang tebusan bisa diantar di kawasan Monas.
Selama berada dalam tangan penculik, Raisah seringkali menangis minta pulang karena rindu dengan Ayah dan Ibunya. Jika terlambat makan, korban selalu menangis. "Raisah paling suka dibeliin rendang dan ayam goreng," kata Yogi, sambil menambahkan, selama Raisah di tangan mereka tidak pernah disakiti. Bahkan, baju ganti Raisah mereka beli.
"Kami tidak punya niat jahat sedikit pun untuk membunuh Raisah. Kami cuma butuh uangnya," tutur Yogi.
Ketika ditanya begitu mudahnya ia merekrut tiga murid ngajinya menculik Raisah , tersangka mengatakan, ia mengajak tiga murid ngaji di Rohis SMA 35 itu karena sudah kenal lama. "Mereka itu murid ngaji saya. Saya siap menerima hukuman yang dijatuhkan pengadilan, " jelas Yogi.
" Tersangka benar mengajar mengaji di SMA 35, " kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Adang Firman.
| |