Mardiyanto Menjadi Mendagri

Indonesia Media

Walaupun disinyalir terlibat dalam kasus korupsi APBD Jateng, Mardiyanto tetap diangkat menjadi Mendagri baru, menggantikan M. Ma'aruf yang menderita sakit. Pengangkatan Mardiyanto ini juga menunjukkan bahwa SBY masih menggunakan paradigma lama, yaitu Mendagri masih perlu seorang jenderal. Dari ketiga calon yang ada, mengapa pilihan SBY jatuh atas Mardiyanto? Berikut wawancara Radio Nederland Wereldomroep dengan pengamat politik Tjipta Lesmana

 

Tjipta Lesmana (TL): Dengan pengangkatan Pak Mardiyanto, ini jelas bahwa SBY masih menggunakan paradigma lama, artinya apa? Mendagri masih perlu seorang jenderal. Pilihannya cuma tiga: Sutiyoso, Yasin dan Mardiyanto. Sutiyoso ini tidak bisa dipilih, karena dianggap orang Megawati.

 

Lalu M. Yasin, dia ini sejak awal belum pernah mendapat job yang bagus begitulah. Jadi ada kemungkinan SBY menganggap dia ini kurang kapabilitasnya, begitu loh. Nah tinggal satu Mardiyanto ini. Memang dekat hubungannya dengan SBY, gitu loh, jadi akhirnya dia yang terpilih.

 

Berpengalaman

Radio Nederland Wereldomroep (RNW): Tapi saya kira perbedaan utama antara Yasin dan Mardiyanto adalah Yasin masuk tim sukses SBY, sementara Mardiyanto tidak.

 

TL: Tidak masuk, tapi dia punya hubungan dekat. Saya gak tahu backgroundnya, tapi semua orang tahu, Pak Mardiyanto dengan SBY punya hubungan dekat.

 

Pertimbangan lain saya kira, Pak Mardiyanto ini sudah berpengalaman. Berpengalaman dalam arti mengelola pemerintahan, walaupun baru tingkat daerah Jawa Tengah. Tapi Jawa Tengah ini kan salah satu propinsi yang terpenting di Indonesia. Artinya siapa yang jadi gubernur di Jawa Tengah, di Jawa Timur dan Jakarta, itu porsinya lebih besar, gitu loh. Jadi dianggap dia berpengalaman.

 

Yasin sama sekali belum punya pengalaman di bidang pemerintahan. Itu faktor lagi saya kira yang dipertimbangkan oleh SBY.

 

       

 


FastCounter by bCentral