Ditemukan setelah 8 Bulan Misterius

Wir / Indonesia Media

Misteri hilangnya pesawat Adam Air KI 574 sejak delapan bulan lalu diharapkan segera terkuak. Harapan tersebut muncul setelah kotak hitam pesawat itu ditemukan di Perairan Majene, Sulawesi Barat. Penemuan kotak hitam tersebut kemarin (28/8) disampaikan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi kepada wartawan.

Keberhasilan mengangkat kotak hitam berupa flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) dari dasar laut itu berkat kerja tim gabungan yang didukung peralatan canggih. Tatang menjelaskan, pengangkatan kotak hitam Adam Air KI 574 tersebut membutuhkan dua peralatan canggih yang tidak dimiliki Indonesia . Alat pertama berupa kapal dengan teknologi DP 1 (dynamic positioning one), yaitu kapal yang tidak memerlukan jangkar, tetapi tetap bisa berada pada posisi semula. "Teknologi itu dimiliki kapal Offshore Tug Supply Vessel berbendera Siprus," katanya.

Teknologi kedua yang dibutuhkan adalah robot bertangan besi yang mampu menjelajah di kedalaman 2.000 meter di bawah permukaan laut. Robot tersebut juga harus memiliki teknologi remote operation vehicle (ROP). Teknologi robot seperti itu dimiliki Phoenix International, Amerika Serikat. "Kita sudah cari teknologi seperti itu, ternyata ada. Bahkan, untuk kedalaman di bawah 6.000 meter di bawah laut pun ada," ungkapnya.

Kedua peralatan canggih tersebut diberangkatkan dari Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, pada Jumat (24/8) pukul 12.45 WIB dengan menempuh jarak sekitar 140 mil untuk mencapai titik koordinat yang tepat. Sebelumnya, Kapal USNS Mary Sears menemukan indikasi dua kotak hitam tersebut pada posisi koordinat FDR di 003.04.329 south dan 118.09.382 east, sedangkan CVR di 003.40.896 south dan 118.08.8566 east.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 12 jam, tim gabungan memulai operasi. Meski mengalami beberapa kendala seperti kapal bergeser dari posisinya dan benturan antara robot dan kapal, semuanya dapat diperbaiki. Pada saat turun ke bawah laut, tim mengaku menemukan beberapa serpihan yang diduga bagian dari pesawat Adam Air. "Tapi, sama sekali tidak ada laporan ditemukannya bagian tubuh manusia selama di bawah," terangnya.

Setelah bekerja beberapa hari, pada Senin (27/8) pukul 10.00 WIB, tim berhasil menemukan FDR di koordinat 003.41.02 south dan 118.08.53 east. CVR ditemukan kemarin (28/8) pukul 10.00 WIB di titik koordinat 003.40.22 south dan 118.09.16 east. "Sebagai langkah recovery, kedua kotak hitam tersebut langsung dimasukkan ke dalam kontainer berisi air agar tetap terjaga seperti kondisi sebelumnya," jelasnya.

Saat ini, kedua kotak hitam tersebut masih berada di kapal berbendara Siprus untuk selanjutnya dibuka dan dianalisis di markas NTSB (National Transportation Safety Board) Washington , Amerika Serikat. Markas NTSB dipilih karena faktor kedekatan dengan produsen pesawat Boeing. "Itu akan dibuka dan dianalisis. Selain untuk mengetahui penyebab kecelakaan, hasilnya bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak agar hal seperti itu tidak terulang lagi di masa mendatang," lanjut Tatang.

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menambahkan, operasi itu melibatkan berbagai pihak. Di antaranya, lima kru Phoenix International, satu orang personel NTSB (National Transportation Safety Board) Amerika Serikat, satu orang personel FAA (Federal Aviation Administration).

       

 


FastCounter by bCentral