|
|
Usaha Resto di Negeri Perancis – Bagian ke-10B
Paris 27 Maret 1999 / Indonesia Media
Andre banyak disukai teman-teman kami. Kalau dia sedang melayani tamu, tidak
sedikit cewek bule melihat dan meliriknya. Dia banyak ditaksir pelanggan-muda kami dari berbagai kantor dan perusahaan sekitar resto yang selalu makan-siang di resto kami.
Sesudah lebih 6 bulan Andre bekerja, dia menyatakan rencananya mau pulang ke
Moskow. Kami tanyakan, apakah pulang dengan pesawat atau dengan kereta-api.
Jawabannya benar-benar sangat mengagetkan kami. Tadinya kami sama sekali tidak
percaya. "Saya mau pulang dengan mobil. Saya sudah beli mobil Mecedes Benz
bekas, second-hand tapi sudah saya utak-atik, dan kuat buat jalan ke Moskow".
"Kamu jangan gila, Andre. Apa kau sudah perhitungkan benar antara Paris -
Moskow itu, begitu jauh dan kau hanya sendirian lagi".
"Percayalah Oom. Setiap hari saya akan menilpun ke Paris , di tempat mana saya
berada. Dan saya percaya bahwa saya akan sampai dengan selamat. Ibu di
Moskow sudah saya beritahu, dan ibu sudah setuju".
Kami semua hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak muda-Indo ini benar-benar
bersemangat tinggi, mengemban cita-cita. Kami kira mobil merci-nya itu
pastilah akan dijualnya nanti di Moskow dan dia membuka suatu usaha dengan
modal sebuah merci itu. Kami renungkan sesudah Andre pulang ke Moskow dan
sesudah kami bekali secukupnya dengan dana alakadarnya, karena pastilah
gajinya selama berbulan-bulan itu dihabiskannya buat memiliki Mercedes Benz
S 300, bekas tapi masih 80 persen katanya.
Tidak sampai 8 bulan, Andre telah mendapatkan dua bahasa. Dia sudah bisa
berbahasa Indonesia dan bahasa Perancis, lalu mendapatkan mobil dan yang
juga cukup penting, kenalan ceweknya di Paris! Setelah dua minggu dan
melalui beberapa negara, kami menerima tilpun dari Moskow, bahwa Andre sampai
dan selamat tiba di Moskow. Dan kami mengurut dada, ada-ada saja pemuda
Indo satu itu.
Resto kami berusaha menegakkan peraturan dan disiplin terhadap kami
sendiri. Tetapi sering-sering juga kami gagal dalam menegakkannya. Kalau
gagal biasanya kami akan "berlindung" dengan kata-kata, "kita ini kan
bukannya orang dagang, tak ada bakat dagang pada kita". Pemaafan pada
diri sendiri ini sebenarnya harus kami kikis, disiplin ya disiplin, tak ada
maaf-memaafkan dalam menegakkan disiplin. Pada kenyataannya selalu ada saja
yang masih bisa bersifat tawar-menawar. Misalnya begini. Ada empat orang
tamu, memesan makanan, yang tiga orang punya hak mendapatkan semangkuk
sup, yang seorangnya lagi tak punya hak tersebut, karena pesanannya lain.
Kami akan tetap memberinya semangkuk sup juga, sehingga semuanya 4 mangkuk
sup. Kata kami "nggak enak masaksih yang satunya nganggur, biar mereka
berempat minum sup sama-sama saja, lagian apa sih harganya hanya semangkuk
sup".
Kalau kami makan di resto kami sendiri, tetapi sedang tidak dalam keadaan
dinas, sedang libur, kami harus bayar. Ketika itu harga sekali makan, makan
apa saja, seharga 15 francs, ini namanya harga-dalam. Kini sudah naik menjadi
25 francs. Sebenarnya harga begini masih tetap murah, sebab kalau di luar
tidak mungkin dapat demikian murahnya. Kalau kami membawa teman atau
mengundang teman, kami dapat potongan antara 10 sampai dengan 30 persen.
Peraturan begini tadinya, pada mulanya sangat sulit ditegakkan. Tetapi lama
kelamaan bisa juga walaupun adakalanya tetap saja tersendat-sendat.
Kami dan teman-teman kami pada umumnya bukan lagi orang muda, tak dapat
dikatakan muda lagi. Umur sudah berkepala empat, lima , bahkan enam. Tapi
kalau soal yang itu sih, tetap saja masih semarak. Misalnya saja kalau ada
pelanggan yang kami kenal, dan pelanggan itu ternyata begitu cantiknya, dan
janda-muda lagi, seorang janda ditinggal mati suaminya yang orang Indonesia .
Wanita ini katakan saja namanya Madame Purbo. Madame ini memang amat
cantiknya, bibirnya selalu basah, dan kalau ngomong sangat ramah, ke dekat
wajah kita.
Kalau Madame ini datang, dan teman yang berdinas di depan, di sal mengabarkan
bahwa Madame Purbo datang makan-malam, maka teman-teman didapur pada
melongok ke luar, membuka sedikit tabir atau gordin-dapur. Tak disadari, dari
jauh, dari ruangan sal depan, kelihatan beberapa pasang kaki teman-teman
dapur pada berbaris, berdesakan seperti orang antri, hanya untuk melihat
Madame Purbo yang bibirnya selalu merah-menyala dan basah itu. Teman-teman
yang berdinas di sal pada ketawa, dan sedikit membentak teman-teman dapur
agar jangan memalukan begitu rupa.
Yah, namanya juga manusia biasalah, seperti halnya siapa saja, tak terkecuali
diriku sendiri.
| |