Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air # 53

 

Bang Madi / Indonesia Media

Kalau saja pekerjaan saya sekarang ini jadi supir dabosku alias bini aye

merupakan profesi, pastilah saya sudah dipecat diberhentikan. Bagaimana

tidak? Di suatu pagi hari pas ia mau ke kapsalon untuk di-meni dan di-pedi,

kunci mobil ternyata ada di dalam mobil yang terkunci. Akibatnya ia harus

naik bajaj sebab kunci cadangan ada di dompet iparku si pemilik mobil.

Karena tahu teori psiko bernama cognitive dissonance, supaya otakku beres

lagi, kusalahkan ketololan mobil-mobil di Indo sebab di Toronto, mobilku

tidak akan bisa di-lock kalau kuncinya ada di dalam posisi kunci kontak

dan mobil sedang berhenti berjalan. Itu baru satu adegan. Di suatu pagi hari

lainnya, hampir mobil tidak bisa kujalankan sebab hanya bisa masuk ke

persnelling mundur. Setelah diberikan kiat sedikit oleh majikanku (ditekan

dong katanya), aku bisa masukkan ke persnelling 4. Bayangin rek para supir,

menyetir mobil manual start pakai persnelling segitu. Kuheran juga sebab

pertanda atau gejala kopling yang sudah aus mah bukan begini. Ternyata baru

belakangan kutahu, kopling tersebut mesti digaet baliknya pakai kaki dari

waktu ke waktu, sebab ia tidak mau balik lagi. Salahku sendiri minta pinjam

mobil yang sejelek mungkin untuk kupakai di kota ini. Ya, hanya bis TNI atau

Metro Mini yang tidak takut "tetanus" yang berani menyenggol Isuzu Panther-ku

saat ini. Parahnya nasibku jadi supir di kota ini, sekarang bosku dua.

Si back-seat driver bernama enyak aye :-), satu lagi dabosku dari Toronto.

Dua-duanya pernah atau bisa nyetir mobil dengan akibat setiap detik saya

mendapat komando. Ga pa pa lach yauw, kata si bule, it is part of the deal.

 

Kemarin saya berkenalan dengan seorang gadis yang dikenalkan kepada anak

bungsuku. Katanya ia tinggal di Sawah Besar dan dari deskripsinya dimana,

saya katakan itu tempat saya paling jauh melepas burung :-). Tentu ia bingung,

maklum ABG. Kujelaskan bahwa anak jaman doeloe memelihara burung dara, si

bule bilangnya pigeon. Karakteristik burung dara adalah kalau ia kita latih,

ia akan mampu pulang sendiri dari tempat yang jauh dari kandangnya. Syaratnya

ia sudah harus berumah-tangga, anak Betawi bilangnya udah punya bini :-).

Cara melatihnya kita lepas ia mulai dari dekat sekali ke kandangnya, katakan

dari seberang jalan, untuk semakin lama semakin jauh. Ia pasti akan pulang

dan tak mungkin, misalnya, ia hianat menclok di kandang burung (cewek) lain

atau selingkuhan :-). Nah, bioskop Alhambra di Sawah Besar tempat teman

anakku di atas tinggal, adalah patokan saya untuk melepasnya sebab kalau

lebih jauh lagi, belum pernah saya coba alias berisiko burungku hilang :-).

Itulah bedanya hobi anak-anak angkatan saya dengan anak jaman sekarang yang

cuma main Internet sehingga perutnya jadi pada gendut semuanya.

 

"Oom, patut dikagumi neh nyetirnya di Jakarta," kata salah seorang ponakanku

yang suatu hari kukuntit ketat dari mulai Tomang sampai ke Kelapa Gading

sebab kami menuju suatu foto studio yang tak kuketahui dimana letaknya dan

saya tak mau kehilangan dia. "Yah lumayan," kataku, "Tapi masih suka eror

sebab tak kenal lapangan atau gedung-gedung, tanda-tanda sepanjang jalan."

Kontraskan dengan sepanjang route TTC nomor 68 di Warden Avenue, yang bila

kutertidur dan bangun, dimana saja kapan saja, cukup melihat sedetik dua

detik keluar, aku sudah akan tahu sedang berada dimana. Itulah kendalanya

menyetir di Jakarta kalau kita bukan orang lokal. Yakni harus terus menyimak

jalanan yang telah dilalui selain memperhatikan tanda dan tulisan lalulintas.

Namun, tetap saja semuanya itu jauh lebih oke ketimbang harus naik kendaraan

umum. Kalau saja saya tidak pernah tinggal di luar Jakarta, mungkin saya pun

akan sreg untuk ber-busway ber-metromini. Kapan lagi kita bisa ketawa-ketiwi

kalau sopir angkot yang kita tumpangi, ngegencet mobil Mercy BMW Jaguar

yang ditumpangi si borjuis, ihik ihik :-). Becanda ye para prensku orkay :-).

 

Kemarin kepiawaianku nyetir di kota kelahiranku kembali diuji, untuk menguntit

ketat supirnya Romo Sandyawan. Benar, tak pernah lagi berjumpa dengan Mo

Sandy sejak ia manggung di Toronto, saya mengupayakan suatu pertemuan

antara beliau dengan Bang Jeha dan Mpoknya. Saya mengenal Mo Sandy di darat

lewat Bang Gonjreng, prenku dari era Paroki-Net. Sedemikian sehingga tokoh

Tim Relawan Untuk Kemanusiaan ini (sekarang bernama Jaringan Relawan untuk

Kemanusiaan) kami undang untuk datang ke Toronto dan memberikan kesaksian,

betapa yang namanya HAM masih cuma suatu daging babi di Republik Indonesia.

Sampai hari ini. Sebab ketika saya bertemu dengannya kemarin sore ia sedang

menjadi seksi sibuk untuk apa yang namanya Festival Budaya Anak Pinggiran.

Seperti mungkin Anda tahu, Romo Sandy aktif berkarya di Sanggar Ciliwung

atau Ciliwung Merdeka, suatu wahana gerakan kemanusiaan yang mendampingi

anak-anak dan remaja di daerah Bukit Duri, di bantaran Sungai Ciliwung,

Jakarta Selatan. Karya utama CM saat ini bagi anak-anak pinggiran atau

istilah umumnya anak jalanan tersebut adalah mengkampanyekan perlindungan

serta pendidikan hak-hak asasi ekonomi, sosial, politik dan budaya mereka.

 

Romo Sandy masih tetap ceking seperti dulu. Rambutnya sedikit panjang dan

ia tutupi dengan topi petnya yang khas. Gaya bicaranya pun khas Mo Sandy,

sering banget tertawa atau mudah diajak bercanda. Konon ia butuh dana 200

juta rupiah untuk festival di atas yang melibatkan 39 kelompok anak jalanan

di Jabodetabek dengan total peserta festival sekitar 2000 orang. Selama 2 jam

kami bertemu, ada sekitar 20 kali ia mengakses ponselnya alias ditelepon

orang. Maklum ia biangnya seksi sibuk. Semoga si penelepon sama tujuannya

seperti Anda-anda, ingin membantu karya Romo Sandy. Yakni menanyakan berapa

nomor rekeningnya yang ada di BCA Matraman, yaitu Rek No 342 258 2255 a/n

I. Sandyawan Sumardi atau Santi Ermawati. Ketika ia ditanya oleh Bang Gonjreng

apa isi tasnya yang ia selalu bawa-bawa, kukatakan kemungkinan besar ada

sikat gigi dan odolnya, serta celana dalam satu kata Bang Gonjreng, untuk

setiap saat siap ditangkap dibui :-). Dengan tertawa terbahak-bahak ia

membenarkan tebakan Bang Jeha. Hanya satu yang memprihatinkan kami, saya

dan nyonya serta si Gonjreng. Setiap pagi katanya, mulai jam 3 s/d jam 6,

perutnya atau tepatnya ususnya, bak dipelintir diputar karena ia

mengalami suatu penyakit yang disebabkan bakteri, kata dokter ahli di

Singapur. Penyakit itu belum dapat disembuhkan di Indo sehingga sepertinya,

itulah api pencuciannya hidup di dunia. Kita doakan karya Romo Sandy bersama

dan jangan lupa nomor rekening di atas. Selamat menyumbang untuk karya

kemanusiaan di kampungmu dulu, sampai berjumpa di kisah berikutnya.

 

 

Keterangan foto

 

serba53a: Bang Jeha di muka Passer Baroe, kampungnya ketika kecil
serba53b: Bersama Romo Sandyawan SJ
serba53c: Mo Sandy seksi sibuk
serba53d: Manusia otot kawat tulang besi, tak perlu seatbelt
serba53e: Hasil foto studio Ojipro

 

       

 


FastCounter by bCentral