Ditemukan TNT Lebih Besar dari Bom Bali

Indonesia Media

Polisi terus panen bahan peledak pasca ledakan di Perumahan Anggrek, Kota Pasuruan, Sabtu (11/8). Setelah menemukan 45,2 kg bahan peledak jenis TNT pada Senin malam, kemarin petugas kembali mengamankan bahan peledak milik tersangka utama Ahmad Nadzir. Selain itu, petugas mengamankan tiga kerabat Nadzir.

 

Senin sekitar pukul 22.30, petugas yang dipimpin Kepala Kepolisian Wilayah Malang Komisaris Besar Syafrizal Ahiar mengubek-ubek kediaman Rohmah, 52, nenek Ahmad Nadzir, di Jl Hangtuah, Kelurahan Ngemplakrejo, Kota Pasuruan, dan rumah Farida, adik Nadzir, persis di depan rumah Rohmah.

 

Dari dua rumah tersebut, petugas mendapati 10 kardus mi instan yang disangka kuat berisi bahan peledak. Dugaan polisi tak meleset. Kardus-kardus tersebut berisi 6.422 detonator, yakni casing detonator yang sudah terisi serbuk TNT (trinitrotoluene.) "Masing-masing serbuk seberat satu gram," jelas Kapolwil Malang Kombespol Syafrizal Ahiar siang kemarin.

 

Selain itu, polisi mengumpulkan bahan peledak PETN halus 2,5 ons, bahan peledak PETN kasar 2 gram, potasium klorat 1,65 kilogram, serbuk hitam 166,7 gram, dan 207 kardus yang digunakan membawa bom ikan. Masing-masing kardus bisa digunakan untuk 125 buah bom ikan.

 

Sekadar pembanding, dalam bom Bali I, yang menewaskan 200 orang itu, kandungan TNT yang ditemukan hanya 25 kg ditambah sejumlah bahan lain seperti amonium klorat, aluminium powder, belerang, dan potasium klorat. Sedangkan pada persitiwa Bom Bali II, jumlah TNT yang ditemukan malah lebih kecil, yakni hanya 10 kg.

 

Selain menemukan sejumlah barang bukti, petugas mengamankan tiga orang untuk dimintai keterangan. Mereka adalah Rohmah, Yusuf (putra Rohmah), dan Farida. Dari ketiga orang tersebut, diharapkan bisnis bom ikan yang ditekuni Nadzir terkuak kian lebar. Termasuk dari siapa sebenarnya Nadzir kulakan bahan peledak TNT.

 

Kapolwil menegaskan, hingga kemarin, ketiga orang itu masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi. "Mereka masih kita mintai keterangan sebagai saksi. Jadi, belum ada tambahan tersangka," katanya.

 

Menurut dia, pemeriksaan terhadap ketiga saksi itu baru berakhir hari ini. Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi inilah akan diperoleh kesimpulan apakah ada penambahan saksi atau tidak. "Saat ini masih kita perdalam pemeriksaan, mudah-mudahan selesai," jelasnya.

 

Malam menemukan 10 kardus, siang petugas menemukan lagi bahan peledak. Kali ini yang ditemukan bahkan sudah siap ledak. Barang tersebut ditemukan di Musala Al Hamid, dekat rumah Rohmah. Setelah merasa bungkusan tersebut mencurigakan, Fahrudin melapor kepada petugas yang saat itu berjaga di depan rumah saudara Nadzir. Seketika itu pula, petugas langsung membuat garis polisi di sekitar lokasi.

 

Saat pertama ditemukan, bungkusan yang diduga sebagai bahan peledak itu berada di sebelah selatan Musala Al-Hamid. Setelah memeriksanya, petugas yakin benda itu milik Nadzir. Benda tersebut berupa sebuah sak berisi sekitar 5 kg detonator berisi TNT siap ledak. Detonator itu dibungkus dengan sebuah tas berwarna merah muda.

 

Perburuan Nadzir

 

Sementara itu, upaya penangkapan terhadap Nadzir, tersangka utama peledakan yang menewaskan tiga orang tersebut, terus dilakukan. Bahkan, saat ini, sejumlah petugas disebar untuk melacak pelaku. "Kita sudah sebarkan beberapa anggota untuk mencarinya," kata Syafrizal.

 

Sumber tersebut mengatakan tiga kemungkinan terkait tersangka Nadzir. Yaitu, produsen bom ikan superbesar, produsen bom umum (juga menerima pesanan selain bom ikan, Red), atau memang terlibat aksi terorisme secara langsung. "Ini yang masih dipelajari petugas di lapangan. Yang jelas, penemuan casing detonator 13.785 batang tersebut membuat petugas di lapangan mempertanyakan kembali motif bom ikan tersebut," ucapnya.

 

Menurut sumber tersebut, kekuatan detonator dan bahan peledak yang ditemukan sangat kuat. Dia menaksir bahwa gedung berlantai 20 ke atas bakal luluh lantak apabila jumlah detonator dan bahan peledak yang ditemukan di Pasuruan diledakkan.

 

       

 


FastCounter by bCentral