Christianto Wibisono; 8 Tahun di AS, Kini Kandidat Pimpinan KPK

jawapos /Indonesia Media

Putuskan Mengabdi di Tanah Air setelah "Jumpa" Jibril
Setelah delapan tahun mengungsi ke Amerika, Christianto Wibisono memutuskan kembali ke Indonesia. Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) itu mengatakan tidak trauma dengan peristiwa Mei 1998. Pengalaman supranatural yang memotivasi dia ingin mengabdi di tanah air.

AGUS MUTTAQIN, Jakarta

TAK mudah bagi Christianto untuk melupakan peristiwa 13 Mei 1998. Hari itu rumah putri sulungnya, Jasmine Wibisono, di kawasan perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, diobrak-abrik dan dijarah ribuan perusuh.

Jasmine dan suaminya, Tandyo Welianto, dengan mengendarai mobil Kijang berhasil lolos dari aksi anarkis tersebut. Sebelum massa mengepung wilayah itu, mereka mengungsi ke rumah Christianto di Jalan Kartini, Jakarta Pusat. Pasangan itu juga membawa dua bayinya, Christabel, 15 bulan, dan Christopher, belum genap dua bulan, disertai babysitter dan beberapa helai pakaian.

Sehari sebelumnya, 12 Mei, beberapa wilayah di ibu kota benar-benar tak ubahnya kota mati. Aksi anarkis terjadi di mana-mana. Aparat menembaki ratusan mahasiswa Universitas Trisakti di kampusnya.

Dari balik kaca di sebuah lantai Kantor PDBI, Jalan Kartini, Christianto menyaksikan massa terorganisasi bergerak dari arah Jalan Mangga Besar menuju Jalan Gunung Sahari. Ekonom yang kritis pada era Soeharto itu tak dapat membayangkan seandainya massa berbelok ke Jalan Kartini dan merangsek masuk ke kantor sekaligus rumahnya.

Dari kejauhan, Christianto melihat bagaimana aksi penjarahan dan perusakan berlangsung. Di sepanjang jalan, massa melempari bangunan di Jalan Gunung Sahari. Dan, ujung-ujungnya, aksi massa berakhir di rumah taipan Sudono Salim (Liem Sioe Liong) di Jalan Gunung Sahari No 6, Jakarta Utara.

Keesokannya, 15 Mei, saat sopir Christianto mengecek keadaan rumah Jasmine di PIK, bangunan berlantai dua itu sudah tak berbentuk lagi. Tak satu pun perabotan yang bisa diselamatkan. Semuanya dirusak dan dibakar. Rumah Jasmine termasuk di antara 80 rumah yang dibakar dan 500 yang dijarah habis.

Berselang sebulan, 10 Juni, Christianto kembali dikejutkan surat kaleng yang isinya berbau rasis. "Isinya amat menyinggung," ujar Christianto saat ditemui Jawa Pos sebelum menggelar talk show di sebuah televisi berlangganan kemarin.

Sang penulis, Ponidjan, dalam surat kaleng menyatakan bersyukur atas pembakaran rumah Jasmine. Selain itu, Christianto diancam akan dipenggal jika tetap mengkritik kebijakan Orde Baru. Oleh Christianto, surat itu diserahkan ke tim pengacaranya. Fotokopiannya masih disimpan rapi hingga sekarang.

Setelah menjadi korban kerusuhan, pada 11 Juni 1998, Christianto mengungsikan seluruh keluarganya ke AS. Kota yang dituju adalah Washington. Selain menenangkan keluarga dari kemelut yang amat traumatis sekaligus memulihkan kondisi kejiwaan, dia bisa berkumpul dengan putri bungsunya, Astrid Wardhani Wibisono.

Selama di AS, laki-laki kelahiran Semarang, 10 Agustus 1945, itu aktif dalam komunitas masyarakat Indonesia. Dia juga terlibat berbagai kegiatan yang dihelat Kedutaan Besar RI (KBRI) di Washington. Selain itu, analis bisnis itu banyak mengeluarkan pemikiran terkait perlunya lembaga pelobi berkaitan dengan kepentingan-kepentingan Indonesia di AS.

Dua putri Christianto juga "tenggelam" dalam kesibukan di AS. Jasmine bersama koleganya mendirikan Global Renaissance of ASEAN American on Culture and Entertainment (Grace) Heritage, sebuah LSM yang aktif mempromosikan hubungan ASEAN-AS. Sedangkan Astrid banyak membantu sang ayah terkait program Global Nexus (GN). GN adalah lembaga pemikir (think tank) yang mengupas pentingnya Indonesia memainkan peran strategis dalam konsep geopolitik dunia.

Istri Christianto, Kumala Dewi, lebih banyak momong dua cucunya. Sesekali ibu rumah tangga itu juga aktif mengikuti acara yang digelar ibu-ibu KBRI.

Meski jauh tinggal di AS, Christianto selalu mengikuti perkembangan di tanah air. Alumnus FISIP UI 1978 itu banyak berinteraksi dengan kolega-koleganya di Indonesia melalui internet. Beberapa buah pemikirannya juga banyak disumbangkan melalui tulisan opini di beberapa media massa. Tak pelak, nama Christianto tetap diingat banyak orang di tanah air meski secara fisik menetap di Washington.

Dia juga acapkali memfasilitasi kunjungan kenegaraan pejabat RI ke AS. Salah satu "jasa" besar Christianto adalah melobi Deputi Menhan AS Paul Wolfowitz terkait kunjungan kenegaraan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada 2001. Christianto awalnya ditelepon Dubes RI untuk Singapura Luhut Panjaitan. Saat itu dia dimintai bantuan melobi pejabat AS untuk mempertemukan Gus Dur dengan Presiden AS Bill Clinton. Itu diperlukan setelah dua penghubung, Luhut Panjaitan dan Menlu Alwi Shihab, gagal melobi pertemuan dengan Clinton. Padahal, Gus Dur sudah menginjakkan kaki di AS.

"Tengah malam saya ditelepon Luhut, bagaimana diupayakan jalur informal. Saya lantas menghubungi Wolfowitz. Pada awalnya ragu. Namun, setelah diyakinkan bagaimana cara menghormati orang sowan, Wolfovitz akhirnya bersedia," kenang Christianto. Akhirnya, Gus Dur pun dapat bicara empat mata dengan Clinton.

Sejak itu, hubungan Christianto dengan pejabat RI makin intens. Putra pasangan Oey Koan Gwe dan Lo Tjoan Nio itu sempat menyerahkan dokumen PDBI terkait 30 nama pengutang bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kelas kakap dengan nilai utang di atas Rp 1 triliun.

"Saya usulkan orang-orang itu dipanggil. Ditanya apa mau bayar, nanti akan diampuni sedikit," jelas Christianto. Buah pemikiran Christianto terkait pemberdayaan ekonomi juga dilontarkan kepada Gus Dur.

Gus Dur pun sempat kepincut dengan Christianto. Mantan managing director Grup Tempo itu pernah ditawari jabatan menteri koordinator (menko) perekonomian. "Saya diminta menggantikan Rizal Ramli. Dia akan dipindah menjadi menteri keuangan," ujar Christianto, bangga.

Namun, tawaran tersebut diajukan saat Gus Dur berada pada masa-masa sulit. Gus Dur saat itu sedang dililit impeachment oleh DPR. Christianto sempat tertarik jabatan prestisius tersebut. Namun, dia minta syarat agar Gus Dur dan Megawati rujuk.

"Saya minta Gus Dur dan Megawati dapat menghadiri pelantikan saya kelak," ujar Christianto. Gus Dur kurang merespons syarat tersebut. Puncaknya, enam bulan setelah tawaran berlalu, Gus Dur lengser.

Saat Presiden Megawati berkuasa, Christianto kembali diminta pulang ke tanah air. Dia lagi-lagi ditawari menjadi anggota kabinet oleh suami Megawati, Taufiq Kiemas. Tawarannya memang bukan Menko perekonomian. "Pokoknya ada pos menteri. Tetapi, kalau diterima, saya anggap menurunkan tawaran terdahulu. Saya kan dulu ditawari Menko," seloroh Christianto.

Aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) era 1960-an itu mengaku ingin konsisten dengan idealisme. Sebab, jika tawaran tersebut diterima, dia khawatir muncul penilaian dari para koleganya bahwa dia tidak konsisten terhadap kritiknya. Sebelumnya, di era Orde Baru, Christianto mengkritik habis kebijakan Soeharto atas gemuknya personel kabinet.

Setelah delapan tahun mengungsi, tepat 10 Juni 2006, Christianto kembali ke tanah air. Dia berangkat dari Washington dan transit di Singapura. Apa perasaan Christianto ketika menyusuri jalanan di ibu kota? "Yang paling terasa adalah kemacetan luar biasa," katanya. Saat pulang, Christianto punya obsesi besar tentang pentingnya rekonsiliasi menyikapi peliknya permasalahan bangsa.

Setelah beberapa waktu di tanah air, Christianto balik lagi ke Washington. Lalu, apa yang mendorongnya pulang ke tanah air untuk selama-lamanya? "Saya punya pengalaman supranatural yang memaksa saya pulang (ke Indonesia)," jelasnya.

Semua itu diawali ketika Christianto mengalami koma empat jam setelah pendarahan hebat pascaoperasi sinus di New York Presbyterian Hospital (NYPH) pada 4 September 2006. Selama koma, Christianto berjumpa dengan malaikat.

"Saya bertemu dan berdialog Gabriel (Malaikat Jibril). Dia bilang, 'Anda belum check-in (meninggal) sehingga kalau seandainya diberi bonus hidup lagi, apa yang Anda mau'," ujar Christianto. Saat itu, Christianto mengaku ingin menyumbangkan tenaga dan pemikiran untuk bangsa dan negara. Dia tak mau menghabiskan sisa hidupnya sebatas "nongkrong" di Washington.

Peristiwa tersebut merupakan yang kedua. Pada 1985, Christianto pernah mengalami pendarahan luar biasa atas sakit ambeiennya di RS Husada, Jakarta. Saat itu, Christianto berdoa agar bisa lolos dari kematian dengan harapan dapat menyaksikan anak keduanya, Astrid, melangsungkan pernikahan.

Pengalaman supranatural di NYPH tersebut terus teringat di benak Christianto. Sejak itu pula, dia termotivasi untuk cepat-cepat pulang ke tanah air.

Setiba di tanah air, Christianto berusaha memopulerkan konsep The Global Nexus. Selain itu, dia ikut mendaftar dalam seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bagi Christianto, pengalaman dalam seleksi tersebut merupakan kali pertama dirinya melamar pekerjaan. Itu pun dilakukan setelah beberapa koleganya, termasuk koordinator Badan Pekerja ICW Teten Masduki dan Nono Anwar Makarim, mendesaknya untuk melamar pada hari terakhir pendaftaran seleksi.

Sebelumnya, dalam sepanjang hidupnya, Christianto tidak pernah melamar profesi tertentu. "Saya bahkan tidak ingat lagi di mana ijazah sarjana saya. Saya hanya menggunakan ijazah legalisasi untuk melamar pimpinan KPK," ujarnya.

Segudang jabatan, termasuk saat menjadi asisten pribadi mantan Wapres Adam Malik, selalu diawali dengan orang lain yang "melamar" dia. Meski pengalaman pertama, Christianto berjanji akan melakukan pembaruan di tubuh KPK jika terpilih sebagai pimpinan. Yang terpenting, Christianto bakal mengenalkan konsep pengampunan dalam kasus korupsi.

       

 


FastCounter by bCentral