Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air # 52

Indonesia Media

Di tulisan lalu saya singgung murahnya harga makanan di tanah air kita

sehingga tak heran 220 juta manusia, plus minus 10% tidak kelaparan. Masih

belum apa-apa. Karena isteriku mendadak mau rajin dan memakai mesin jahit

mertuanya, meninggallah mesin tersebut, kurasa terkena "serangan jantung",

syok :-). Akibatnya kemarin kami pergi membawa mesin Necchi dari era jaman

bedil sundut alias kuno banget, paling engga sudah 40-an tahun umurnya, ke

suatu bengkel mesin jahit di pasar Kelapa Gading. Maklum ibuku dulu tukang

jahit baju, ia tahu dimana si Mas tukang betulin buka warungnya. Mas periksa

buka sini buka sana dan tahu kira-kira bahwa sebetulnya mesin berhenti jalan

karena ia terlalu kotor bin dekil, engga pernah dibersihkan diservis.

Kata si Mas, 35 ribu untuk ongkos servis sampai jalan lagi. Bayangkan prens

di Amerika Utara, engga sampai 4 dollar kite pan (yah tidak lama lagi dollar

Kanada akan melewati dollar Amrik nilainya kalau si Bush perang terus :-)).

Kalau sampai mesin di rumah kita ada yang rusak, ongkos tukang servis datang

untuk periksa saja, sudah 50 $, belum kalau ada kerusakan dan mesti ganti

partnya. Tidak heran segala macam pekerjaan pindah ke Asia di jaman sekarang.

Mong-ngomong kerjaan, sebetulnya lapangan nyangkul di Indo ini sekarang

sudah super competitive. Kemarin malam saya bertandang ke rumah sepupu

ibuku, sowanan. Cucunya ada 2 yang lulusan Sipil Parahyangan, yang dianggap

sebagai 'da best civil engineering school in the country'. Mantunya juga

ngensinyur sipil dari situ dan proyeknya di Cirebon alias lebih banyak

berpisah dari isteri ketimbang tidur seranjang ama bini. Si isteri, sampai

jam 8:30 malam saya bertamu, belum pulang dan kata bokapnya, jam segitu

masih pagi alias ia pulangnya malam. Bayangkan. Gimana kalau lulusan sekolah

asalan doang? Tidak jarang juga kalau ada proyek, ia engga pulang semalaman

karena kerjaannya ng-audit hitungan sipil yang tentu engga sepele. Cah lanang

atau adik si cewek juga sami mawon, pulang malam ketika kantornya tutup

jam 9. Jadi ente para imigran eks Indo di Kanada prenku, jam kerja kita

boleh dibilang santai sekhalei mek, kalau gawean dikau seperti saya 9-5 job.

 

Anda yang ke kantor naik bis umum seperti saya tetapi memilih parkir di

pelataran parkir seperti TTC parking lot di Toronto, mungkin suka sebel.

Sudah bayar 4 $ untuk masuk tahu-tahu penuh alias mesti keluar lagi. Atau

mereka terlambat memasang tanda 'lot full' atau tidak ada petugas yang

keliling memeriksanya. Tidak demikian halnya dengan parking lot di mal-mal

di Jakarta seperti di KG. Melalui digital display yang dari jauh sudah

terlihat, kita bisa mengetahui masih ada berapa banyak tempat parkir yang

kosongnya. Semestinya mudah sekali kan membuat programnya. Tinggal setiap

mobil yang masuk mengurangi jatah, setiap mobil yang keluar menambahnya lagi.

Kog yang mudah dipersusah sih :-). Juga digital display di persimpangan jalan

yang memperlihatkan masih berapa detik lampunya hijau (atau merah), sudah

mulai dipasang di beberapa tempat. Meski kalau dipikir-pikir di Jakarta sih

tidak ada gunanya sebab setiap saat kita bisa nyeberang kan, tak perlu

menunggu warna lampu.

 

Pulkam ke Indo selalu ada kisah memprihatinkan. Di suatu milis, seseorang

menghimbau pinjaman 4.5 juta Rp untuk prennya bisa menebus ijazah S1-nya.

Ternyata di Indo kita bisa menunggak uang administrasi, dimana bila kita

lulus itulah jaminan sang hutang. Di halaman utama Kompas hari ini tertera

berita berjudul Tahu Goreng Itu Tak Bisa Membiayai Sekolah. Isinya kira-kira

sejalan dimana si tukang tahu Mas Parman wong Sleman, tidak mampu menebus

biaya admin dua anaknya yang baru lulus SMA. Sehingga ia akan menyuruhnya

jadi tukang tahu juga sahaja. Soalnya Mas Parman perlu membayar uang masuk

satu anaknya lagi ke SMK Teknik Listrik yang biayanya 2.5 juta Rp. Untuk itu

ia sudah menjual satu-satunya miliknya yang berharga, motor bebek 2.7 juta.

Padahal ia memerlukan motor itu untuk transportasi ke Yogya tempat ia

berjualan. So pasti Mas Parman maupun pren anak milis itu bukan cuma

dua-duanya orang yang sedang mengalami kesulitan di dalam urusan sekolah,

padahal Anda-anda di Kanada mah gratis ye untuk hal beginian.

 

Kemarin saya ke CarreFour, supermarket Perancis yang sedang 'in' di Indo.

Ada beberapa barang yang kami mau beli, salah satunya telepon murmer untuk

dipakai dalam kamar. Harganya sekitar 3 dollar saja tapi ada fitur yang tak

bakal Anda jumpai di seluruh telepon yang dijual di Amerika Utara. Yakni

ada k u n c i n y a. Kalau telepon di dalam lock position, ia tidak akan bisa

dipakai nge-dial alias bunyi tulilut tulilut. Kita semua ex Indo tentu tahu

manfaatnya, yakni supaya pembokat engga bisa pakai kalau si majikan keluar.

(Mungkin Anda pernah bertamu ke rumah dimana telepon si majikan ditaruhnya di

dalam peti besi atau kotak digembok.) Namun apa lacur, ketika habis saya test

saya balikkan ke posisi unlock, si telepon jadi tewas, wafat :-). Jadi tadi

saya 'have fun' lagi bermobil ria ke CarreFour dari rumahku. Jarak yang kalau

bisa naik sepeda ditempuh dalam waktu 5 menit, dengan mobil tak usah heran

bisa 15-30 menit. Sebab terletak di dekat perempatan Bypass-CocaCola yang

selain macet juga rawan. Melenceng sedikit, kalau Anda senang advonturir

sebetulnya menyetir mobil di Jakarta ini asyik banget dah. Bak bermain video

game, tahu-tahu dihimpit bis Angkatan Laut dari kanan :-), tahu-tahu digencet

Metromini dari kiri. Belum motor-motor yang terus berseliweran di sekeliling

kita. Asyiknya lagi, kita bisa pindah jalur saenak-udele tanpa kuatir

diklakson sebab semua kolega supir di jalanan Jakarta, keturunan "monyet" :-).

Menyambung ke awal cerita, tiba ceritanya saya di CarreFour dan rupanya toko

di Indo sekarang mengenal istilah customer service. Tidak banyak cingcong si

mbak memproses telepon anti-pembokat yang saya pulangin, mempersilahkan saya

mengambil telepon baru (merek GE, harga 3 kali lipat) untuk ditukar-tambah

dan kalau saya engga jadi beli, dipulangin duitnya katanya. Tidak heran

CarreFour mulai merajai bisnis supermarket di Indo.

 

Masakan di Indo ini memang enak-enak karena cocok dengan selera atau lidah

kita. Kemana pun Anda mengelilingi dunia ini dan mencobai serta menikmati

masakan setempat, menurutku tidaklah akan ada yang bisa menyamai enaknya

makanan favorit dari kampung kita. Ambil saja bihun goreng, salah satu makanan

kesukaanku. Ada dua tiga restoran di Greater Toronto Area yang menu bihun

gorengnya oke, yang paling enak untuk saya Singapore style fried meehoon di

restoran Coconut Island di Markham, kota di utaranya Toronto. Yang punya,

Yasinta, anak Ipoh, Malaysia, mungkin meraciknya sama seperti bihun goreng

kita. Kemarin saya makan bihun goreng komplit di restoran masakan Medan, Tien

Sin di Kelapa Gading. Asyik sekali rasanya, pas di lidah kita. Namun, satu hal

yang membuatnya istimewa. Bihun goreng itu ditaruhnya di atas daun di atas

baki rotan. Melihat ke halaman depan dekat dapur, seorang abang sedang

membersihkan lembaran daun pisang yang akan dipakai untuk tempat masakan

tersebut. Ia memakai secarik lap yang warna aslinya sudah hilang, berganti

warna dekil. Tak lama, tamu yang duduk di meja sebelah kami pergi dan abang

lainnya, mengambil lap yang sama untuk membersihkan meja tersebut. Lap

kuperhatikan dibawa kembali ke abang tukang bersihin daun dan berfungsi lagi

seperti semula, menjadi pembersih daun. Tidak heran bihun gorengnya enak

sekali ye :-). Sekian dulu para pembaca, sampai kisah berikutnya, bai bai

lam lekom dari kota Jakarta.

 

       

 


FastCounter by bCentral