Dr. Frans Tshai: SDM kita kurang budipekerti

Dr.Irawan./ Indonesia Media

Dr.Frans Tshai dalam kunjungannya ke Los Angeles kali ini memaparkan situasi tanah air saat ini yang kurang menguntungkan akibat tidak adanya investasi "Budipekerti" dalam pendidikan disekolah selama masa ORBA. Efeknya telah terlihat sekarang ini dimana moral bangsa menjadi begitu rendah. Semua orang mengejar kepentingan pribadi sesaat. Para penyelenggara negara yang terpilih oleh rakyat bukannya melaksanakan tugasnya dengan benar, tapi malah sudah ambil ancang-ancang untuk pemilu 2009. Sering dalam persaingan Pilkada banyak yang menghalalkan segala cara, sehingga hasil dari pemilihan tidak mewakili suara rakyat yang sebenarnya. Tidak jarang orang yang berpotensi dan jujur malah tersisihkan. "Inilah tragisnya bangsa kita sekarang",keluh Pak Frans.

 

 

Adanya bencana Lapindo, larangan Uni Eropa terhadap penerbangan maskapai Indonesia, dan musibah-musibah lainnya, boleh jadi bukan suatu kebetulan. Apakah kita sudah mengintrospeksi diri dan bertanya:tentang kemungkinan semua itu berasal dari kelalaian kita sendiri? Sekali lagi kembali ke moral bangsa yang rendah akibat miskinnya diajarkan budipekerti.Pada saat manusia sudah tidak mengerti moral,dia tidak tahu apa yang benar dan apa yang salah.Korupsi dianggap sebagai haknya karena yang lain juga melakukan.Mungkin bukan suatu yang jelek karena orang lain juga melakukannya. Ada yang mencari pembenaran dalam istilah “sudah membudaya”.Benarkah ? Suatu yang jelek tidak boleh dibiarkan berkembang,karena jelas-jelas merugikan masyarakat umum.

 

Bukankah orang yang terikut dalam suatu tindak pidana bisa dikenakan hukuman pula? Kenapa yang melakukan korupsi saja kebanyakan tidak diapa-apakan.Karena mereka yang berwenang tidak punya keberanian menegakkan keadilan?Ataukah menerima pembenaran bahwa korupsi sudah membudaya?

 

Sebenarnya senjata atau perangkat hukum sudah memadai untuk memberantas korupsi.Yang diperlukan adalah keberanian untuk memakainya demi kepentingan masa depan bangsa.Siapa berani?Atau siapa takut …..?

 

 

 

Selama ini pemimpin itu tidak menyelesaikan masalah, ini yang perlu di tegakkan kembali. Seorang pemimpin yang baik harus sebagai problem solver. Contohnya : Jakarta macet , Jakarta banjir, polusi. Selama ini hanya terlihat bukannya “solved the problem” tapi hanya sekedar “shift the problem”.Ini ibarat menyapu sampah dan disembunyikan dibawah karpet.Dari luar kelihatan tidak ada kotoran.Sekali dibuka karpetnya ternyata banyak sampah yang sudah bau menumpuk dibawahnya.Inilah yang terjadi sekarang setelah reformasi digulirkan.Begitu banyak sampah yang terlihat,sehingga para pemimpin yang nota bene belum terbiasa dididik untuk problem-solving bingung harus menyelesaikan yang mana.Bukankah itu yang masih kita alami sampai saat ini ?Yang lebih buruk lagi adalah menyelesaikan problem dengan menimbulkan problem baru yang malah lebih besar.Contoh:busway di Jakarta!Yang tertolong mungkin hanya 40% masyarakat Jakarta.Saya tidak punya angka tentang ini.Tapi yang pasti lebih banyak yang merasa dirugikan.Kalau dulu jalan yang 3 jalur saja sudah macet,sekarang menjadi 2 jalur,sedangkan jumlah kendaraan bermotor terus bertambah tanpa batas,tidak sukar kita bayangkan apa yang pasti terjadi.Ini yang menjadi contoh sangat baik dari usaha menyelesaikan suatu masalah dengan menciptakan masalah yang lebih besar!

 

 

Harus ada keberanian untuk melakukan tindakan perubahan yang konkrit dan terarah.Sebagai contoh adalah masalah pendidikan nasional di segala tingkat yang dari pelbagai survai diakui sangat rendah mutunya.Dengan mutu yang rendah tidak bisa diharapkan menghasilkan kader-kader bangsa yang dapat bersaing di forum internasional.

 

Kita terlalu tenang pada saat dunia bergolak bersaing dengan ketat dalam mutu. Pendidikan bermutu baik yang akan mengubah nasib bangsa kita.Janganlah terus berlindung dibelakang kekayaan alam yang berlimpah dan jumlah manusia yang besar.Alam habis dikuras orang lain,rakyat tidak memperoleh manfaatnya.Kenapa ?

 

Sampai saat ini saya belum melihat ada tindakan nyata untuk meningkatkan mutu pendidikan kita secara terarah.Tambal sulam saja.Coba lihat negara2 di Asia Timur yang sekarang sudah menjadi negara industri.Mereka selalu mulai dengan investasi di sumberdaya manusianya dengan system pendidikan yang bermutu tinggi.Guru-guru digaji tinggi,fasilitas sekolah baik.Yang terjadi di Indonesia justru terbalik:tidak jarang kita dengar atau baca berita tentang guru yang gajanya sudah berbulan-bulan tidak dibayar.Tidak jarang menonton di tv tentang gedung sekolah yang ambruk,murid2 yang duduk dilantai tanah,atau satu guru mengajar 4 kelas.

 

 

Berbicara mengenai pendidikan,tidak bisa kita tidak ingat akan masalah di IPDN yang menjadi sorotan selama berbulan-bulan.Sesungguhnya itu hanya fenomen gunung es saja.Perpeloncoan dengan kedok masa perkenalan masih dilaksakan dimana-mana.Yang senior melampiaskan dendamnya kepada yang yunior.Dan ini terus ditanamkan.Secara tidak sengaja sudah ditanamkan bibit membalas dendam dalam diri para siswa/mahasiswa.Bukankah aneh bahwa kader-kader IPDN dididik yang dimasa depan menjadi pegawai negeri adalah manusia yang berjiwa balas dendam ? Apa yang bisa diharapkan dari mereka untuk memperbaiki administrasi Negara? Tanam jengkol ya petik jengkol,tanam anggur pasti petik anggur pula.

 

Apakah para penyelenggara Negara tidak bisa melihat permasalahan yang lebih besar dari contoh IPDN?Semoga ada yang tergugah dan memiliki keberanian dan kecntaan kepada bangsa untuk mulai mengambil tindakan konkrit agar generasi berikut kita mempunyai sumberdaya manusia yang berkualitas tinggi dalam ilmu dan moral!

 

Mimpi nih yee? Mungkin ada yang berkomentar demikian.Tapi saya selalu mengutip kata bijak dari serorang tokoh abad 20 yang mengatakan:Impian akan menjadi kenyataan kalau kita mempunyai KEBERANIAN untuk mengejarnya!

 

Impian tokoh ini sudah menjadi kenyataan sekarang dalam bentuk perusahaan yang beromzet miliaran dollar setahun.Siapakah dia ? Tidak lain adalah Walt Disney - sang pencipta Mickey Mouse! Demikian ucap Mantan ketua PPBTI itu.

 

       

 


FastCounter by bCentral