|
|
Usaha Resto di Negeri Perancis - Bagian ke-9B
Paris 26 Maret 1999 / Indonesia Media
Kerja di resto sangat melelahkan. Kalau seorang anak muda yang masih
berumur duapuluhan, tigapuluhan mengatakan capek kerja di resto, maka kami yang sudah berumur kepala lima bahkan ada yang berkepala enam ini, sangat wajar kalau sering-sering keletihan dan lelah yang amat sangat. Suatu kali aku kebagian urusan mengangkat botol minuman dari lantai dasar ke bawah, ke cave, gudang bawah-tanah. Banyaknya 32 kas. Setiap kasnya berisi 12 botol, ada yang 8 botol tetapi botol besar. Minuman ini ada yang anggur, ada yang soft-drink, minuman ringan. Kalau hanya belasan kas, adalah biasa, tidak terlalu banyak. Tetapi ini sekaligus datang sejumlah puluhan kas. Kas-kas itu pada mulanya bisa diangkat karena tenaga kita masih ada.
Tetapi kalau sudah capek, lalu didorong saja pelan-pelan dan hati-hati.
Karena memburu jam-kerja, maka pekerjaan ini harus selesai dan cepat pada
waktunya. Sebab tak lama lagi akan datang jam-service, menerima pelanggan, berarti sudah jualan.
Pengalaman mengajarkan, kalau mau memburu waktu tak begitu terasa capeknya.
Tetapi begitu selesai bekerja, lalu pinggang sakit dan tahu-tahu saja tak
bisa jalan. Jalannya bongkok, dan pinggang sakitnya kagak ketulungan kata
orang Jakarta . Untuk keduakalinya aku mengalami harus istirahat karena
sakit, arret travailler, selama 10 hari. Hanya yang kedua ini tidak pingsan, tetapi tak bisa jalan. Pulangpun harus dengan taksi. Dan setiap hari mendapat suntikan selama seminggu. Perawatnya datang ke rumahku setiap pagi. Bukan main melelahkannya kerja di resto begini, tetapi lalu mau apa?!
Setelah resto kami berjalan lebih dari 6 bulan, di mana kami sudah dikenai
peraturan umum dan perundang-undangan umum, maka kami harus menyesuaikan
diri dengan segala peraturan tersebut. Ketika itu kami sudah memberikan gaji
secara SMIC, Salaire Minimum Interprofessionel Conventionne, gaji minimum
yang tak boleh kurang, dan kalau menyalahi peraturan itu akan
didenda, mendapat hukuman, dan bahkan bisa-bisa resto harus tutup-total.
Kalau tak salah ketika itu gaji Smic seharga 23 francs satu jam. Sejak
resto kami berdiri, sampai kini, kami tak pernah menggaji pegawai kami lebih
rendah dari Smic. Dan ini memang keharusan, undang-undang perburuhan yang
tidak boleh dilanggar. Ada saja resto lain yang melanggar atau berani
melanggarnya, tetapi kami berpendapat sebaiknya janganlah kami. Smic, gaji
minimum memang setiap tahun naik, tetapi hanya beberapaa persen saja, hanya
beberapa ketip, puluhan sen saja, atau paling banyak hanya satu dua francs
saja. Hingga tahun ini, 1999, smic sekitar 40 sampai dengan 41 francs satu
jam-kerja, dan itulah gaji kami setiap orangnya.
Sebenarnya smic, gaji minimum ini kalau kita bisa mengatur, dan hemat, hidup
tak berlebihan, pasti akan bisa hidup yang juga minimum. Buktinya kami yang
belasan tahun bekerja di resto ini, yang bergaji smic, sejak kami mendapatkan
paspor Perancis, setiap tahun bisa ke Indonesia , ini contoh konkritnya. Dan
lagi sejak kami hidup punya gaji seperti orang-orang normal itu, tidak
sedikit pegawai - pekerja kami yang punya mobil, kendaraan pribadi.
Dan agak aneh atau kebiasaan "para melayu" ini, kalau makanpun sangat
sederhana. Orang Perancis kalau makan didahului aperitifnya, lalu
antreenya, lalu plat-nya, lalu akan mengakhirinya dengan dessert, lalu bisa
kopi bisa digestif. Banyak cengkune-peraturan dan kebiasaannya. Tapi kami
"para melayu" ini yang juga kami sebut "para kurawa" ini, kalau makan ya
makan saja, abis perkara. Dan makanpun karena sudah bosan makan yang itu-itu
saja, lalu betapa enaknya kalau makan buntut, kaki, kepala, jeroan, yang buat
orang bule hanya sering diberikan kepada binatang peliharaannya. Dan akan
merasa bukan main mewahnya kalau kami dapat makanan goreng-tempe, ikan teri.
Seseorang teman begitu datang dari Holland , bukan menanyakan apa
kabar, bagaimana di sana , ketemu siapa, tetapi menanyakan bawa tempe nggak?!
Kami banyak mendapat kritikan dari mana-mana, teman kami sendiri yang hidup
di Eropa lainnya. Mereka mengatakan kami ini sudah merosot semangat
juangnya, hanya semata-mata cari hidup saja. Pikiran hanya ke soal-soal
hidup dan perut saja. Tidak memperhatikan kehidupan kolektif lainnya, tidak
turut aktif membantu teman-teman di tanahair. Kritikan begini tentu saja
kami perhatikan dan harus periksa diri juga. Tetapi juga berilah kami
kesempatan untuk menjelaskan keadaan sebenarnya, yang mungkin
syarat-syaratnya lain dengan negara Eropa lainnya. Kami ketika itu belum
seorangpun yang berwarganegara Perancis. Artinya kami harus menuruti
peraturan dan perjanjian yang dulu pernah kami tandatangani ketika minta
perlindungan pada pemerintah Perancis menjadi orang asilan, perlindungan
politik. Bahwa tidak akan aktif berpolitik kongkrit, praktis. Seseorang
teman mau aktif berpolitik praktis, bisa-bisa saja tetapi jangan di
resto, harus di luar resto, itulah pedoman kami.
Dan rasanya dan kiranya tidak tepat kalau mengatakan kami hanya tenggelam
dalam kehidupan semata-mata cari makan, dan cari hidup saja. Bahwa apakah
kami turut membantu teman-teman yang sedang susah di tanahair, apakah kami
hanya berdiam-diri saja dengan hirukpikuknya perjuangan yang sedang
hangat-hangatnya, adalah tidak pada tempatnya kalau kami cerita ke mana-mana
bahwa kami sudah mengerjakan ini itu, dan itu adalah hasil kerja kami.
Rasanya tidak etis, dan ya nggak enaklah! Mungkin ada baiknya nanti
kuceritakan sekedar cerita biasa, yang manusiawi, yang sangat normal bukan
bersifat politik-tinggi. Mungkin akan lebih menarik.
| |