Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air # 51

Jusni Hilwan /Indonesia Media

Tidak, tidak salah penomoran prens, inilah tayangan saya yang ke 51 di dalam

serial unik Bang Jeha Anda setiap kali ia pulkam, pulang ke kampungnya di

Betawi, Indonesia. Seri ke 50 saya tulis menjelang akhir Januari 2006 di

dalam kunjunganku yang terakhir, yang penuh dengan kenangan indah, terutama

ketika bersama teminku Indah, kami melakukan trekking ke Ngarai si Anok antara

Kotogadang dan Bukittinggi. Kunjungan ke Indonesia tidak pernah membosankan

alias selalu menarik membawa serba-serbi pengalaman, apalagi di tahun ini.

Sudah lama saya tidak mengunjungi tanah air kita bersama seluruh keluargaku.

Ya terakhir kedua anakku ikut adalah ketika kami sekeluarga pulkam di musim

panas 1986 saat mereka masih kinyis-kinyis dan norak banget. Melihat got

atau istilah mereka 'open sewer' mereka geli sekali padahal waktu masih bayi

diajarin bapaknya kencing disitu. Melihat cecak di dinding, sama noraknya,

disangkanya binatang prasejarah. Pokoknya anak yang jarang diajak pulkam,

bisa dipastikan memalukan kita orang tuanya yang lahir dan besar di

tanah air Indonesia :-).

 

"I am so excited I cannot wait to go," kata si Toby beberapa hari sebelum

ia cabut. Mereka, Cecile dan dia pergi 2 mingguan lebih dahulu dari saya,

karena nasib mengharuskan saya kerja lagi di usia setua begini :-). Padahal

saya sudah atur sebelumnya untuk jalan-jalan dulu berdua nyonya di Hong Kong,

tempat penuh kenangan karena basic training kantor saya selama 3 bulan disana.

Apa mau dikata, menjelang akhir April saya mendapat telepon tawaran untuk

bekerja lagi dan karena bisnis outfitting-ku memang merana, mati segan hidup

tak mau :-), saya oke-in dah untuk nyangkul lagi sebagai pegawai tetap.

Alfa si sulung yang perginya bersama saya, tak kalah semangatnya. Dua hari

sebelum hari-H ia sudah bolos, engga semangat lagi kerja. Tahu demikian saya

bisa pergi Jum'at malam, ketimbang Minggu malam tanggal 1 Juli lalu. Eniwe,

berempatlah kami ceritanya sekarang di kota kelahiran 3 orang dari 'the

Hilwans family'.

 

Sebelum mulai menceritakan dongeng dari negeri antah berantah Indonesia, baik

saya syer pengalaman 3 Juli pagi di Chek Lap Kok airport di Hong Kong. Bak

kecekok kelap memang Bang Jeha dan anaknya gara-gara aturan baru mengenai LAG,

liquid, aerosol, gel. Kalau si bule bilang, "international travel these days

is a hassle, thanks but no thanks to the terrorists," mereka benar banget.

Di duty free Toronto Pearson, sesudah lewat security dan pemeriksaan LAG,

Alfa membeli dua botol ice wine ex Ontario untuk oleh-oleh. Malang tak dapat

ditolak, mujur tak dapat diraih, dua botol ice wine itu mau dibuang di Hong

Kong oleh encek petugas security yang judes banget. Untunglah kami diberi

pilihan untuk keluar dari imigrasi, dan check-in atau masukkan dua botol

ice wine itu ke dalam checked baggage. Alfa tidak kekurangan akal, jadi di

imigrasi ia bilang kami cuma mau keluar untuk check-in satu backpacknya

karena berat katanya. Untungnya, (anak orang Jawa selalu untung :-)) keluar

dari Hong Kong tidak usah bayar alias cuma makan waktu 1 jam untuk proses

tersebut karena mesti antri lagi di departure counter Cathay Pacific.

 

Satu lagi noraknya si Toby, berhubung ia sudah kerja, masih jomblo alias

tidak ada yang ngebosin pengeluarannya, di dalam dollar Kanada lagi, maka

ia heran banget bisa makan semurah di Indo. Belum lama ini ia nostalgia,

makan di Gandi Steak House bersama sepupunya dari pihakku. Makan berdelapan

sepuasnya, ia cuma bayar 40 dollar katanya. Makan di resto Chinese di

Citraland, sama juga sekitar segitu, padahal orangnya lebih banyak. Makan

$ 5 per orang di Toronto, di McDonald pun bisa engga cukup :-). Itulah

salah satu kebahagiaan turis luar batang di Indonesia, semua serba murmer.

 

Hanya..., hal yang membuat kunjungan ke Indo menjadi asyik, makan enak serba

murmer, bisa juga mencelakakan. Baru sehari ku disini, beberapa keponakanku

anak Winnipeg (lahir di Indo), terkena apa yang disebut si bule, the Montezuma

Revenge, kita bilangnya muntaber. Mereka memang datang lebih dahulu karena

semuanya menikah dengan anak Kanada dan ingin memamerkan tanah kelahiran :-).

Saya pun pagi-pagi, masih berjet-lag berat, sudah perlu ke WC untuk nyetor,

padahal baru sekali jajan di luar dan itu pun di Bakmi GM. Suatu warning

untukku agar tidak gegabah sok jago. Jadi bila Anda prensku di Betawi ini

belum kutelepon, harap maklum rek. Tujuan utama saya datang di musim panas

di bulan Juli ini, tak lain tak bukan untuk kondangan di 7-7-2007 alias Sabtu

nanti sebab salah satu dari 20 keponakanku akan menikah. Kalau saya telepon

ente, boleh dipastikan saya akan diajak makan dan mana kutega menolaknya :-).

 

Olahraga teroke punya di kota Jakarta ini, tak lain adalah berenang. Selain

keringat kita jadi dilap oleh air langsung, juga semua otot kita bergerak.

Masa bodoh airnya sebutek apapun (kata isteriku), untukku jauh lebih bening

dari air kali Ciliwung, hehehe. Berenang di kolam renang umum di Toronto,

CAD $ 2.50 ongkosnya, di kolam renang Tirta Mas tadi pagi, cuma Rp 9000

alias sedollaran. Hanya bolak balik 1 km memang lebih cape dari berenang di

kolam renang umum di TO. Why? Lantaran kolam renang kita cuma 25 meter

panjangnya dan di Indo umumnya ukuran olimpik alias 50 meter. Jadi cuma ada

kesempatan sekitar 19 kali pegang tembok untuk balik dibanding 39 kali. :-)

Anak nyonyah Jawa alias isteriku memang kuat, meski sudah 3 minggu sportnya

cuma sport perut alias makan doang, ia yang mengatakan sampai sekilometer

ketika kutanya mau berapa kali balik. Bagusnya lagi berenang di Tirta Mas,

karena setiap balik kita menghadap matahari yang terbit di atas pohon

beringin hal itu akan mempercepat selesainya jet lag, suatu resep yang

diketahui para international traveller :-).

 

 

       

 


FastCounter by bCentral