Catatan Penyelaman di Perairan Komodo

Indonesia Media

Menjenguk Rehabilitasi Karang di Papagarang

Sesuai jadwal, para relawan IR 2007 akan kembali ke Jakarta dari Labuhan Bajo sekitar pukul 12.00 WITA, setelah melakukan kegiatan di perairan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Pada pukul 08.00 WITA rombongan diterima oleh Bupati Manggarai Barat di ruang kerjanya.

Berikut catatan harian milik Debbie Hanna mengenai kegiatan penyelaman di Taman Nasional Komodo, yang dilakukan dengan tinggal di atas kapal (liveaboard).

 

Hari Pertama (31/5)
Pukul 05.30 WITA seluruh relawan telah membereskan barang bawaan, maklum pukul 07.00 nanti kita harus telah bersiap di Pelabuhan Pelni. Kami menyantap sarapan di Restoran Filemon, yang berada di dekat pelabuhan. Di sini kami dikenalkan dengan dua divemaster dari Balai Taman Nasional Komodo yang akan ikut dalam kegiatan ini, Pak Yitno dan Pak Soleh. Lalu juga ada dr Kadek yang akan mengisi pos kesehatan. Setelah sarapan kelar, kami mengadakan sesi pemotretan sebagai bahan laporan ke Jakarta.

 

Semua urusan telah beres, kami menuju pelabuhan. Rupanya di sana kami telah ditunggu oleh kapal Johannes III milik CN Dive yang telah sandar di Pelabuhan Pelni, Labuhan Bajo. Kami dikabarkan bahwa kapal Floating Ranger Station (Pos Patroli Apung) Salmon milik Putri Naga Komodo sedang mengisi bahan bakar, kapal ini juga akan mengantarkan relawan melakukan penyelaman selam tiga hari ke depan di perairan Taman Nasional Komodo. Setelah menunggu 1 jam, akhirnya kami memutuskan tim relawan akan berangkat terlebih dahulu dengan kapal Johannes III, karena FRS Salmon belum selesai mengisi bahan bakar.

 

Rupanya kami tak juga bisa langsung pergi, sebab masih harus menunggu perizinan sekitar satu jam. Karena sudah terlampau siang, kami memutuskan untuk tidak singgah di Loh Buaya untuk melihat aktivitas komodo. Kami lebih mendahulukan kegiatan penyelaman yang pertama di Pulau Papagarang. Alasannya, bila terlampau siang, arus perairan ini akan
semakin kencang. Maka, hari ini kami akan berpacu menghindari arus yang kuat.

 

Lama perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam itu ternyata tak terasa. Maklum, relawan kegiatan perdana IR 2007 ini kebanyakan heboh semua. Kami nggak pernah sepi dari obrolan. Tawa dan canda adalah pengisi waktu luang kami. Seorang penyalam relawan asal Filipina, Arianne, punya ide canggih. Ia magang mengemudikan kapal sementara Keke asyik mengabadikan gambar lumba-lumba.

 

Rombongan teman-teman PNK (Fajar, Mimi, Rini) ternyata sudah tiba di Papagarang, sebab mereka memakai speedboat. Pak Soleh, divemaster dari Balai TNK memberikan penjelasan singkat mengenai coral rehabilitation. Luas wilayah rehabilitasi sekitar 10 hektar dan dibagi beberapa kelompok. Hampir 80 persen ekosistem di sekitarnya sudah terbentuk. Sekitar pukul 12.00 WITA penyelaman pertama di wilayah rehabilitasi terumbu dimulai.

 

Sementara teman-teman relawan menyelam, saya, Sari dan dr. Kadek ber-snorkling ria di sekitar pulau. Wah, snorkling saja kita sudah bisa melihat pelbagai jenis ikan, karang lunak dan karang keras juga bagus. Sekitar satu jam, temen-teman relawan telah beres menyelam. Kami pindah kapal, ke FRS Salmon untuk makan siang. Sambil menunggu surface interval selama satu setengah jam, kapal menuju ke arah pantai Merah. Di tempat itu akan menjadi lokasi penyelaman kedua. Sungguh beruntung tim relawan IR 2007 dipimpin oleh seorang koordinator selam yang melegenda di Labuan Bajo, Pak Condo Subagyo. Bapak kita ini sudah 20 tahun menjalankan profesi sebagai penyelam di perairan Komodo dan sekitarnya. Pak Condo sangat hati-hati untuk memilih lokasi penyelaman yang aman dan berarus kecil.


Seusai penyelaman kedua, kami bersiap menuju Kampung Komodo, meski waktu sudah menjelang senja. Menggunakan speedboat CN Dive, kami diantarkan ke arah pantai. Begitu sampai, kami langsung disambut anak-anak. Rupanya mereka senang banget bila kita foto. Anak-anak itu pasang gaya begitu kami mengeluarkan kamera dari dalam tas.

 

Di antara keriaan sejenak itu, seorang anak perempuan, usianya sekitar enam tahun, menghampiri saya. ”Kak, bolpennya boleh buat saya?” katanya kepada saya. Alamak! Kok cuma minta bolpen? balas saya membatin. Ya sudah karena permintaan sang anak yang telampau mudah itu langsung segera luluskan. Dan ia tampak begitu gembira. Bolpen itu dipamerkannya kepada kawan-kawan mainnya. Melihat kegembiraannya, saya pun hanya bisa termangu...

 

Anak-anak Kampung Komodo hanya bisa menamatkan sekolah tingkat dasar di wilayahnya sendiri. Untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, SMP atau SMA, mereka harus merantau ke Labuhan Bajo. Setiap dua minggu sekali, PNK mengadakan kelas pengenalan
konservasi laut ke anak-anak setempat. Kami berkunjung ke kepala desa setempat. Beliau menjelaskan ada 500 KK di wilayahnya, mayoritas mata pencaharian penduduk sebagai nelayan. Bila di musim buah asem tiba, biasanya mereka mengolah buah asem jadi sirop yang bisa dijual di kota. PNK bekerjasama dengan Balai TNK juga mengajak masyarakat setempat untuk meningkatkan kesadaran menjaga wilayah konservasi dari pemburu-pemburu liar yang berusaha mengambil ikan secara ilegal.


Setelah kunjungan, kami kembali ke FRS Salmon, menyantap makan malam. Kapal mulai
bergerak ke arah Loh Liang untuk bermalam. Beres santap malam, PNK memutarkan film yang bertutur mengenai penangkapan ikan hias ilegal di wilayah Bali. Kami ditunjukkan cara mengambil ikannya menggunakan potasium, pengambilan teripang secara berlebih untuk
konsumsi. Semua komoditas itu kebanyakan diekspor ke Singapura, Malaysia, Jepang, Cina.
Pukul 22.00 WITA seluruh relawan telah meringkuk di ranjang masing. Sementara kapal Johannes III terus membawa kami ke lokasi penyelaman yang ketiga. Bobok dulu ya, nanti ceritanya saya teruskan lagi... Seperti di sinetron di televisi... Bersambung....

 

 

       

 


FastCounter by bCentral