Penyelaman Pertama
di Pulau Papagarang
(Debbie Hanna/IM)
Hoahhmmm....
Tidur pulas saya dibangunkan oleh klakson kapal sebanyak
tiga kali. Duh, rasanya saya masih ingin meneruskan kegiatan
meringkuk saya di atas ranjang milik Hotel Bajo Beach di
Labuhan Bajo, namun bila mengingat jadwal kegiatan Indonesia
Reef 2007 semangat saya kembali meletup. Hari ini, tim relawan
akan melakukan penyelaman pertama di perairan Pulau Papagarang.
Jaraknya sekitar dua jam perjalanan laut dari Pelabuhan
Pelni, yang berada di dekat hotel.
Saya
segera membersihkan diri dan mulai memeriksa barang yang
masih ada di dalam kamar. Pada pukul 07.00 WITA, seluruh
tim relawan telah berkumpul. Kami menyantap sarapan di Hotel
Gardena, yang juga menjadi mitra kegiatan IR 2007. Beres
mengisi perut, kami mendapatkan pengarahan singkat dari
Putri Naga Komodo dan Balai Taman Nasional Komodo mengenai
penyelaman pertama nanti.
Para peneliti dari kedua lembaga itu kembali
mengingatkan bahwa Taman Nasional Komodo (TNK) terkenal
sebagai salah satu tempat yang memiliki arus tercepat di
dunia yang kadang menyerupai sungai yang sedang mengamuk.
Penyebab gerakan air yang cepat adalah karena Komodo dan
Rinca membentuk lintasan leher botol antara dua badan air
yang besar dan dalam, yaitu Samudera Pasifik di utara dan
Samudera Hindia di selatan. Secara umum, arus di Komodo
dapat berkisar dari 0 sampai lebih dari 8 knot tergantung
pada lokasi dan pasang-surut. Jarak maksimum perbedaan antara
pasang dan surut di Taman Nasional Komodo berkisar 1,5 meter.
Usai
melakukan pemeriksaan alat-alat penyelaman, kami berkumpul
di kapal milik CN Dive, sementara kapal milik Putri Naga
Komodo (PNK), yang disebut salah satu kapal pos jaga apung
(floating ranger station/FRS) Salmon tengah mengisi bahan
bakar. Saya melirik arloji, sekitar pukul 08.00 WITA. Sambil
menunggu, kami kembali berdiskusi soal metode terumbu di
TNK yang menggunakan SPAGs (Spawning Aggregation Site) monitoring,
reef health monitoring, resource use monitoring, dan occasional
observation. Menurut para peniliti itu, metode itu digunakan
dengan tujuan untuk memberikan informasi agar pengelolaan
bisa adaptif, mengukur kinerja pengelolaan, meningkatkan
kehadiran pengelola di wilayah taman nasional sehingga dapat
membantu mencegah kegiatan terlarang.
Obrolan
kami terhenti. Kapal FRS Salmon telah tiba. Kami segera
lego jangkar menuju perairan Pulau Papagarang, yang akan
dicapai sekitar dua jam perjalanan laut. Kami ditemani seorang
dokter jaga, dr Kadek, Pak Hendrikus Rani Siga selaku Kepala
Seksi Pengelolaan Taman Nasional Komodo wilayah Pulau Rinca,
dua dive master dari Balai TNK (Pak Soleh dan Pak Yitno),
penyelam dari CN Dive.
Hingga sejauh ini, perjalanan kami berlangsung
lancar. Saat tiba di Bandara Komodo kemarin, Rabu (30/5),
para relawan disambut dengan kepok curu, yaitu upacara adat
Manggarai Barat untuk menerima tamu istimewa, dengan menyerahkan
seekor ayam putih dan satu botol tuak dari tetua adat kepada
perwakilan
relawan. Dan di sela perjalanan laut, saya melihat Arianne
tengah “magang” menjadi nakhkoda kapal milik CN Dive. Perempuan
yang gemar menyelam ini selalu menampakkan wajah ramahnya,
penuh senyum dan canda. Sementara Kiki dan Mingkwan beristirahat
di dek, para lelaki melanjutkan obrolan mereka. Dan kami
sempat melihat tontonan gratis: empat ekor lumba-lumba di
sisi kapal.
Menjelang siang, kami telah mencapai Pulau
Papagarang. Kami segera menyiapkan peralatan selam. Seluruh
relawan tampak tak sabar menikmati aksi pertama mereka.
Kami akan melihat rehabilitasi karang yang dikerjakan PNK.
Ketika semuanya siap, satu per satu relawan mulai terjun.
Sekitar
pukul 13.00 WITA, penyelaman pertama selesai. Relawan Gordan
Yap melaporkan bahwa di tempat ini banyak karang yang telah
mati, namun sejauh ini masih baik kondisinya. Karang-karang
itu masih cukup menarik bagi para wisatawan selam. “Tapi
kita tak boleh luput untuk menjaga kelesatriannya,” pesannya
dengan bersemangat. Ia juga bilang kalau dirinya sempat
melihat bagian karang mati dan yang masih hidup terbagi
wilayahnya.
Setelah makan siang, kami melanjutkan ke Pantai
Merah bagian barat. Di sana, kami akan memeriksa kondisi
terumbu karang, yang dijadwalkan berlangsung pada pukul
15.00 WITA dan dilanjutkan dengan snorkeling di pantai itu.
Seru kan? Nantikan kisah kami tentang pemeriksaan terumbu
pada cerita saya selanjutnya. Saya ingin bergabung dengan
teman-teman relawan yang sudah menikmati santap siang mereka
di atas kapal.
Para
relawan berfoto bersama di dekat Philemon Information Centre,
menjelang keberangkatan ke perairan Taman Nasional Komodo,
Kamis (31/5).
|