|
|
SBY Panik Dengar Koalisi
Golkar-PDIP
(JBP/aco/yat/z/IM)
Sudi Silalahi Konfirmasi
ke Ketua Fraksi Golkar; Juli Dilanjutkan di Palembang; Akan
Mempertemukan Mega-Kalla; Membahas Koalisi di Pembahasan
Paket RUU Politik
Jakarta, Tribun -- Pertemuan elite dua partai "raksasa",
Partai Golkar dan PDIP, di Medan, Rabu (20/6), membuat Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) panik. Apalagi setelah pertemuan
Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh dan Ketua
Dewan Pembina PDIP Taufik Kiemas tak menampik kemungkinan
terbuka koalisi pada pemilihan presiden-wakil presiden 2009
mendatang.
"Yah presiden panik. Saya diberitahu
Mas Priyo (Priyo Budi Santoso Ketua Fraksi Golkar DPR RI).
Dia ditelepon Sudi (Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Kabinet).
Tanya soal itu. Itu kan panik," kata Ketua Fraksi PDIP
DPR RI Tjahyo Kumolo, usai diskusi mingguan, di Gedung DPR
RI Jakarta, Jumat (22/6).
Priyo yang dikonfirmasi soal ini hanya tersenyum. "Ah,
jangan sayalah ditanya begituan. Tidak enak," jelasnya.
Menurut Tjahyo, Sekjen PDIP Pramono Anung
juga mendapat banyak telepon dari "orang dalam"
lingkaran Istana Negara, pertanyakan soal rencana koalisi
ini. "Tanya Pak Sekjen, coba?" beber Tjahyo.
Pertemuan petinggi PDIP-Golkar di Medan dua hari lalu adalah
pertemuan kedua kalinya petinggi parpol tersebut setelah
pertemuan pertama digelar 20 Mei 2007 lalu di kediaman Ketua
Umum GP Ansor Saefullah Yusuf dalam HUT GP Ansor ke-37.
Dalam pertemuan itu Taufiq Kiemas dan Jusuf Kalla hadir
bersama petinggi kedua partai. Presiden SBY tidak diundang
dalam pertemuan itu.
Sumber Tribun di Golkar, menyebutkan pertemuan
itu adalah komunikasi lanjutan guna membahas rencana pembahasan
paket RUU Politik yang dijadwalkan Juli mendatang. Sumber
itu menyebutkan RUU Politik itulah yang bisa menyatukan
kepentingan Golkar dan PDIP.
"Dengan suara yang mencapai 43 persen
di parlemen, Golkar dan PDIP hanya butuh tambahan 12 anggota
DPR untuk meloloskan keinginannya memperkecil kuota parpol
pada pemilu 2009," kata sumber itu. Pada pembahasan
RUU nanti, Golkar dan PDIP sepakat untuk mengembalikan sistem
distrik seperti pemilu 1999. Sistem pemilu 2004 oleh partai
Menurut Tjahyo pertemuan serupa akan digelar intensif di
beberapa kota di Indonesia. "Juli nanti di Palembang,
kampung Pak Taufik," jelasnya. Apakah akan menghadirkan
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri dan Ketua Umum Golkar
Jusuf Kalla? "Yah nanti kita lihat," jelas Tjahyo.
Priyo meminta kepada Partai Demokrat sebagai partai pendukung
utama pemerintah, untuk tidak mencemburui gagasan koalisi
bersama yang dibangun dengan PDIP. Priyo beralasan, Golkar
dan PDIP adalah sama-sama partai besar.
"Tolong kami dipahami, jangan dimarahi
oleh rekan-rekan saya di Demokrat. Apakah kemudian dibalik
itu ada sebuag grand design, atau ada hidden agenda, itu
kan pinter-pinternya orang menerka apa gerangan yang terjadi.
Saya juga melihat, ada beberapa pimpinan partai yang ingin
bergabung dengan ide ini, ada pula yang dengan sinical,
isu kebangsaan bukanlah isu-isu yang baru," sambung
Priyo.
Golkar Diajak Jadi Oposan
KETUA Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo membuat pengakuan strategis.
Dia ternyata mengajak Ketua Umum DPP Partai Golkar yang
jugta Wakil Presiden Jusuf Kalla itu untuk menjadi oposan.
Dengan syarat, bila bila Partai Golkar mau mengikuti jejak
PDIP.
"Yang jelas, PDIP ingin menuntaskan sikap oposisi ini
sampai 2009. Soal nanti, setelah 2009 akan ada koalisi baru
dengan Golkar, kita lihat nanti. Kita tidak mengajak Golkar
beroposisi, tapi kalau iya, mau, ya alhamdullilah,"
kata Tjahjo.
"Karena ini menarik. Mislanya, sebuah
keputusan-keputusan politik, kebijakan luar negeri pemerintahan
pak SBY, bayangannya kan pasti didukung oleh sejumlah partai
atau fraksi yang mendukung. Tapi, justru, partai-partai
pendukung pemerintah, mengambil langkah-langkah yang berseberangan.
Ini kan menarik. Jadi, apakah nanti ada koalisi atau tidak,
ya kita lihat nanti," kata Tjahjo lagi.
| |