Ratusan TKW di Arab Bermasalah

(pikiran-rakyat.com/IM)

Sedikitnya 400 tenaga kerja wanita (TKW), asal Indonesia yang saat ini menempati tahanan wanita di Riyadh Saudi Arabia, membutuhkan uluran tangan pemerintah Indonesia. Mereka sulit memperoleh paspor pengganti (SPLP) sehingga sulit untuk pulang ke Indonesia.
Kedutaan Besar RI di Riyadh dinilai kurang peduli terhadap nasib mereka. Tidak jarang TKW-TKW yang menempati tahanan itu menjadi korban pelecehan dan pemerasan warga setempat.
Hal itu disampaikan seorang TKW yang baru pulang dari Arab Saudi, Ratna. Pernyataan itu dibenarkan oleh Staf Perlindungan TKI Departemen Luar Negeri RI, TW Soeseno yang dihubungi lewat telefon di Jakarta.
Menurut Soeseno, banyak TKI dan TKW yang tengah bermasalah dan saat ini menunggu penyelesaian di Riyadh. Soeseno juga mengakui banyaknya TKI/TKW yang menjadi korban penyiksaan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh majikannya masing-masing atau keluarga dari majikannya
Kesaksian disampaikan oleh Ratna (40), warga Kampung Pasapen RT 01 RW 06 Desa Bantargadung Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi, Selasa (15/5) kemarin. Ratna baru beberapa hari ini kembali ke tanah air setelah kabur dari majikannya karena mendapat perlakuan tidak manusiawi.
Ratna juga sempat mendekam di penjara wanita di Riyadh selama hampir dua bulan. Di tempat itu, Ratna menyaksikan dengan TKW asal Indonesia, terutama Jawa Barat, yang menjadi korban kebiadaban majikan, anak majikan atau istri majikan. "Saya masih beruntung bisa kembali ke tanah air karena saya melakukan perlawanan. Setelah saya berbicara dengan ratusan tahanan wanita di Riyadh, saya mengusap dada, ternyata nasib saya jauh lebih beruntung dibanding TKW-TKW lainnya yang ada di tahanan itu. Bahkan ada beberapa orang TKW Indonesia yang menderita gangguan jiwa," ujar Ratna yang ditemui di rumahnya.
Wanita bertubuh tinggi besar dan telah memiliki dua anak ini mengungkapkan, awalnya ia pergi ke Arab Desember 2006 untuk bekerja sebagai seorang penjahit pakaian di Riyadh. Namun, pada kenyataannya dipekerjakan di luar Kota Riyadh, yaitu di Kota Al Ghasim Muraidah. "Benar dijadikan penjahit dengan gaji 1.200 real/bulan. Tapi itu hanya berjalan satu minggu, selebihnya saya menjadi kerja ganda. Jadi penjahit juga pembantu rumah tangga di keluarga itu.
"Saya tentu protes, karena niat dan kontraknya bukan sebagai pembantu rumah tangga. Tapi saya tidak berbuat banyak dan akhirnya menuruti keinginan majikan, walaupun saya bekerja hampir 24 jam dan tidur dengan cara mencuri-curi," kata Ratna.
Setelah berjalan dua bulan, suatu hari ketika Ratna disuruh mencuci 50 selimut. Ratna langsung menolak, majikannya memaksa, akhirnya timbul pertengkaran. "Ini terjadi sekitar awal Maret 2007 lalu dan malam harinya saya kabur ke Riyadh. Sesampainya di Riyadh, saya ditangkap polisi setempat karena tidak memegang paspor dan surat-surat lainnya dan akhirnya dijebloskan ke Thasaul," tutur Ratna.
Di Kamp Thasaul inilah Ratna mendengar, bahkan menyaksikan beberapa TKW asal Indonesia yang gila karena mendapatkan perlakuan biadab dari keluarga majikannya. TKW bernama Lia (21) asal Brebes, gila karena berulangkali diperkosa anak majikan beserta kelompok anak majikan. Selanjutnya Jubaedah TKW asal Indramayu yang juga mengalami nasib yang sama seperti Lia, kemudian TKW asal Karawang yang satu pesawat dengan ratna ketika kembali ke Indonesia. " Mereka yang stres kebanyakan cantik-cantik dan berdasarkan pengakuannya, wanita-wanita malang itu menjadi korban perkosaan atau pelecehan seksual. Mereka meminta untuk dipulangkan ke Indonesia, tapi yang menjadi masalah sulitnya mendapatkan paspor sementara karena paspor-paspor mereka ditahan majikannya masing-masing dan setelah ditelusuri alamatnya tidak jelas," kata Ratna.

       

 


FastCounter by bCentral