Masih Lumpur Lapindo

(ADO/Tim Liputan 6 SCTV /IM)

Belum jelas langkah apa yang akan dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyelamatkan warga korban semburan lumpur panas Lapindo. Selasa (26/6) siang tadi, Presiden melakukan tinjauan udara untuk melihat dampak semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur.
Luberan lumpur Lapindo saat ini telah menggenangi lebih dari 600 hektare tanah di 12 desa. Jumlah areal yang tergenang masih akan bertambah karena hingga detik ini, lumpur terus menyembur dari perut bumi. Sedikitnya 21 ribu warga terpaksa mengungsi. Tak hanya rumah yang hilang, kehidupan sosial bahkan akal sehat pun ikut "terbenam" lumpur Lapindo.
Sebelum memantau dari udara, Presiden mendengarkan pemaparan PT Lapindo Brantas dan PT Minarak. Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup ini, Presiden mendengarkan penjelasan soal perkembangan pembayaran ganti rugi. Hingga saat ini, hanya sebagian kecil warga yang sudah memperoleh pembayaran uang muka ganti rugi sebesar 20 persen.
Presiden juga mendengarkan paparan dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Rencananya malam nanti, Presiden akan memberikan keterangan pers seputar langkah-langkah menyelesaikan masalah lumpur Lapindo. Langkah yang diharapkan mampu memberi jawaban konkret bagi warga yang selama setahun ini teraniaya.
Sementara itu, warga kecewa karena Presiden hingga hari ini belum menemui para pengungsi lumpur Lapindo di Pasar Porong. Kekecewaan dilampiaskan dengan unjuk rasa di depan pengungsian. Warga juga memblokir akses jalan truk pengangkut pasir dan batu di bekas jalan Tol Porong-Gempol. Akibatnya, puluhan truk yang memasok sirtu untuk penguatan dan peninggian tanggul terhambat.
Aksi serupa terjadi di Jakarta. Ratusan korban lumpur Lapindo mengkritisi kunjungan Presiden ke Sidoarjo jika akhirnya warga tak juga memperoleh ganti rugi. Kritik juga datang dari Wakil Rakyat yang menerima kehadiran para korban
Langkah Presiden datang ke Sidoarjo juga tak melunakkan para anggota DPR yang mengusung wacana interpelasi. Mereka telah mengegolkan usulan interpelasi untuk Sidang Paripurna pada 10 Juli mendatang dengan dukungan 141 anggota DPR.
Para penggagas interpelasi ini bahkan semakin keras di antaranya dengan meminta pencopotan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie karena terkait dengan PT Lapindo Brantas. Langkah Presiden yang langsung turun ke lokasi pun dianggap menunjukkan ketidakmampuan para menteri menangani kasus Lapindo.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)
Pada saat hampir bersamaan, di Jakarta ratusan korban lumpur Sidoarjo justru berunjuk rasa di depan Gedung DPR-MPR. Tuntutan mereka sama seperti unjuk rasa sebelumnya, yaitu percepatan pembayaran ganti rugi. Mereka juga tetap menuntut pembayaran ganti rugi tunai langsung sesegera mungkin
Selain itu, mereka tidak setuju bila Presiden Yudhoyono berada di Sidoarjo tanpa bisa menyelesaikan masalah yang ada. Kehadiran warga pun disambut anggota Dewan penggagas interpelasi Lapindo dengan ikut berorasi bersama. Seusai berorasi, para korban lumpur panas ini diizinkan masuk ke halaman Gedung DPR. Sebanyak 20 orang di antaranya bahkan dibolehkan mengikuti rapat paripurna DPR yang sedang berlangsung.

Rencananya, tanggal 10 Juli mendatang rapat paripurna DPR akan memutuskan melalui voting, apakah usulan untuk mengajukan interpelasi kasus lumpur Lapindo diterima atau tidak .

       

 


FastCounter by bCentral