|
|
Gus Dur: Abu Dujana
dan Zarkasih Memang Teroris
(detik.com/IM)
Meski
belum ada putusan pengadilan, Polri tidak perlu mencabut
status terorisme yangselama ini dilekatkan pada Abu Dujana
dan Zarkasih. Dua petinggi Jamaah Islamiyah (JI) itu memang
teroris.“Kenapa mesti dicabut? Mereka memang teroris kok,”
cetus Ketua Dewan Syuro PKB Gus Dur kepada wartawan melalui
telepon, Sabtu (23/6).
Gus Dur menanggapi desakan Tim Pembela Muslim (TPM) agar
Polri mencabut status terorisme pada dua kliennya yang kini
masih berstatus sebagai tersangka teroris itu.
Selaku ulama, Gus Dur sangat keberatan dengan penggunaan
istilah jihad oleh kelompok terorisme sebagai alasan pembenaran
terhadap aksi-aksi kekerasan mereka. Kenyataannya sasaran
mereka tidak fokus dan justru korban yang jatuh adalah masyarakat
umum yang tidak mengerti permasalahan.
Jangan
menganggap ilmu agama Abu Dujana dan para teroris itu tinggi.
Mereka tidak ada apa-apanya. Jihad adalah memerangi setiap
hal yang tidak baik, termasuk dari pemimpin kita sendiri.
Di sekeliling kita masih banyak hal yang tidak benar dalam
arti yang sebenarnya, kok mereka diamkan saja. Jadi apa
arti semua tindakan mereka itu,” cetus mantan presiden ini.
Fakta dan Proses Penangkapan Abu Dujana Versi Polisi
Dianggap brutal dalam proses penangkapan Abu Dujana membuat
Polri gerah. Berita yang menyudutkan Polri, dalam hal ini
Densus 88 Antiteror, tersebut ditepis mentah-mentah. Polri
membeberkan fakta dan proses penangkapan pria asal Cimahi
itu melalui keterangan tertulis yang dirilis Mabes Polri
seperti disampaikan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno
Adiwinoto,
Sabtu (23/6). Isinya:
Menanggapi adanya pemberitaan di media massa yang menyudutkan
Polri cq Densus 88/Anti Teror dalam penangkapan tersangka
teroris Abu Dujana alias Ainul Bahri alias Abu Musa alias
Shorem alias Pak Guru alias Yusron Mahmudi alias Dodi alias
Sobirin, yang seolah-olah Polri bertindak brutal, melanggar
HAM dan menyalahi prosedur, dapat disampaikan penjelasan
yang komprehensif agar dapat diketahui dan dipahami tentang
proses penyidikan panjang yang dilakukan oleh Polri terhadap
jaringan terorisme dan tindakan teror yang dilakukan di
Indonesia, terutama sayap militer Al-Jama’ah Al-Islamiyyah
atau Sariyah yang dipimpin oleh tersangka teroris Abu Dujana
yang memiliki 7 nama samaran, melalui penjelasan tentang
profil Abu Dujana, fakta dan proses penangkapannya sebagai
berikut:
Fakta
penangkapan tersangka teroris anggota senior Al-Jama’ah
Al-Islamiyyah.
Sejak menangani kasus teror di Indonesia, Densus 88/Anti
Teror Polri memperoleh pengalaman yang sangat berharga dalam
menangkap tersangka teroris yang berasal dari anggota senior
Al-Jama’ah Al-Islamiyyah, yaitu sebagian besar tersangka
melakukan perlawanan dengan senjata api atau bom, berusaha
merebut senjata petugas, atau melawan dengan tangan kosong.
Perlawanan tersebut sangat membahayakan jiwa petugas
Polri, meskipun perlawanan tersebut dengan tangan kosong,
karena mereka sangat terlatih dan memiliki pengalaman dibidang
kemiliteran. Keberanian dan kenekatan tersangka tersebut
juga didasari oleh ideologi dan semangat jihad yang siap
mati secara terhormat. Sehingga dalam setiap penangkapan
yang dilakukan oleh Polri, mereka memegang suatu prinsip
bahwa “Polri tidak boleh menangkap dengan gratis”.
Fakta penangkapan Abu Dujana
Berdasarkan fakta tersebut dan pengalaman selama ini di
lapangan serta keterangan para saksi sebagai berikut:
Abu Dujana menggerakkan Askhary-nya, mengirimkan bahan peledak
dan persenjataan serta amunisi ke Poso untuk melawan pemerintah/polisi
yang dicap sebagai toghut (syetan besar).
Abu Dujana memutuskan untuk melakukan penyerangan dan pembalasan
terhadap petugas Polri/Densus 88 yang telah berhasil pada
bulan Januari 2007 melumpuhkan operasi Jihad Al-Jama’ah
Al-Islamiyyah di Poso, maka Kasatgas memberikan arahan kepada
seluruh anggota Satgas yang akan melakukan penangkapan terhadap
Abu Dujana, baik dari segi strategi, taktik dan teknik penangkapan
agar mengutamakan keselamatan diri dan masyarakat di sekitarnya,
dalam setiap penangkapan tersangka teroris anggota senior
Al-Jama’ah Al-Islamiyyah.
Di samping itu, berdasarkan keterangan para saksi diketahui
bahwa Abu Dujana selalu membawa senjata api genggam Norincho.
Adapun proses penangkapannya adalah sebagai berikut:
Sesuai dengan keterangan tetangga Abu Dujana bahwa yang
bersangkutan jarang di rumah dan kalau pergi sering lama
sekali (berbulan-bulan), di samping itu situasi dan kondisi
lingkungan tempat tinggal Abu Dujana tidak mudah untuk melakukan
observasi dan surveillance.
Semula petugas Polri akan melakukan penyergapan ke rumah
Abu Dujana pada hari Jumat tanggal 8 Juni 2007 sore. Untuk
memastikan bahwa Abu Dujana berada di rumah, maka petugas
Polri melakukan observasi melalui beberapa arah.
Pada
hari Sabtu tanggal 9 Juni 2007 pagi, ketika seorang petugas
Polri melakukan observasi ke arah rumah Abu Dujana melalui
jalan belakang, tiba-tiba tersangka Abu Dujana keluar dan
menggembok rumah dan langsung naik motor bersama anak-anaknya.
Petugas Polri yang berpapasan dengan tersangka Abu Dujana,
yang sedang naik motor, langsung secara spontan sendirian
(satu lawan satu) berusaha menangkap tersangka. Namun, karena
ternyata tersangka melakukan suatu perlawanan yang amat
sangat gigih, maka terjadilah pergumulan/pergulatan satu
lawan satu, yang menyebabkan petugas Polri kewalahan. Bahkan
kemudian tersangka Abu Dujana dalam posisi lebih menguntungkan
untuk dapat merampas senjata milik petugas Polri.
Oleh karena itu, petugas Polri melakukan tindakan
pelumpuhan dengan penembakan ke arah tubuh bagian bawah
dan terkena pada paha kiri. Keputusan dan pilihan tindakan
pelumpuhan terhadap tersangka Abu Dujana dilakukan untuk
menghindari risiko petugas Polri menjadi korban.
Pengalaman selama ini, tersangka Abu Dujana
sangat waspada dan selalu curiga terhadap siapapun, bahkan
sudah berkali-kali berhasil kabur ketika dilakukan penangkapan
di wilayah Jawa Tengah. Setelah tersangka dilumpuhkan, langsung
dibawa ke rumah sakit untuk diberikan pertolongan pertama
dan pengobatan.
Dari keterangan tersangka Abu Dujana kepada pemeriksa juga
membenarkan bahwa tersangka memang melakukan perlawanan
yang amat sangat gigih terhadap petugas Polri yang melakukan
penangkapan sampai terjadi pergumulan/pergulatan.
Abu Dujana Anggap Polisi Toghut
Teroris asal Cimahi, Jawa Barat, Abu Dujana alias Ainul
Bahri menganggap polisi toghut, yang artinya setan besar.
Karena itu dia selalu mengarahkan anggotanya untuk melawan
aparat polisi.
Penilaian Abu Dujana terhadap aparat itu tertuang dalam
keterangan tertulis Mabes Polri seperti disampaikan Kadiv
Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto, Sabtu (23/6).
Dalam surat tersebut, Polri menjelaskan profil teroris yang
memiliki 7 nama berbeda itu.
Dibeberkan, Abu Dujana mengikuti pendidikan kemiliteran
di Mujahidin Military Academy di Training Camp Sadaa, border
Afghanistan-Pakistan, Angkatan ke VII tahun 1991 dengan
predikat lulusan terbaik (kemudian bekerja sebagai Administrator
di kantor NII Phesawar).
Dia kemudian ditunjuk sebagai Instruktur kemiliteran di
Training Camp Al-Jama’ah Al-Islamiyyah di Turkhom, Afghanistan
tahun 1992. Abu Dujana diketahui memiliki kemampuan kemiliteran
seperti persenjataan, merakit bom, intelijen, map reading,
menembak, taktik infanteri, dan sebagainya.
Abu Dujana juga memiliki hubungan dengan
Al Qaeda dan pernah bertemu beberapa kali dengan Osama bin
Laden di Afghanistan. Dia juga melatih di Al-Jama’ah Al-Islamiyyah
Military Academy di Training Camp Hudaibiyah, Mindanao Selatan,
Filipina tahun 1999.
Abu Dujana diketahui sebagai anggota Senior Al-Jama’ah Al-Islamiyyah
dengan jabatan terakhir Qoid Sariyah (Askhary), Pimpinan
Sayap Militer Organisasi Al-Jama’ah Al-Islamiyyah.
Abu Dujana memiliki peran yang sangat penting dan strategis
dalam kegiatan operasi, khususnya mengendalikan personel
dan logistik (bahan peledak, bom, amunisi, dan persenjataan)
dalam jumlah yang besar. Sebagai Qoid Sariyah, Abu Dujana
selalu mengarahkan anggotanya untuk melawan petugas Polri
yang akan menangkapnya, karena polisi dianggap toghut (syetan
besar).
Abu Dujana diketahui secara tertutup sudah merencanakan
pindah rumah dan sudah menyuruh anggotanya untuk mencari
rumah kontrakan baru, sehingga apabila Abu Dujana lolos
dari pengamatan, maka akan sangat sulit untuk menemukan
kembali.
| |