Ayah
Dr. Irawan / Indonesia Media
Father's Day umumnya tidak sepopuler Mother's Day, namun banyak hal-hal penting yang bisa digali dan direnungkan dari apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak dari seorang ayah selain dari tanggung jawab financial sebagai kepala keluarga. Agaknya pengertian status kepala keluarga dari seorang ayah dewasa ini juga menjadi rancu karena perkembangan zaman yang menuntut persamaan hak perempuan (ibu) dengan Pria (ayah).
Peran seorang ayah
Sering kita menganggap bahwa pendidikan anak itu adalah tanggung jawab ibu, karena ayah 'kan sibuk cari uang diluar. kuncinya seorang anak bisa jadi sukses serta membanggakan keluarga dan masyarakat itu adanya dari pendidikan orang tua yang utuh, yaitu ayah dan ibu.
Sesuai dengan kodratnya seorang ayah tetap saja masih mempunyai perbedaan dengan ibu, untuk itu tentunya mempunyai kemampuan tertentu dalam membina perkembangan karakter dan daya pikir anak untuk bekal menghadapi kenyataan hidup nantinya.
Mulai dari usia dini
Sering kita berpendapat tidak perlu mengajarkan kepada anak kita hal-hal yang terlalu kompleks (menurut kita) kepada anak yang kita rasa masih terlalu muda untuk menyerapnya. Sebenarnya anak umur umur 3-4 tahun sudah mempunyai kemampuan (cognitive) untuk mengerti yang salah dan yang benar secara mendengar cerita atau dongeng. sedikit demi sedikit bawalah makna dari dongengan itu pada kasus sehari hari sehingga si anak terbiasa dengan pendidikan yang dibawakan lewat cerita.
Waktu sangat cepat berlalu, jangan kita berpikir, nanti saja toh masih ada waktu. Selanjutnya saat anda sadar ternyata anak anda sudah jadi orang tua dari anaknya. Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang sibuk berorganisasi sibuk bersosialisasi di masyarakat, tapi mereka terkadang lupa masih ada tugas penting di keluarga sendiri. Melayani masyarakat seyogyanya dimulai dengan melayani keluarga sendiri, dan tentunya mampu juga melayani diri sendiri dulu. Prinsip inilah yang harus berani kita meneladani dihadapan anak kita.
Kedekatan seorang ayah kepada anaknya akan memberikan rasa aman dan kepercayaan diri kepada perkembangan anak itu sendiri. Semakin kita membangkitkan kepercayaan diri pada anak kita semakin mereka menyadari akan tanggung jawabnya. Misalnya anak yang kita bimbing untuk memenangkan prestasi, secara sendirinya mereka berusaha untuk mempertahankan prestasinya, dan belajar lebih giat, pada gilirannya mereka secara sadar atau tidak akan mempunyai karakter yang mantap dan bertanggung jawab.
Effisiensi
Waktu memang merupakan kendala untuk orang tua, terutama untuk seorang ayah, tapi bukan berarti kita tidak bisa mendidik anak kita lebih effisien lagi. Misalnya, kala kita bersosialisasi keluar bisa saja kita melibatkan anak kita untuk berpartisipasi dalam acara-acara sosial tersebut.seperti pada aktivitas kerohanian, atau aktivitas kemasyarakatan lainnya
Bila anda mengalami suatu problem dalam kehidupan sehari-hari dan akhirnya anda bisa mendapatkan solusinya, hantarkanlah kasusnya kepada anak anda sehingga mereka kelak jika mengalami kasus serupa tidak perlu bersusah payah untuk menanggulanginya. Jangan selalu berpikiran bahwa anak kita mungkin masih terlalu muda untuk mengetahui urusan ini. Anak sekarang sudah lebih canggih dibanding ketika kita seusia mereka.
Ciptakanlah lingkungan yang damai dan tenteram didalam keluarga kita agar anak tidak perlu merasakan beban seperti pertengkaran keluarga. Hindarilah gangguan psikologi yang mungkin bisa timbul pada perkembangan mental anak seperti ketika dia dihadapkan pada situasi pertengkaran diantara orang tua.
Kebebasan dan bimbingan
Ada orang tua yang mencoba menanamkan filosofi liberal kepada anak seolah memberikan kebebasan kepada anak menikmati hak asasinya. Memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada anak terhadap apa yang ingin dilakukannya mengingat anak sudah berusia dewasa secara hukum. Mudah-mudahan ini bukan sekedar alasan untuk sang ayah mungkir dari kewajibannya membimbing anaknya. Sampai umur berapa pun manusia tidak pernah menjadi sempurna dewasa, selalu perlu bimbingan dan arahan, agar jangan salah jalan. Jangankan anak bisa salah jalan, manusia tua bangka saja yang mempunyai pangkat dan kedudukan bisa hilaf melakukan perbuatan yang salah.
Bila anak sudah meningkat dewasa, dan ingin menentukan jurusannya sendiri, tentu harus kita hormati pandangannya, namun sebagai ayah tetap kita harus membantu mereka membuat pertimbangan untung ruginya dan kalau perlu membahas opsi atau alternatif lain yang mungkin lebih baik untuk si anak, dan mungkin mereka tidak menyadari sebelumnya. Kesemuaannya ini untuk menghindari penyesalan yang sudah terlambat dikemudian hari.
Bagi seorang ayah, kesemuaannya diatas justru merupakan ujian yang memerlukan waktu, kesabaran, ketahanan emosi, dan pikiran, serta tentunya juga tanggung jawab financial. Jangan tanyakan kepada anak anda mengapa mereka lupa merayakan Father’s Day untuk anda (ayah), tapi tanyalah kepada diri anda sendiri, apakah anda sudah cukup berbuat kepada anak sebagai seorang ayah?
Happy Father’s Day
|