|
|
Mengenal Feng Shui
Suhana Lim / Indonesia Media
Pada perjalanan ke Jakarta, September yang baru lalu, saya diundang ke
rumah seorang teman. Rumah yang terletak di kawasan Jakarta Selatan
itu terasa agak "ramai." Pasalnya setiap sudut rumah di penuhi aneka
barang. Mulai dari windchimes, kristal, hiasan dinding , tanaman,
patung, lampion, dan aneka barang. Yang semuanya membuat kediaman
teman tersebut mirip gift shop. Ketika saya tanya, ternyata teman saya
ini menerapkan prinsip feng shui di kediamannya. Selama ini ia rajin
membaca buku-buku feng shui. Setiap buku menganjurkan tip yang
berbeda, dan ia mengikutinya dengan membeli dan menaruh barang yang
disarankan di buku-buku. Pantaslah kalau kondisi rumahnya begitu
"ramai." Kejadian di rumah teman tadi, sering juga saya temui di
rumah-rumah klien. Buku-buku feng shui memang dapat dengan mudah kita
temukan di toko-toko. .Yang terkadang membuat pembaca bingung adalah
setiap penulis menganjurkan hal yang berbeda . Tetapi demi memperbaiki
feng shui diikuti juga, meski tidak mengerti makna sebenarnya.
Ada dua kekeliruan besar mengenai feng shui yang terlanjur dipercaya
oleh banyak kalangan. Kekeliruan pertama ialah anggapan bahwa feng
shui itu identik dengan sekedar meletakkan patung, menggantung
windchime, memasang cermin, dan lainnya. Sampai batas-batas tertentu,
feng shui memang dapat kita lakukan sendiri alias Do It Yourself
(D.I.Y). Tetapi yang perlu diingat, feng shui lebih dari sekedar
menggantung windchime, meletakkan kristal, menaruh patung dan
sebagainya. Pada banyak kasus, menaruh banyak barang malah hanya akan
merusak feng shui rumah. Tetapi untuk dapat merasakan manfaat yang
optimal dari feng shui, tentunya banyak hal lain yang perlu
dimengerti. Kekeliruan kedua ialah mengaitkan feng shui dengan hal
yang sifatnya mistik, misterius dan agama. Karena feng shui bukan
sesuatu yang hitam, bukan pula sesuatu yang berkaitan dengan agama.
Sama seperti cabang ilmu pengetahuan lainnya, feng shui juga memiliki
dasar-dasar utama. Berpijak dari dasar-dasar itulah, praktisi feng
shui menganalisa sebuah tempat tinggal dan atau tempat usaha. Apakah
lokasi dan kondisinya baik dan cocok untuk si penghuni. Intuisi memang
terkadang dipakai dan berperan dalam membantu menganalisa suatu
lokasi. Tetapi yang terpenting tetaplah dasar-dasar utama feng shui.
Jadi seorang praktisi feng shui harus berpatokan pada dasar-dasar
utama dalam menganalisa, tidak boleh hanya semata-mata mengandalkan
intuisinya. Ada tiga dasar yang menjadi patokan utama dalam ilmu dan
teknik keseimbangan dan keselarasan ini.
Dasar pertama dikenal sebagai Qi. Istilah qi sendiri memiliki banyak
penafsiran. Qi disebut sebagai energi kehidupan, energi kosmik, roh
dan atau aura kehidupan, dan bermacam-macam istilah lainnya. Dalam
feng shui, qi ialah suatu energi yang mengalir. . Energi ini
mempengaruhi semua yang ada di alam semesta. Konsep qi ini juga
dikenal dalam ilmu pengobatan tradisional seperti akupuntur, ilmu dan
seni bela diri. Apabila aliran qi di tubuh ada yang terganggu, maka
kita akan sakit. Begitu pula jika aliran qi tidak mengalir dengan baik
dan lancar di rumah, maka akan mengganggu kehidupan penghuninya.
Dengan pemusatan qi ke titik tertentu (misalnya kepalan tangan) maka
seorang praktisi bela diri akan mampu menjatuhkan lawan secara
efektif. Qi yang bersifat positif dan dapat membantu kehidupan dikenal
sebagai Sheng Qi. Aliran energi yang negative dan dapat mematikan
diistilahkan sebagai Sha Qi. Pola aliran sheng qi ialah pada jalur
yang lengkung, sedangkan sha qi mengalir pada jalur lurus yang panjang.
Dasar ke dua dalam feng shui adalah keseimbangan. Istilah keseimbangan
ialah yin yang. Yin perlambang wanita, pasif, gelap, angka genap,
bagian kanan rumah, dan sebagainya. Sedangkan Yang, sebagai perlambang
pria, aktif, terang, angka ganjil, bagian kiri rumah dan sebagainya.
Konsep yin yang ini menerangkan bahwa segala yang ada di alam ini
dapat dikategorikan ke dalam yin atau yang. Keduanya berbeda tetapi
saling membutuhkan. Tanpa mengetahui terang, kita tidak akan mengenal
apa itu gelap dan sebaliknya. Jika tidak ada kebaikan, maka tidak akan
ada keburukan. Keseimbanganlah yang dapat membuat alam, lingkungan,
rumah tinggal, tempat kerja menjadi nyaman dan enak untuk ditinggali.
Jika keseimbangan tidak ada atau terganggu, maka dipastikan rumah atau
kantor tidak akan bermanfaat bagi penghuninya. Lingkungan yang hawanya
terlalu panas sama buruknya dengan yang terlalu dingin. Curah hujan
yang berlebih, sama jeleknya dengan sinar mentari yang terus menerus.
Semua tadi tidak akan membawa kenyamanan bagi kita. Rumah yang tidak
seimbang antara sisi kiri dan kanan, antara depan dan belakang, bagian
lantai atas dan dasarnya, akan mempengaruhi kehidupan penghuninya.
Demikian pula bentuk dan ukuran rumah, ruang yang tidak proposional
akan memberikan efek negatif.
Dasar utama ketiga ialah Wu Xing/Hsing atau Lima Unsur/Elemen. Lima
unsur ini ialah unsur kayu, api, tanah, logam, dan air. Seperti dalam
yin yang, lima unsur ini juga saling berkaitan satu dengan lainnya.
Keterkaitan unsur-unsur itu diwujudkan dalam siklus. Siklus yang
menghidupkan dan siklus yang mematikan. Dalam siklus menghidupkan,
unsur kayu menghidupkan unsur api. Unsur api menghidupkan unsur tanah.
Unsur tanah menghidupkan unsur logam dan unsur logam menghidupkan
unsur air dan seterusnya. Pada siklus mematikan, unsur kayu merusak
unsur tanah, unsur tanah merusak unsur air, unsur air merusak unsur
api, demikian seterusnya. Setiap ruang di rumah dan atau kantor sudah
menjadi bagian dari salah satu unsur. Yang sering terjadi ialah ruang
tersebut berada di lokasi yang salah. Apabila hal ini terjadi, maka
yang terjadi ialah siklus mematikan. Sedangkan untuk membuat sebuah
rumah dan atau kantor baik dan menguntungkan, kita harus dapat
menciptakan siklus menghidupkan. Dengan mengetahui dan mengatur siklus
kelima unsur tersebut , kita dapat menciptakan lingkungan (tempat
tinggal dan kantor) yang baik dan dapat menunjang kehidupan yang
positif. Dengan ini dapat kita lihat bahwa feng shui merupakan ilmu
pengetahuan mengenai keseimbangan dan keselarasan, yang dilengkapi
dengan dasar-dasar kuat dan logis.
| |