Jateng Masih Pusat Kegiatan Terorisme

J13,F4-48 / Indonesia Media

Pengungkapan dan penangkapan pelaku terosisme, selama ini terjadi di wilayah Jawa Tengah (Jateng). Ini menunjukkan, para teroris masih bercokol di wilayah Jateng dan masih menjadi pusat kegiatan jaringan terorisme yang ada di Indonesia.

 

Hal itu dikatakan secara terpisah oleh Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol, Sisno Adiwinoto dan analis intelijen Dr Wawan H Purwanto, kepada wartawan di Jakarta, Senin (11/6).

 

Menurut Sisno, berdasarkan hasil penyelidikan dan hasil yang dicapai selama ini memang menunjukkan Jateng masih menjadi pusat kegiatan terorisme. ''Tetapi ini dapat berubah tergantung perkembangan yang terjadi di lapangan,'' kata Sisno.

 

Sementara Wawan mengatakan, para teroris kemungkinan besar masih bercokol di wilayah Jateng, karena para teroris merasa kondisi masyarakatnya masih mendukung. Namun dengan tertangkapnya Yusron Mahmud, para teroris tentu akan berfikir ekstra hati-hati dan mempersempit ruang geraknya.

 

''Jadi tetap di Jateng, namun untuk sementara mereka mempersempit ruang geraknya, lebih hati-hati lagi dan mereka akan $imove\n ke daerah lain,'' kata Wawan menjawab Suara Merdeka, kemarin.

 

Menurutnya, kemungkinan besar para teroris akan $imove\n ke daerah Pantura Jateng, karena daerah tersebut strategis dan memudahkan lalu lintas antar pulau yang mereka lakukan.

 

Alasan lain, kata dia, dengan makin gencarnya operasi dan makin sadarnya masyarakat bekerjasama dengan aparat, mereka tidak akan bermukim di tempat yang terpencil.

 

''Wilayah yang terpencil itu penduduknya sedikit sehingga mereka kenal satu sama lain. Begitu ada orang baru masuk pasti akan mengundang kecurigaan, dan akan mudah dilaporkan ke aparat. Jadi mereka memilih yang berbaur dengan masyarakat banyak,'' katanya.

 

Tersangka Baru

 

Sisno Asiwinoto mengaku, selain penangkapan tersangka Yusron Mahmud di Desa Kebarongan, Kemrajen, Banyumas, kepolisian juga berhasil menangkap teroris lainnya.

 

''Hasil pengembangan yang dilakukan, Polri menangkap lebih dari tiga tersangka baru,'' ujarnya.

 

Namun, Sisno enggan menyebutkan nama maupun inisial tersangka. ''Ini berkaitan dengan proses penyidikan yang dilakukan kepolisian. Yang pasti, tiga tersangka ditangkap di Sukoharjo, Karang Anyar dan di beberapa wilayah di Jawa Tengah,'' paparnya.

 

Terkait penangkapan Yusron, Sisno mengatakan, Polri masih terus melakukan pengejaran terhadap DPO (Daftar Pencarian Orang-Red) maupun yang berdasarkan pengembangan.

 

''Polri memfokuskan pada pengejaran Abu Dujana. Sebab, dalam jaringan teroris Abu Dujana memiliki peran dan status yang lebih tinggi daripada Noordin M Top atau Azhari. Tetapi bukan berarti kami mengabaikan Noordin,'' tandasnya.

 

Dia menambahkan, tertangkapnya Yusron dan beberapa tersangka anggota jaringan terorisme, menggagalkan rencana aksi teror yang disiapkan teroris. Namun Sisno tidak menjelaskan rencana mana yang digagalkan.

 

Sementara Wawan mengatakan, para teroris untuk bisa sukses berbaur dengan masyarakat banyak, mereka harus lihai dalam memutus rantai komunikasi atau menghilangkan jejak.

 

Menurutnya, tertangkapnya para teroris ini tidak lepas dari keterangan yang dihimpun dari anggota mereka yang tertangkap aparat. ''Selama ada komunikasi pasti mereka tertangkap, karena anggota jaringan yang sudah tertangkap saat diinterogasi banyak yang mengaku.'' paparnya.

 

Jadi, menurut Wawan, mereka akan sulit ditangkap bila menggunakan cara ideal. Langkah ideal yang dimaksud adalah memisahkan diri dari jaringan berikut komunikasinya serta melakukan aksi mandiri. Dengan terputusnya rantai komunikasi, aparat akan sulit melacak.

 

Ditanya kemampuan para teroris untuk melakukan aksi berdikari, Wawan mengatakan, hanya teroris tangguh yang mampu melakukannya. Dan untuk kelas teroris yang berkeliaran Indonesia, hanya sedikit yang mampu.

 

''Yang berkeliaran di negeri kita masih kelas jaringan,'' katanya.



       

 


FastCounter by bCentral