Indonesia Tuan Rumah Konferensi Tentang Pembunuhan Massal (Holocaust)
sumber: AFP/diterjemahkan oleh Eddy Djaja
/ Indonesia Media
Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia pada hari Selasa (Juni 12) telah menjadi tuan rumah dari sebuah konferensi yang bertujuan mempromosikan toleransi agama dan mengakui realitas adanya Holocaust.
Even diadakan di pulau Bali dan dihadiri oleh para pendeta, rabbi, saksi-saksi Holocaust dan para pemimpin Muslim. Mereka menjuluki konferensi ini sebagai “konferensi anti-Tehran” dimana pada Desember 2006 lalu Iran telah meragukan adanya pembantaian orang-orang Jahudi pada Perang Dunia II . Sebagai Ketua sidang adalah mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid yang juga dikenal sebagai Gus Dur, seorang Muslim yang moderat.
“Walaupun saya sahabat baik dari Mahmoud Ahmadinejad, saya harus mengatakan bahwa ia salah” kata Gus Dur yang menunjuk Presiden Iran itu yang pernah mengatakah bahwa pembantaian orang-orang Jahudi (Holocaust) itu sebagai isapan jempol. “Ia telah memalsukan sejarah. Saya percaya terjadinya Holocaust” tambah Gus Dur.
Mantan Presiden RI ini adalah salah seorang anggota dari Institut Perdamaian Shimon Peres yang berkedudukan di Tel Aviv. Ia telah mendapatkan banyak kritis dan tentangan atas dukungannya terhadap hubungan perdagangan langsung antara Israel dan Indonesia.
Direktur dari pada Institute of Jewish Studies di Jarusalem Daniel Landes mengatakan bahwa walaupun tidak terdapat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel, ia merasa nyaman berada di Bali. Jarang sekali melihat seorang rabbi berbicara di Indonesia apalagi seorang rabbi dari Israel. Oleh karena cerita mengenai Holocaust terjadi di negara-negara Barat dimana tidak banyak saksi-saksi dari negara Muslim yang bisa mengatakan bahwa fakta itu adalah benar, kata Landes kepada AFP.
Abraham Cooper seorang rabbi Amerika dari Simon Wiesenthal Center mengatakan bahwa konferensi ini telah memberikan kesempatan yang unik untuk memecahkan jalan pemikiran yang stereotip yang banyak terdapat di dunia Muslim.
“Kebanyakan Muslim di Indonesia tidak mengetahui apa itu Holocaust kecuali yang pernah belajar di negara-negara di Timur Tengah”, kata Ahmad Suaedy, Direktur Eksekutif dari Wahid Institute, satu organisasi non-pemerintah yang mempromosikan Islam yang damai. Beberapa orang hanya mengetahui Holocaust versi dari Mesir dan Iran, lanjutnya.
Sol Teichman 79 tahun seorang Amerika korban Holocaust yang masih hidup mengatakan ia datang ke Bali menghadiri konferensi ini dengan harapan bahwa manusia dapat belajar dari sejarah dan ia merasa senang berada di Indonesia.
Media massa telah dilarang menyiarkan adanya konferensi ini sampai dengan sehari sebelum even ini dibuka. Dalam bulan April para pemimpin Muslim pernah menentang kehadiran para rabbi dari Israel untuk menghadiri konferensi Inter-Parliamentary Union ke-116 yang juga diadakan di Bali.
Akhirnya delegasi Israel tidak datng karena kuatir mengenai keselamatannya.
Father Franz Magnis-Suseno, a German-born Indonesian Catholic priest, said
the presence of rabbis here had made the event particularly special.
Seorang pendeta Katolik Indonesia kelahiran Jerman Franz Magnis-Suseno mengatakan bahwa kehadiran para rabbi dari Israel di Bali ini merupakan sesuatu hal yang khusus. Kalau diberitakan oleh media massa sebelumnya kemungkinan sekali mereka tidak mendapat visa, lanjutnya.
|