|
|
Usaha Resto di Negeri Perancis - Bagian ke-7A
Paris / Indonesia Media
Karena resto MADRAS dulu itu sangat tidak dirawat, maka pemilik-baru(kami)
harus banyak kerja menanggulangi dan membikinnya bagaikan baru lagi. Dan
untuk itu pekerjaan bukan main banyaknya. Kami kerja tidak pakai jam-kerja, karena sampai tak sanggup lagi berdiri lama! Dari pagi sampai malam menjelang larut malam. Harus mengejar waktu. Ketika itu pada minggu pertama Desember 1982, sedangkan kami merencanakannya akan buka pada tanggal 14 Desember 1982. Sedangkan banyak wartawan dan suratkabar sudah kami
undang, termasuk televisi TF 1 dan Antenne 2 serta France 3.
Teman-teman yang bekerja itu harus makan, dan sudah sewajarnya juga harus ada minuman, misalnya kopi atau lainnya. Untuk ini ada teman yang khusus bertugas bertanggung jawab atas pekerjaan konsumsi. Dengan sendirinya dapur sebenarnya sudah jalan, tetapi baru bersifat partikeliran, belum bersifat menjual makanan. Ini sengaja kami biasakan sebelum benar-benar pada hari H-nya. Kepada pemilik lama sudah kami bayarkan sejumlah uang yang pada
akhirnya tiga bulan sesudah itu harus lunas-tuntas! Darimana uang kami dapat buat membayar uang persekot tersebut? Dari sumbangan banyak teman dan pijaman-longgar banyak teman. Dan kamipun punya uang sebagai pengganti uang-bantuan dari pengangguran. Kami dapat uang-saku dari pemerintah karena belum mendapat pekerjaan, dan ini harus dibuktikan bahwa kami memang
benar-benar mencari pekerjaan. Jadi setiap kami melamar di sebuah perkantoran, pertokoan, perusahaan, harus ada cap bahwa memang benar kami pernah datang untuk melamar di kantor, perusahaan, perokoan tersebut.
Karena kami sedang mencari pekerjaan, artinya dalam status pengangguran, maka setiap penganggur dapat sokongan 45 sampai 60 francs sehari, dan ini diterima pada setiap bulan. Bantuan ini sampai satu dan dua tahun, tergantung situasi kongkritnya, ada badan yang akan
memeriksanya, apakah akan diteruskan atau dikurangi jumlah bantuannya. Nah, karena kami sudah dapat menciptakan lowongan kerja ini dan atas kerja-usaha sendiri, dengan bukti nyata, maka kami dapat 36.000 francs perorangnya. Sedangkan kami kaum pengangguran berjumlah beberapa orang. Tetapi begitu menerima uang tersebut maka pemerintah sudah berelepastangan, sebab tokh sudah ada pekerjaan, -dan ini sangat wajar. Maka sebenarnya modal kami ya hanya itulah. Lalu setiap kami yang mendirikan resto itu harus menyerahkan modal-dasar, setiap orang 2500 francs. Sebenarnya modal ini hanya syarat saja, mana cukup!
Dengan terkumpulnya modal sendiri dan modal banyak teman, maka dapatlah memenuhi perjanjian-beli, dan lalu kepemilikan baru resto tersebut menjadi sah pemilik koperasi FRATERNITE, RESTAURANT INDONESIA. Ada keuntungan lain karena menciptakan kesempatan atau lowongan-kerja ini. Kami mendapat keringanan dari pemerintah, dibebaskan membayar pajak-perusahaan selama 6 bulan! Jadi kami bebas berusaha, membuka jualan-resto tanpa bayar pajak selama setengah tahun. Dan ini bukan main artinya dalam bantuan kongkrit. Kalau harus membayar pajak begitu resto buka, takkan mungkin bisa kami laksanakan. Persoalan lain banyak timbul. Kami tidak bisa mengatasnamai resto itu atas nama kami, karena ada undang-undang yang menyatakan sebuah resto, termasuk spesialite, patronnya, direkturnya haruslah orang Perancis, sudah warganegara Perancis. Sedangkan kami waktu itu belum seorangpun yang sudah berwarganegara Perancis. Apa akal? Kami berunding lagi, rapat-mufakat lagi.
Resto ini didirikan oleh 4 orang Perancis dan 4 orang Indonesia . Dan gagasan ini bisa diterima oleh pihak notaris dan pemerintah. Maka selesailah sudah salah satu persoalan yang begitu banyak. Tetapi yang menjadi direktur haruslah orang Perancis. Kami punya teman Perancis yang
sejak lama sudah mengikuti kegiatan kami di berbagai kegiatan sosial-kultural, termasuk di stand Pekan Raya setiap tahun itu, namanya Pascal LUTZ. Pascal sangat bersimpati kepada kami, dan selalu dekat dan membantu kami. Maka dialah kami jadikan direktur-utamanya, sejak berdirinya
resto sampai kini, 24 Maret 1999, -
Seorang direktur-utama kalau bergaji akan menguras begitu banyak uang resto! Dan Pascal sejak-mula pertama adalah direktur-sukarela, artinya tidak bergaji, tetapi penuh bertanggungjawab atas resto itu. Dan pada statut resmi kepemilikan resto, disebutkan semua jabatan dan fungsi setiap orang, dan kami 4 orang Indonesia itu disebutkan sebagai pendiri, fondateur, sejajar dengan 4
orang Perancis yang di-direktur-i Pascal LUTZ. Masih ada soal lain! Sebuah resto spesialite, tukang masaknya haruslah punya diploma!Mana kami punya! Kami hanya punya kemauan dan tekad kerja keras saja, soal diploma, apalagi diploma perhotelan, mana ada! Tokh kami tadinya dan dulunya tak seorangpun yang bercita-cita menjadi seorang restaurateur dan ini karena sejarah lama saja adanya! Apa akal?
Kami mendatangi pengacara dan notaris, bagaimana ini. Dapat keputusan, dibebaskan selama belum bayar pajak itu. Tetapi begitu sudah jalan-tetap dan sudah harus bayar pajak-perusahaan, resto harus punya chef-dapur yang punya diploma. Ini peraturan! Dan ada lagi peraturan-umum dari pemerintah. Seseorang yang bekerja di Perancis ini harus bergaji minimum, artinya ada peraturan gaji-minimum, namanya SMIC, Salaire Minimum Interprofesionel Conventinne.
Semua perusahaan, perkantoran, pertokoan, restaurant, harus menuruti peraturan gaji ini. Termasuk kami harus mematuhi peraturan ini.
Tetapi lagi-lagi kami menanyakan dan minta keringanan agar buat kami ada perkecualiaan. Mana bisa! Tidak ada undang-undang dalam perkecualiaan, keistimewaan! Bisa selama bebas bayarpajak itu, tetapi begitu dinyatakan resmi sudah harus bayar pajak, maka semua peraturan harus dituruti. Dan selama 6 bulan itu samasekali tak ada sangkutpautnya dengan soal perkecualian atau keistimewaan, tetapi juga karena memang ada peraturannya! Kami benar-benar mulai dai nol-zero-besar! Terlalu banyak peraturan yang kami tidak mengerti. Semua keterpaksaan ini membuat kami harus banyak belajar, belajar memahami peraturan dan perundang-undangan perburuhan, perusahaan, administrasi kenegaraan, perdagangan-umum, dan
lain-lain.
Masih tetap banyak soal! Lalu siapa yang akan jadi kokinya, semua kami juga hanya bisa masak tetapi bukannya pandai apalagi akhli. Sedangkan dihadapan kami ini sebuah resto yang boleh dikatakan mewakili nama besar ndonesia, ini bukan main-main
Ada akal. Kami minta seorang ibu, istri bekas dutabesar RI di suatu Negara frika yang ketika itu ada di Holland , datang segera mengajari kami masak! an beliau mau dan sedia. Dari beliaulah kami mulai belajar masak-memasak. an memang masakannya sangat enak. Dan aku baru tahu bahwa ada nama masakan ang bernama pesmol. Padahal sebelumnya aku tak tahu apa itu barangnya yang ernama pesmol itu! Lalu ayam-bumbu-bali, oseng-oseng, bakwan, semua nama
makanan tersbut tadinya sangat asing bagiku. Kalau hanya nama rndang, semur, sate, gulai, termasuk rica-rica sudah kukenal sejak di ndonesia. Sungguh banyak pengenalan baru, dan ternyata begitu banyak al-hal yang tadinya kita tidak tahu, dan sampai sekarang betapa banyaknya
ilmu yang kita belum tahu dan belum tergali. Semua itu haruslah melalui anyak praktek. Sesudah kita memasuki dunia-baru itu, barulah kita ahu, sebenarnya terlalu banyak yang kita tidak tahu!
| |