Kota Bandar Lampung yang dulu bernama Kota Tante

Eddy Djaja / Indonesia Media

Nama punya arti penting bagi pemiliknya. Bahkan bukan hanya untuk manusia namun juga untuk nama sebuah kota . Tidak banyak yang tahu kalau Kota Bandar Lampung dulunya pernah bernama Kota Tante, walaupun nama ini tidak bertahan lama. Bisa ditebak mengapa nama tersebut tidak pernah disebut lagi. Padahal, penyebutan Kota Tante hanya untuk mempermudah penyebutan nama yang sebenarnya yang terlalu panjang yakni Tanjungkarang-Telukbetung.

 

Dalam perjalanannya, nama Tante ternyata berkonotasi buruk. Nama Tante, misalnya, sering ditambahi dengan istilah girang oleh orang di luar Lampung. Yang artinya, sebuah sebutan untuk wanita yang tidak muda lagi namun bisa diajak kencan. Maka sebutan Kota Tante pun sering diseret-seret ke arah gampang diajak kencan itu tadi. Jelas konotasi seperti itu membikin tidak nyaman penghuninya. Saat itu saja masyarakat di kota ini sudah merasa risih jika disebut Kota Tante oleh orang dari daerah lain.

 

Pencetus nama Bandar Lampung adalah Barlian Pangeran Raja di Lampung dan Rustam Effendi. Kota Praja Tanjungkarang-Telukbetung, tadinya hanya memiliki luas wilayah 33,3 km persegi dengan batas-batas di sebelah utara dengan Way Penengahan, di selatan dengan Way Kuala dan di sebelah timur berbatasan dengan Way Balau dan mempunyai empat kecamatan, yakni Tanjungkarang Barat, Tanjungkarang Timur, Telukbetung Barat dan Teluk Betung Selatan.

 

Sejak tahun 1982 berdasarkan PP No. 3 tahun 1982 menerangkan perubahan batas wilayah kota Tanjungkarang-Telukbetung, dari hanya 33,3 km persegi menjadi 142,18 km persegi. Oleh DPRD setempat periode 1982-1987, peraturan daerah (Perda) No 5 tahun 1983 menyebutkan Kota Tanjungkarang-Telukbetung berubah nama menjadi Kota Bandar Lampung. Selain itu, lambang Kota Bandar Lampung, bergambar gunung dan daun lada serta motto ragom gawi turut pula diperdakan.

 

Perubahan nama Kota Tante menjadi Bandar Lampung tidak bisa dihindarkan. Namun penyebutan nama Lampung karena nama tersebut sudah melekat di masyarakat. Sedang penambahan nama Bandar karena selain sebagai kota pelabuhan, juga pusat segala macam kegiatan. Jadi, generasi muda sekarang mungkin baru tahu kalau Kota Bandar Lampung pernah bermana kota Kota Tante.

 

Kota Bandar Lampung merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera. Sebutan ini layak untuk ibu kota Provinsi Lampung. Kota yang berada di sebelah barat daya Pulau Sumatera ini memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan. Letaknya di ujung Pulau Sumatera berdekatan dengan DKI Jakarta yang menjadi pusat perekonomian negara. Kota ini menjadi pertemuan antara lintas tengah dan timur Sumatera. Kendaraan dari daerah lain di Pulau Sumatera harus melewati Bandar Lampung bila menuju ke Pulau Jawa. Pada umumnya, kendaraan tersebut transit di Terminal Rajabasa. Keluar dan masuknya kendaraan, baik bus, angkutan kota maupun mini bus ke terminal ini, ternyata mampu mendatangkan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) Kota Bandar Lampung. Banyaknya kendaraan yang keluar masuk melewati Bandar Lampung ini menambah padatnya jalan-jalan kota . Sejalan dengan perkembangan kota , kendaraan pribadi dan umum pun semakin menjamur. Dari jumlah kendaraantersebut, 65 persen adalah kendaraan pengangkut barang. Kendaraan ini digunakan untuk mengangkut berbagai hasil bumi dari pelosok daerah di Provinsi Lampung. Hasil bumi tersebut dikirim ke Bandar Lampung sebagai pusat perdagangan provinsi. Bandar Lampung berfungsi sebagai penampung, distributor, sekaligus pengolah hasil bumi tersebut.

 

Hasil bumi yang sering dijumpai dan diperdagangkan di Bandar Lampung antara lain kopi, lada, dan pisang. Kopi dari Lampung terutama jenis robusta sudah mampu menembus pasar internasional. Kopi tersebut dikirim dalam bentuk kering.

Pasokan kopi kering diperoleh dari sentra-sentra penghasil kopi seperti Kabupaten Lampung Barat, Lampung Utara, dan Tanggamus. Melalui para eksportir, kopi yang sudah diseleksi mutunya dikirim ke berbagai negara tujuan misalnya Amerika Serikat, Jepang, Belanda, dan Jerman. Sampai saat ini, ekspor kopi masih dalam bentuk kering, belum dalam bentuk olahan.

 

Ekspor produk hasil bumi yang lain adalah lada hitam. Pasokan lada ini berasal dari kabupaten di sekitar Bandar Lampung seperti Lampung Utara. Dilihat dari ekspor hasil pertanian, lada hitam mampu menduduki posisi ketiga setelah kopi dan udang beku.

 

Produk perdagangan unggulan Kota Bandar Lampung lainnya adalah pisang. Buah ini banyak didatangkan dari Kabupaten Lampung Selatan, Tanggamus, Lampung Barat, Lampung Utara, dan Lampung Tengah. Ekspor pisang sebenarnya menjanjikan. Di pasar domestik, selain dikonsumsi sebagai buah segar, pisang Lampung ini juga diolah menjadi kripik pisang. Selain nilai jualnya lebih tinggi dibanding pisang segar, kripik pisang bisa tahan lebih lama. Bahan bakunya yang mudah didapat dan murah membuat banyak pengusaha kecil tertarik untuk mengolah produk ini. Terdapat sekitar sepuluh industri kecil yang dapat ditemui di Teluk Betung Utara, Tanjung Karang, dan Sukarame. Saat ini sedang dilakukan penjajakan untuk meningkatkan peluang ekspor kripik pisang ini.

 

Pengiriman ekspor hasil bumi seperti kopi, lada, dan pisang ini dilakukan melalui Pelabuhan Panjang. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya pelabuhan ekspor yang dimiliki oleh Kota Bandar Lampung. Peningkatan ekspor barang melalui pelabuhan ini tentu saja bisa meningkatkan retribusi dari pelabuhan. Sarana ini merupakan salah satu penunjang kelancaran perdagangan di Bandar Lampung.

 

Sampai saat ini, Kota Bandar Lampung memiliki tidak kurang dari 40 industri rumah tangga yang mengolah kopi kering menjadi kopi bubuk. Sebagian besar kopi bubuk tersebut masih dikemas secara sederhana, misalnya dengan plastik, kaleng atau kertas coklat dan diberi label. Beberapa merek yang sering dijumpai misalnya Intan, Cap Bola Dunia, Cap Bola Bumi dan sebagainya.

       

 


FastCounter by bCentral