|
|
Aktivitas Budaya Orang Indonesia di Hong Kong
Abdul Karim.
/ Indonesia Media
Tanggal 13 Mei ybl, menggunakan kesempatan acara bebas, saya dan seorang teman turis dari Singapura, mampir ke pergelaran musik dan nyanyi dari Para Pekerja Seni Hongkong Kelahiran Indonesia. Lantai 9 D1 dari Mirador Mansion Tsim Sha Tsui terasa agak sempit (cuma sekitar 100 M2), namun, selama 3 jam nonstop, kami lewati tanpa terasa cape sedikitpun, karena suasana gembira, suasana nostalgia dari para para opa dan oma yang merupakan 80% dari pengunjung,
ditambah dengan alunan musik hot dan merdu dari musikus dan biduan yang tampak sangat berpengalaman dalam pentas2 seni budaya. Dari keterangan pak Thio Keng Bouw, pemrakarsa pergelaran musik santai ini, kami mendapat keterangan sebagai berikut:
Sejak 1 April 2007 ybl, setiap Minggu siang jam 2 s/d jam 5, Club House Ji Nan University Alumni Asociation terus menerus diramaikan oleh dua grup musik band, dari pekerja seni Hongkong kelahiran Indonesia, dibawah pimpinan Thio Keng Bouw dan Chen Jie Fang sebagai pianis/keyboardis, Liu Fang, Ahon, Willie,dll sebagai biduan, Tan Jin On sebagai saxofonis, mereka berenam selama 3 jam nonstop memperdengarlan lagu2 nostalgia Indonesia, Tiongkok, Barat yang populer pada tahun2 40-an, 50-an, 60-an dan 70-an. Aktivitas ini mendapat sambutan dan dukungan dari masyarakat Tionghoa kelahiran Indonesia serta Komunitas Indonesia seperti para TKW, Konsul Kebudayaan dan Konsul Ekonomi dari KJRI di Hong Kong, pak Nugroho dan pak Bambang, Wartawan Sinar Harapan Fransisca Ria Susanti, pelanggan Millis HKSIS, ibu Mega, Ningsih, Wanti Rahayu, Wartawan SUARA Fanani dll.
Jika kebetulan lagu2 yg dibawakan memakai irama dansa Rumba, Cha Cha, Jive, Tango, Slow Rock, Waltz dll maka yang hobby dansa segera tampil ke tengah untuk melemaskan otot2nya.
Kegiatan serupa ini sudah hampir 10 tahun lamanya diperagakan di Taman Terbuka Tsuen Wan, kemudian menyusul Taman Terbuka Tuen Mun dan terakhir ini di Taman Terbuka Tsiang Tsun Au. Namun untuk pertunjukan berkala (tiap Minggu siang) di dalam club house tertutup, hal ini baru pertama kali dipelopori oleh Thio Keng Bouw dan Chen Jie Fang, keyboardis terkenal di kalangan perantau Tionghoa kelahiran Indonesia di Hong Kong.
Ketika kami tanyak pak Thio, apa yang mendorong dilakukan kegiatan
ini? Pak Thio menjawab, kami2 ini merupakan band musik profesional yang sering mendapat undangan di berbagai pesta ulang tahun, re-unie alumni, pesta pernikahan dll Kami butuh latihan secara periodik, tadinya latihan diadakan secara tertutup, kini kami buka untuk umum, agar banyak orang bisa mengikuti latihan kami, sekaligus kami mencari bibit2 baru yg mempunyai ketrampilan dalam alat musik maupun menyanyi. Tiap orang boleh masuk praktis tak usah membayar ticket, cuma dipungut biaya 20HKD sekedar untuk air minum, kopi susu dan teh susu/jeruk.
Selama 6 kali ber-turut2 pergelaran musik ini diselenggarakan, sambutan cukup lumayan, rata2 dikunjungi oleh 20 s/d 25 orang, ada yang 2 sampai 3 kali datang, ada yg setelah datang segera memberi tahu temannya untuk datang pada Minggu berikutnya.
Pak Thio yakin, jumlah pengunjung akan terus meningkat, seiring dengan perkembangan waktu. Ada 4 faktor yang menopang keyakinan pak Thio, kesatu pemainnya sudah berpengalaman puluhan tahun, kedua, alat2 musik dan sound systemnyanya termasuk yang canggih mutahir, ketiga lagu2nya sangat dikenal oleh orang2 berusia 50 tahun ke atas. Faktor terakhir, ada 400 ribu orang Hong Kong kelahiran Indonesia, yang akan menjadi sumber pengunjung secara bergantian menghadiri hiburan murah, mengesankan dan membawa kenang2an indah masa muda. Menikmati dan menyanyikan lagu2 TEMPO DOELOE seperti Rayuan Pulau Kelapa. Bengawan Solo, Papaya Cha Cha, Lenggang Kangkung, Burung Kakatua, Sarinande, Butet, Sing Sing So,Neung Geulis, Panon Hideung, Rek Ayo Rek, Gundul2 Pacul, Putri Solo, Gambang Semarang, Gado Gado Jakarta, Hallo2 Bandung,Ayo Mama, O Ina Keke, Madedek Magambiri, Kota Ambon,Saule, Pileuleuyan, Sengko2 Dainang, Sayang Kane, Perahu Laju, O Sole Mio, Santa Lucia, Moon River, My Way,
Love Story, Besame Mucho, Que Sera2, Come Back To Sorento, Yue Liang Tai Piao Wo Te Sin, Ye Shanghai, Mei Kui Mei Wo Ai Ni, Shanghai Tan, Kathusya,
Moscow Night, Oh Carol. Diana, La Paloma, Its Now or Never, Love Me Tender, Yesterday, Jamaica Farewell, Spanish Eyes, Jambalaya, The Wedding, Only You, El Condor Pasa, Country Road, dll ratusan lagu2 yang mereka sudah hafal dan sering pentaskan.
Pak Thio sudah mulai berkecimpung dalam bidang musik sejak Maret 1957, yaitu dalam Pekan Pemuda ke-I yg diadakan berdasarkan usul dari Bung Karno. Selama di Indonesia, pak Thio selama 8 tahun ber-turut2 terus memimpin Rombongan Kesenian PPI, mengadakan pertunjukan keliling di 50 lebih kota besar dan kecil di Jawa dan Sumatera serta Bali, yang diselenggarakan oleh pengurus cabang Baperki di berbagai tempat itu. Selama bermukim di Tiongkok, selama 12 tahun pak Thio juga tak pernah berhenti mengorganisasi kesenian, paduan suara, band, dan tari2an. Sejak 1977, pak Thio pindah ke Hong Kong, membuka kursus piano, keyboard dan mengadakan pertunjukan2 musik secara periodik.
Jam 5 sore, atas permintaan pengunjung, pak Thio tampil menyanyikan lagu favorit sejak di SMP, O Sole Mio dgn iringan musik cha cha oleh Chan Jie Fang. Baru pertama kali saya mendengar O Sole Mio dgn style cha cha......
Pengalaman yang kaya selama 50 tahun ini, merupakan jaminan suksesnya dari pergelaran musik Mingguan tersebut,
| |