May Vigil Remembrance, 9 tahun Tragedi Mei

Aling Terharu Memandang Cheongsam Di Amerika

Peter / Indonesia Media

Walau tidak mengenal season, Aling (nama samaran) sudah hafal benar suasana musim semi bulan Mei di San Francisco.

Pagi-pagi mentari sudah bersinar menghangatkan orang-orang yang bergegas naik MUNI (angkutan kota) masuk kantor. Bersamaan dengan itu, anginpun bertiup keras memaksa Aling mengenakan jaket tebal, beanie, kadang scarf. Hangatnya matahari seolah mengalah pasrah dengan hembusan angin kencang yang sesekali berasa dingi menusuk tulang. Suasana campur-baur ini seakan seirama dengan mood Aling setiap mendekati pertengahan Mei.

Aling berusaha melangkahkan kaki buru-buru mencapai gedung tinggi perkantoran di downtown San Francisco. Tetapi, setiap kali matanya menatap kaca-kaca pencakar langit, wanita Tionghoa yang pernah berkantor di Jakarta tahun 1998 ini merasakan sesuatu yang aneh.

Dalam alam bawah sadarnya, dia sekonyong-konyong melihat kaca-kaca pecah berlubang diterjang batu. Dia seolah melihat bara ruko-ruko terbakar. Hidungnyapun seperti mengendus bau hangus sisa kebakaran.

Telinganya tergiang-ngiang memutar kembali suara derap sepatu pasukan huru-hara, bunyi tembakan, yell-yell “reformasi”, juga teriakan massa menyuarakan anti etnis tertentu. Setiap saat rasa aneh itu menyerang, Aling mencubit tangannya, menggigit lidahnya sendiri, sembari meyakinkan bahwa itu hanya mimpi buruk masa lalu yang ingin dikuburnya.

Ingatan horror kejadian Mei 1998 itu memang susah terhapus dalam memori Aling. 14 Mei 1998 adalah hari ulang tahun yang batal dirayakannya. Selama 3 hari 2 malam, gadis amoy ini “tersekap” dalam cubicle yang lampunya sengaja digelapkan di belantara perkantoran tinggi Jakarta, bersama beberapa teman. Satu koleganya berkulit gelap turut menemaninya. Radio Sonora terus menyala.

Suaranya pelan, tetapi jelas mengabarkan keadaan ibukota. Dia terpaksa membunyikan diri karena rasa takut akan keselamatan nyawanya, lantaran berkulit terang bermata sipit. Hari-hari itu memang sedang terjadi rusuh besar yang meluluhlantakkan Jakarta. Seperti terungkap kemudian, banyak korban berkulit gelap dan terang yang berjatuhan. Bahkan, terjadi pelecehan serta kekerasan seksual terhadap perempuan-perempuan seperti Aling.

Begitu kegentingan mereda, Aling mengenakan kerudung untuk menutupi wajahnya saat kabur, pulang ke rumahnya. Memar psikis si Aling ini tidak serta merta hilang ditelan zaman. Efek trauma yang kasat mata bisa jadi lebih dahsyat, dibanding kerugian harta benda yang bisa dikalkulasi dengan sipoa.

Sayangnya, banyak yang menganggapnya sepele dan mengada-ada. Aling terbilang hoki karena bisa mengatasi masalahnya sendiri. Dia masih ingat dulu ada satu dua temannya dari Jakarta yang stress berat, turun berat badannya, sering bermimpi buruk, berkeringat dingin, bahkan mual-mual tanpa alasan. Dia juga ingat temannya, Aka (samaran), pengusaha komputer di Glodok yang tokonya terbakar rata dengan tanah dan sekarang hidup tenang di Bay Area.

Kuatir akan keselamatan dirinya, Aling meninggalkan segalanya di Indonesia di tahun 1999. Dengan sedih dan berat hati, ia tinggalkan keluarga, teman-teman dekat, rumah, mobil dan pekerjaan bagusnya di Jakarta. Buat Aling, “Peace of mind” adalah segalanya. Aling memilih terbang ke Amerika karena itu satu-satunya visa yang ada di paspornya.

Akhirnya Aling meminta suaka di negeri adidaya ini. Pengalaman minta asylum ini sungguh memedihkan. Dari kemapanan masuk ke penantian seolah tanpa kepastian. Tak seorangpun di dunia ini punya cita-cita untuk meminta suaka dan menjadi exile di negara orang. Singkat kata, Aling mendapatkan klaim suakanya dan bisa tinggal seterusnya di negeri Paman Sam ini.

Tanpa terasa, lift di gedung tinggi itu terbuka sudah, langkah kaki mengantarkan Aling di meja kerjanya. Ada 20 menit sebelum dia mulai kerja. Pikirannya masih terpaku dengan bayangan masa lalunya. Selama hampir sembilan tahun ini, Aling cuma melihat perkembangan negara lamanya lewat internet. Dia tidak merasakan langsung euphoria, hingar bingar kegirangan kaum Tionghoa merayakan Imlek secara terbuka sejak zaman Gus Dur. Dia tersenyum waktu orang berkulit gelap dan terang pada belajar bahasa Mandarin. Barongsai dimainkan dan dilombakan banyak orang secara bebas. Bahkan, kabarnya, orang Tionghoa sudah tidak perlu susah-susah lagi mengurus katepe, paspor, apalagi SBKRI.

Buat Aling, semua itu terkesan surreal. Waktu Capgomekan lalu, Aling sempat menonton kontes anak bergaun Cheongsam di San Francisco. Ini kali pertama Aling merayakan Imlek bersama sesama kawan Indonesia di kota ini. Anaknya lucu-lucu. Tanpa berkedip Aling memandangi Cheongsam merah. Seketika dia mengingat masa kecilnya. Meskipun dibesarkan dalam keluarga Tionghoa, Aling tidak pernah sekalipun mengenakan cheongsam, ekspresi budaya leluhurnya.

Apalagi, berbahasa Mandarin. Terlarang dan serasa “salah” menjadi “Cina”. Seumur hidupnya, Aling selalu merayakan Imlek dengan keluarga dengan pintu tertutup rapat. Tiba-tiba mata Aling basah, sedikit sembab. Sedih sekali rasanya..

Sejurus kemudian, Aling masih sempat menyeduh secangkir Nescafe sebelum memulai harinya. Dari balik kaca pencakar langit tempatnya bekerja, pandangannya menerawang angkasa, menembus samudra Pasifik, merindukan Indonesia. Aling tahu mukanya tetap amoy, tapi hatinya masih cinta Indonesia. 14 Mei sebentar lagi akan tiba. Hati Aling masih berduka karena semua pihak yang bertanggung jawab terhadap huru-hara 1998 dan lain sebagainya dibiarkan lalu saja. Kadang, dia memimpikan Ubuntu, yakni secara ksatria mengaku salah dan saling memaafkan di Afrika Selatan seperti di film Samuel L. Jackson “In my Country”. Masih menghirup kopi hangatnya, Aling memejamkan mata, menangis seraya berdoa, meratapi kapan gerangan keadilan itu tiba.

Dalam doanya, Aling terperanjat luar biasa. Karena Aling melihat, Tuhanpun turut menangis bersamanya. Sepemahaman Aling, Tuhan menangis karena anda dan saya tidak cukup banyak berbuat agar keadilan terjadi di Indonesia.

Betapapun lirihnya, biarlah suara nurani itu terus terdengar di Indonesia. Mari kita lakukan sebisa kita dimanapun kita berada. Kebencian memang memenjarakan. Cinta dan maaf itu membebaskan. (Pitamagenta/IM)

 

       

 


FastCounter by bCentral