|
|
Killarney Bagian Kedua
Bang Jeha / Indonesia Media
Di suatu hari Kamis, pagi-pagi sahaya sudah bangun, excited selalu meski entah sudah berapa kali saya ke Killarney. Targetku jam 8 pagi teng ada di depan kantor cagar untuk mendaftar kemping semalam alias bayar-bayaran, plus mendaptar 15 orang masuk ke interior, istilah untuk ke dalam hutan. Untung sahaja saya dan Defi yang kedua pertama nongol sebab proses kami makan setengah jam-an. Kata Defi, kemungkinan si noni, Danielle namanya, baru jadi pegawai. Tapi boljug performance-nya, ia mengerti ada mobil yang mesti bayar ekstra, berapa ongkos kemping di pesisir maupun di dalam hutan, serta bisa mendiktekan aturan maupun menanyakan warna tenda dan kanu-kanu kami. Kemungkinan si noni jadi lama, kurasa kepalanya puyeng membaca nama-nama anak Indonesia yang tidak lazim tiba di benaknya, ‘it doesn’t compute’ :-). Sebetulnya semua nama itu sudah kusiapkan, ia tinggal ngetik ke dalam kompinya, termasuk nomor pelat mobil kami semua, prosedur yang dibutuhkan.
Jam 8:30 selesai, kami cabut menuju tempat persewaan kanu untuk mengambil 3 kunci kanu. Ya, kanunya sih udah ngejogrok di pesisir George Lake, danau pertama atau awal pendayungan kami. Tetapi kami tetap mesti ke kantor Killarney Outfitter tersebut sebab kami perlu mengambil PFD (personal floatation device) maupun paddle atau dayung. Di trip plan sudah kusiapkan tinggi dan berat setiap peserta (selain untuk nge-balance beban setiap kanu) sehingga si noni disitu, Suzanne namanya, bisa memberikan dua PFD untuk ukuran anak-anak sesuai dengan berat tubuh mereka. Setelah mendapatkan jatah 6 dayung dan 9 PFD, dikasih ekstra oleh si Suzanne yang baik hatinya :-), saya dan Defi kembali ke cagar alam. Defi yang kami panggil Samson saking kuatnya memanggul kanu kelupaan lagi. Kali ini ia ingat untuk membawa mangkok dan sendok buat makan, biasanya ia bermodal barang demikian dari kedai kopi Tim Hortons. Tetapi ia lupa cangkir, sandal dan yang parah ia tidak ingat untuk membeli membawa bahan makanan yang menjadi tugasnya memasak, oatmeal. Akibatnya ia terpaksa membeli makanan mewah, freeze dried food yang dikemas di dalam kantong khusus dimana untuk memakannya tinggal disedu air panas. Satu kantongnya buat dimakan berdua, 10 dollar sahaja. Duh Defi :-).
Di Kamis pagi itu, udaranya cerah. George Lake relatif tenang dan asyik pendayungannya. Sejam kemudian kami sudah tiba di portage pertama, suatu hiking trail dari danau tersebut ke Freeland Lake, danau berikutnya. Panjang trail itu ecel sekali, P80 istilahnya atau cuma 80 meter. Jadi singkatnya kami cuma perlu menggotong memindahkan kanu dan muatannya dari George Lake ke Freeland Lake. Pendayungan di Freeland Lake mirip seperti di purgatory untuk mereka yang percaya, yakni api pencucian sebelum kita bisa masuk ke surga, kata romo Katolik. Soalnya selain dangkal, penuh dengan tumbuhan “eceng gondok”nya Kanada :-). Ya, 80% dari permukaan airnya sukar dilewati karena penuh dengan ganggang. Akibatnya cukup berat juga mendayung di danau kecil ini. Namun, karena kita umumnya tahu bahwa sebentar lagi kita akan sampai ke kahyangan, semua pendayung selalu bersemangat. Di ujung danau itulah terletak awal portage P455 meter ke Killarney Lake.
Prenku si John, yang mentalnya khas seorang programmer, yakni tidak mau membaca apa yang namanya ‘readme file’ bertanya, “How far is this portage jusni?” ketika kami mulai berjalan mengangkat beban di trail itu. Padahal di trip plan sudah kubentangkan kutulis sejelas-jelasnya route kami termasuk panjang setiap portage. “I think this one is about a hundred meters,” jawabku saenak-udelku azha :-). Teknik psiko Bang Jeha ini selalu terbukti ampuh bila dipakai sebab peserta trip jadi bersemangat lagi. John yang bawaannya sekanu penuh, suwer, jadi getol kembali mengangkati semua barang-barangnya. Ketika ia sudah selesai portaging kanunya, si John setengah ngeledek berkata kepada saya, “So this is a 100 meter eh,” dan kujawab dengan cengiran doang. Tapi ia lalu ngaku menambahkan, “But it is good jusni, just like your 5 minutes biking.” Ya, ia dan saya suka bersepedaan ke beberapa tempat dan kalau ia bertanya masih berapa jauh, suka saya bilang tinggal 5 menit :-). Bawaannya menjadi banyak ketika itu sebab pren sekanunya, Dave yang juga programmer, wong gaek tak tahu diri. Ia belum lama ini belajar roller-blading dan satu otot (kecil) di dengkulnya putus semingguan lalu. Akibatnya ia tak mampu untuk mengangkat beban yang berat dan si John-lah pren sejatinya yang mengangkuti semuanya, termasuk air seberat 10 liter :-). Programmer memang bandel, sudah kukatakan jangan bawa air tapi nanti kita pompa dari danau, mereka ngotot. Rasain deh loe :-). Sampai kisah mendatang, bai bai lam lekom. M
(Bersambung di edisi mendatang)
| |