|
|
Gerakan Islam Radikal
Suradi and Tutut Herlina / Indonesia Media
Elemen gerakan Islam radikal sampai era awal reformasi di Indonesia pernah digerakkan oleh pihak intelijen, namun saat ini, intelijen paling mungkin hanya menyusup saja. Sebab banyak elemen gerakan Islam radikal yang murni dan tidak bergerak atas inisiatif intelijen.
Penilaian tersebut diungkapkan pakar politik Islam Prof Azyumardi Azra ketika dihubungti SH, Selasa (22/5) siang, terkait dengan pernyataan politisi Golkar Slamet Effendy Yusuf yang menegaskan bahwa intelijen diduga berada di balik gerakan Islam radikal di Tanah Air.
Namun sayangnya, umat Islam selama ini tidak sadar bahwa mereka digunakan untuk kepentingan memelihara konflik. Untuk itu, ke depan, umat Islam diharapkan tidak lagi terjebak dalam skenario kekerasan dan lebih menghargai pluralitas.
Menurut Azyumardi Azra, ada dua kelompok Islam radikal. Pertama, mereka yang asli berpikir dan bertindak secara radikal dan kedua, karena ada rekayasa pihak tertentu–bisa saja intelijen-untuk berbuat radikal.
“Pihak intelijen mungkin masih mengamati gerakan Islam radikal, dengan cara menyusup atau sekarang ini bisa dengan meminta mereka sebagai narasumber, seperti Nasir Abbas dan tokoh lain yang tidak muncul ke permukaan,” ujar Azyumardi yang mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Hal tersebut dikemukakan anggota DPR dari Fraksi Partai Golongan Karya (FPG) Slamet Effendy Yusuf. Hadir pula dalam acara itu Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin.
Sejak Orba
Saat peluncuran buku karya Wakil Ketua MPR AM Fatwa yang berjudul “Moderatisme Teroris” di Jakarta, Senin (21/5), Slamet mengatakan, keberadaan intelijen di balik gerakan Islam radikal tersebut sudah ada sejak zaman Orde Baru (Orba). Saat itu, mantan anggota DI/TII sengaja direkrut oleh intelijen. Akibatnya, gagasan untuk mendirikan negara Islam muncul kembali. Dugaan yang sama juga terjadi pada aksi pe-ledakan bom di Bali I dan II.
Pasalnya, jika dilihat dari latar belakang para pelaku umumnya tidak lahir dari gerakan Islam. Mereka kebanyakan hanya datang dari kelompok marginal yang disulut dengan gagasan-gagasan tentang jihad.
“Ada metodologi, negara perlu punya musuh. Tapi kalau yang jadi objek Islam terus-terusan kan tidak bisa. Jadi, faktor ekonomi global juga sangat mempengaruhi. Mereka tidak ingin Indonesia maju. Dan itu sangat mungkin berkolaborasi dengan intelijen nasional,” katanya.
Hal senada dikemukakan Din Syamsuddin. Menurutnya, gerakan Islam radikal tidak seluruhnya murni dari umat Islam. Ada beberapa dari gerakan mereka yang sebenarnya ditunggangi kelompok lain.
Sedangkan Fatwa menyatakan, meski nilai-nilai Islam tersebut tidak perlu diakomodasi secara formal, negara perlu berpijak pada nilai agama yang memiliki kandungan pluralisme.
“Islam masih menjadi mobilisasi politik. Keberhasilannya hanya diukur dari mendirikan partai Islam. Mereka juga hanya memahami jihad secara parsial,” kata Fatwa.
| |