Imigran Indo, Berani Terima Tantangan? Bagian ke-2
Bono Anggono
/ Indonesia Media
Banyak kursus bahasa Inggris gratis yang dapat diikuti
oleh para pendatang. Untuk pekerjaan yang lebih
menjanjikan, mengapa tidak mengorbankan waktu beberapa
jam setiap minggunya belajar bahasa Inggris? Demikian
anda akan dapat membuat Resume, berkomunikasi dengan
dokter saat sakit dan melaporkan tindak kejahatan yang
dialami kepada petugas polisi. Dengan kemampuan bahasa
Inggris yang baik dan peningkatan ketrampilan, pintu
yang telah dibukakan dapat anda lalui untuk merubah
nasib. Diakui atau tidak, selama ini kehadiran orang
Indonesia di Philadelphia telah menimbulkan kerawanan
dan dikenal sebagai pengganggu tidur warga dengan
bisingnya suara klakson mobil antar jemput karyawan
mulai pk.03.00 dini hari. Dinegara bagian California
tidak sedikit perantau Indonesia yang mampu bersaing
melakukan pekerjaan seperti mereka yang dibesarkan
dinegeri ini. Jika kaum legal di Philadelphia bersedia
mematahkan taring yang tumbuh dan membuktikan
kehebatannya anda dapat mengisi berbagai lowongan
pekerjaan yang diiklankan dikoran. Mengapa anda tidak
berpikir dapat bekerja sebagai Bank Teller, Registered
Nurse, Book Keeper, Paralegal dan profesi lainnya yang
tidak membutuhkan gelar master dan tidak khawatir akan
relokasi? Tinggalkan comfort zone dan sikap EGP,
biarkan ribuan kamum gulita mencari nafkah dilahan
lama, bersaing secara sehat dan raih masa depan yang
lebih cemerlang tanpa memperbanyak musuh. Anda
beruntung, jutaan manusia lainnya dinegeri ini tidak
berdaya memiliki legal status seperti anda.
Sangat membanggakan segelintir manusia Indonesia yang
sukses keluar dari kegelapan status mewarisi darah
pengusaha. Tercatat ada enam grocery store Indonesia,
tiga rumah makan berizin dan beberapa usaha illegal
lain yang menawarkan berbagai kebutuhan dari kartu
telepon, rokok Indonesia,jasa pengiriman uang ,jasa
perpanjangan passport serta catering. Diantara para
entrepreneur kagetan ini bersaing dan menebar curiga
serta saling tuduh saat usaha yang dilakukan dirumah
digrebek petugas. Dari usaha berizin yang disebutkan,
sangat disayangkan tidak satupun yang membidik
pelanggan non-Indonesia. Dengan mudah kita dapat
membeli Indomie dan produk Indofood lainnya
ditoko-toko milik imigran Kamboja dan Laos di 7th
Street sebaliknya tidak ada grocery store Indonesia
yang menjual produk dan menjadikan imigran
non-Indonesia sebagai pelanggan setia mereka. Pemilik
rumah makan masakan Kamboja, juga di 7th street dan
beberapa Chinese Food Restaurant di China Town dapat
mengerti jika kita menyebutkan 'kwetiau siram' atau
'kwetiau goreng' dalam bahasa Indonesia sebaliknya
kita hanya tertarik untuk menghafal umpatan sumpah
serapah dalam bahasa mereka.Disebrang pondokan saya
terdapat grocery store milik wanita mantan manusia
perahu asal Vietnam. Dilingkungan yang banyak dihuni
orang kulit hitam, toko ini tidak akan bertahan jika
hanya mengandalkan Pho, Vietnamese Hoagies dan Spring
Rolls. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang dapat
dimengerti warga non-Vietnam, wanita ini memilih
menjual American Groceries, Hoagies and Steaks.
Beberapa tahun terakhir ini ada beberapa pendatang
Indonesia yang mendirikan usaha rumah makan Indonesia
di Philadelphia, dalam hitungan bulan usaha ditutup
konon warga non-Indonesia sekitar keberatan dengan
aroma masakan Indonesia. Mengapa hal ini dapat terjadi
dinegeri yang memberikan kesempatan luas untuk
berusaha bagi pendatang? Saya menduga masalah
perizinan dan sarana yang diabaikan. Dikawasan
pemukiman multi-rasial 8th Street terdapat Asia Cafe
milik perantau Malaysia. Rumah makan ini telah
beroperasi selama beberapa tahun dan tidak ada warga
sekitar yang mengeluhkan aroma terasi yang
di-Inggriskan mereka menjadi XO Sauce! Sebagian besar
pelanggan mereka adalah orang Indonesia yang menyukai
Malaysian XO Sauce Fried Rice alias Nasgor Terasi dan
Kangkung Belachan. Dikantong-kantong pemukiman kumuh
di South Philly akan dengan mudah kita temukan Chinese
Food To Go Restaurants dengan counter berlapis anti
peluru. Mereka buka melayani pembeli hingga lewat
tengah malam dan tidak mendapatkan keluhan oleh warga
sekitar. Apakah aroma Hot and Sour Soup dan Garlic
Sauce tidak lebih menyengat dari Sambal Goreng dan
Rawon? Jika diperhatikan menu rumah makan milik
Mainland Chinese ini selalu menyertakan kolom American
Special yang tidak lepas dari Buffalo Chicken Wing dan
French Fries. Ini menunjukkan mereka tidak hanya
menargetkan pelanggan pengguna sumpit.
Seperti disebutkan diatas, tidak banyak pemegang
passport burung Garuda di Philadelphia yang berhasil
mendapatkan status legal imigrasi, anda yang beruntung
mendapatkannya seharusnya mempersiapkan diri dan
memiliki visi kedepan. Keluar dari Comfort Zone dan
tinggalkan kebiasaan motong lewat jalan pintas. Jika
anda tidak belajar dan meningkatkan work-skill, pintu
yang telah dibukakan akan tertutup kembali. Buktikan
anda tidak kalah hebat dari imigran negara lain. Jika
kemarin anda berangkat kerja menenteng tas berisi nasi
putih dan tempe penyet dan bertugas megang mesin
insert, hari ini anda harus menenteng laptop dan mampu
megang mesin Boeing. Demikian bagi para pengusaha,
jangan kaget jika dinegeri berlimpah kesempatan ini
anda dapat mengembangkan usaha seperti jaringan rumah
makan PHO HA, PENANG dan HONG KONG SUPERMARKET
dibanyak state, PANDA EXPRESS di California dan TAIPAN
BAKERY di New York. Paman Sam akan menyesal telah
membukakan pintu jika anda hanya mampu akal-akalan
dalam mengisi laporan pajak dan antusias mendapatkan
tax refund tiap tahun. Sebaliknya akan ada banyak
orang yang diuntungkan dengan keberadaan anda dinegeri
ini jika anda dapat membidik pelanggan non-Indonesia
dan bekerja keras mengembangkan usaha anda. Awali
dengan niat baik pembenahan masalah perizinan. Tidak
mudah memang. Jika anda berani menerima tantangan dan
memiliki visi kedepan maka perantau Indonesia di
Philadelphia tidak hanya akan dikenal sebagai pembuat
onar dipagi hari. Anda berani ? (IM)
|