Agama dan Kewibawaan Pemerintah

oleh Tarmizi Taher

Kewibawaan pemerintahan SBY-JK sedang diuji saat ini, selain ujian bencana alam yang menimpa bangsa kita, mulai dari tsunami hingga gempa di Yogyakarta. Pemerintahan yang bersih dan berwibawa merupakan syarat mutlak agar program-program pemerintah dapat berhasil dengan baik. Dalam rangka menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, sudah barang tentu tidak mudah. Karena hal itu merupakan pekerjaan yang besar bukan saja tekad kata-kata tetapi yang utama ialah dalam perbuatannya.

Peran Agama

Agama, sebagai kerangka nilai kehidupan bangsa kita sejak dari dahulu memang mempunyai pengaruh dan peranan yang besar. Sudah sejak lama bangsa Indonesia dan juga bangsa-bangsa di Asia ini dikenal sebagai bangsa yang religius. Oleh karena itu, tidaklah sekadar retorik jika tujuan pembangunan ialah untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya orientasi pembangunan kita memang dimulai dari manusia Indonesia itu sendiri, yakni membangun manusia atau insan pembangunan menuju mayarakat yang sejahtera di dunia dan selamat di akherat.

Dalam konsep pembangunan seperti itu, artinya kita menempatkan manusia Indonesia sebagai subjek pembangunan sehingga semua sarana dan prasarana pembangunan fisik pada dasarnya berfungsi fasilitatif untuk menciptakan tujuan pembangunan yang lebih hakiki tersebut. Dalam kaitan in, menciptakan manusia pembangunan seringkali tidak segampang seperti yang diinginkan, sebab hal ini meliputi dimensi yang berkaitan dengan transformasi kultural, agar nilai- nilai kehidupan masyarakat kita sejalan dengan cita-cita pembangunan nasional.

Salah satu ciri utama manusia pembangunan ialah memiliki disiplin tinggi dalam hidupnya. Suatu sikap mental yang membuat orang tersebut mempunyai kiat untuk menghadapi tantangan hidupnya dan sekaligus memiliki kesada- ran yang tinggi tentang hak dan kewajibannya, baik sebagai anggota masyarakat ataupun sebagai warga negara. Sebuah prototipe manusia ideal dari insan Indonesia yang kita cita-citakan yaitu orang yang memiliki etos dalam hidupnya sehingga tidak menjadi beban dan menyulitkan orang lain, dan sekaligus memiliki etik diri dan sosial yang membuat dirinya dalam masyarakat sebagai panutan moral dan spiritual yang mendatangkan berkah dan rahmat bagi sekitarnya.

Etik dan etos sosial merupakan unsur penting dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih, dan peranan agama tidak dapat diabaikan. Agama adalah sumber motivasi dan inspirasi tingkah laku seseorang sebagai individu ataupun dalam pergaulan sosial yang lebih luas. Subjektifikasi pandangan hidup seseorang tidak lepas dari lingkungan masyarakat di sekitarnya begitu pula keadaan objektif sosial merupakan ekspresi umum dari situasi subjektif dari masyarakat itu sendiri.

Di sini berarti bahwa ada dua sphere kehidupan setiap orang yang sangat mempengaruhi etos dan etiknya, yakni; Pertama, dunia internalisasi orang itu melalui pendidikan keluarga ataupun sekolah dan dunia luas. Kedua, lingkungan soisal baik dalam komunitas ataupun tempat di mana bekerja. Keduanya saling terkait, yang kalau keduanya konsisten atau monostandard membuat orang itu tenang. Namun jika tidak, biasanya melahirkan dilematis, yakni resah secara moral dan membuat frustasi.

Dalam hal ini agama mempunya fungsi ganda, yaitu; Pertama, sebagai motivasi untuk menumbuhkan etos yang positif dan etik puritan, sedangkan di segi yang lain, agama berfungsi psikologis untuk memberikan ketentraman tatkala batin seseorang sedang goncang, dan tatkala hawa nafsu sedang bergejolak untuk mencari kepuasan melanggar hak-hak kewajiban dirinya.

Agama, yang terakhir ini berfungsi sebagai hidayah tatkala orang begitu saja hendak menyeberang dan sekaligus memberikan pegangan agar seseorang tidak hanyut dalam zaman bendu (edan), yaitu tatkala dunia sudah penuh dengan tingkah laku konformis negatif, yang tidak jelas mana yang salah dan mana yang benar. Sikap mental pribadi atau masyarakat dipengaruhi oleh nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat kita, nilai-nilai dasar itu tercermin dalam Pancasila (5 sila atau 36 butir nilai P4).

Tentunya, di samping nilai-nilai Pancasila itu ada pula nilai-nilai periferal. Nilai-nilai periferal itu ada yang positif terhadap pembentukan sikap mental pembangunan, dan sebaliknya ada yang negatif terhadap sikap mental pembangunan baik untuk pribadi maupun masyarakat Indonesia.

Dalam masyarakat kita yang agamis, tentunya niali-nilai inti maupun nilai-nilai periferal dari masyarakat itu sangat jelas ada kaitannya dengan kepercayaan dan keyakinan agama.

Sikap Mental

Sikap mental manusia maupun masyarakat Indonesia dengan demikian jelas diarahkan oleh psiko- sosio-kultural dan agama. Proyeksi sikap mental yang bersifat batiniah abstrak itu ke dalam bentuk perilaku lahiriah secara nyata, tampaknya ditentukan oleh dua faktor yaitu, kendala situasi dan norma lingkungan.

Dengan demikian jelas bahwa seperti telah saya singgung sebelumnya bahwa untuk tumbuh dan berkembangnya sikap mental yang berdisiplin haruslah dapat dibina lingkungan dengan situasi dan norma yang favourable. Suatu tekad untuk bertingkahlaku berdisiplin tidak selalu dapat diwujudkan karena lingkungan dengan situasi dan normanya tidak favourable.

Suatu sikap kejiwaan yang harus dimiliki oleh setiap warga negara yang sadar tanpa harus dipengaruhi oleh unsur-unsur dari luar yang bersifat memaksa. Orang- orang dengan kualitas semacam ini akan menjadi modal sosial karena dapat memberikan motivasi dan sekaligus membentuk visi bagi masyarakatnya.

Sikap mengendalikan diri semacam ini tidak mungkin akan dimiliki seseorang jika tidak ada pengorbanan.

Sedangkan pengorbanan tidak akan mungkin tumbuh dari nurani seseorang jika orang tersebut tidak memiliki pandangan hidup, yaitu kerangka keyakinan yang memberikan makna seseorang untuk apa sebenarnya kita hidup ini. Apakah kita hidup untuk memenuhi ego konsumtif ataukah strategi jangka panjang yang tidak hanya bersifat kini dan di sini (ad-dunya), tapi nanti di hadirat illahi (al-akhirat).

Suatu corak iman, yang membuat orang tidak hanya berpikir tentang kepentingan dirinya sendiri, tapi juga menyadarkan perlunya orde yang tertib yang menjaga keselamatan dan kemaslahatan orang lain dan alam sekelilingnya.

Dengan kesadaran seperti ini, seseorang akan mempunyai tanggung jawab sosial yang tinggi dan tentu saja kepedulian untuk menjaga hak orang lain dan bukan hanya haknya sendiri.

Memang, kita akui di zaman konsumerisme sekarang ini menjadi orang jujur tidak mudah. Topo ing sajroning projo, yakni bertapa dalam kemewahan, terikat dalam kesempatan itu tidak mudah. Dibutuhkan kedalaman spiritual melalui keimanan yang menghunjam. Suatu tingkat spiritual yang tinggi yang mengantarkan seseorang ke derajat ihsan. Yaitu tingkat keberagamaan yang menumbuhkan self control pada diri seseorang, yang selalu merasa bahwa ada kekuatan yang lebih besar selalu mengawasi gerak geriknya. Inilah, saya kira tantangan kita bersama, tantangan penghayatan agama bagi kita semua.

Agama yang secara substansial dapat memberikan roh dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok mayarakat. Apapun sistem pengawasan yang kita buat, jika tidak disertai penyiapan kondisi objektif moral dan spiritual, rasanya keberhasilan pengawasan yang sudah melekat itu masih jauh dari kenyataan untuk meningkatkan citra dan wibawa pemerintah. Wallahualam.

 

       

 


FastCounter by bCentral