Surat dari Australia : Wong Indonesia, orang China opo wong IndoChina ?? Mumet!!!

Oleh Grace Tan, Melbourne and submitted by Dr Francis Kim

Adalah hal yang wajar orang ingin berimigrasi ke suatu Negara yang dianggapnya lebih baik untuk masa depan dirinya sendiri

maupun keluarganya, jika memang sudah berkeluarga.

Ngomong-ngomong mengenai berimigrasi, saya baru akan 2 tahun

menjalani rasanya jadi imigran. Kebetulan saya adalah seorang

keturunan Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia . Rencana untuk

imigrasi tidak pernah terlintas dalam kepala saya, semua

serasa tiba-tiba, karena memang ada kesempatan dan biaya yang

cukup memadai untuk berimigrasi.

 

Sebelumnya saya ingin curhat sedikit berkaitan dengan judul di

atas... bukan mau sara atau apa, sama sekali tidak.. Ini

benar-benar pengalaman yang rasanya kalau tidak di share sayang.

Ayah saya adalah seorang dokter tentara, jadi praktis masa-masa

saya bertumbuh sangat jarang ditemani oleh ayah saya yang

sangat saya sayangi. Dia adalah tipe orang yang selalu bilang

ok untuk membantu orang lain, siapa pun itu. Dari tukang becak

sampai pemilik hotel mewah atau turis-turis asing yang membayar

dengan dolar, semua diterima dengan timbangan yang sama.

 

Jadi sebagai anak, meskipun kehilangan moment yang seharusnya

dilalui dengan kehadiran seorang ayah, saya bisa mengerti

karena itu merupakan pilihan hidupnya, dan saya sangat bangga

padanya. Masalahnya ketika saya dewasa... saya melihat penghargaan akan

apa yang dilakukan ayah saya selama ini dan apa yang saya

alami rasanya kok jadi kecewa dan ingin rasanya berkata pada

ayah saya... "Pa, kenapa si kok papa mau sampai begitunya

memperhatikan mereka?"

 

Kenapa saya sampai punya pertanyaan demikian, sebab ketika

saya SD, kebetulan waktu itu jarang keluar rumah, jadi kulit

masih agak putih kekuningan, begitu keluar rumah mau jalan-jalan

sore.. anak-anak seusia saya langsung berteriak "Cina...

cina...cina.." Waduh... saya langsung lari masuk ke rumah,

karena takut setengah mati. Rasanya mereka seperti melihat

mahkluk aneh dan menjijikan... well, it is true.. still very

clear in my memory. I wish I could wipe it away!!

 

Ketika duduk di kelas 1 SD entah hari apa, seorang guru masuk

ke dalam kelas dan bertanya demikian : " Siapa yang keturunan

Tionghoa angkat tangan.." Siapa yang pribumi angkat tangan."

Waktu itu saya masih bodoh, saya pikir saya dan teman-teman saya ya

sama sajalah. Apa itu tionghoa... apa itu Jawa..? Pengetahuan

saya memang masih nol besar.

 

Tapi perasaan saya tidak enak ketika yang mengangkat tangan

untuk kelompok pribumi lebih banyak daripada yang kelompok

Tionghoa... sebagai anak saya mau masuk yang kelompok banyak

dong... bodoh ya? Waktu itu saya satu-satunya anak perempuan

yang tidak angkat tangan. Sampai seorang guru bertanya pada saya begini

"Grace, kamu kalau panggil ibunya ibumu, dengan nenek atau emak...?"

Meskipun saya tahu emak... saya tidak mau menjawab... Saya tidak mau

masuk kelompok yang sedikit, hik hik..

 

Lalu pulang dari sekolah saya masih ingat, saya langsung tanya

dengan ibu saya, "Ma, kita ini orang pribumi apa keturunan

Tionghoa sih?" Lalu ibu saya menjawab... :" Kita ini ya

keturunan Tionghoa." Reaksi saya waktu itu berhubung masih

kecil langsung kecewa.. kok masuk yang minoritas?? Saya

menangis.. karena waktu itu pikiran saya, tidak mau masuk

kelompok yang sedikit.

 

Perjalanan hidup saya justru makin lama makin dekat dengan

orang pribumi. Kulit saya berhubung sering naik sepeda pergi

dan pulang sekolah jadi hitam.. kebetulan mata saya belo jadi

bukan sipit seperti amoy-amoy yang masih asli lho, dari Tiongkok.

Teman karib saya seorang pribumi, namanya Ani saya masih

ingat.. malahan sama orang keturunan saya hampir tidak

berkumpul. Sekolah SMA saya malah di negeri, karena saya pikir

hidup di Indonesia ya udah jadi orang Indonesia ...mau apa

lagi.

 

Ada pengalaman lucu, waktu akan mendaftar ke UGM, saya tahu

harus pakai SBKRI, itu lho... waktu ambil formulir pendaftaran

kan ditanyain, orang indonesia asli atau keturunan... dan sebagainya

dan sebagainyha... Wah daripada repot pikir saya... nekat saya pakai

sepatu butut.. rambut awut-awutan.. ngak rapi sama sekali, terus

berhubung di sekolah diajarin bahasa jawa ( kan jadi bisa

dong!!) Saya maju ambil formulir dengan sopannya model mbak-mbak

yang alus wis nggono nganggo boso jowo sing alus njaluke

formulir... langsunglah suksessss... nggak ditanyain SBKRI!!

Siippp..

 

Dalam hati saya... lha nek saya sudah bisa begini mestinya

lulus jadi warga negara Indonesia asli, ada tambahannya asli,

karena kalo tidak, cuma warga negara Indonesia , tapi

keturunan... laaaaah sama aja dong... kok ada embel-embel

keturunannya.. hik hik!

Kapan ya dianggap samanya?

 

Jadi saya ini serba salah... pertama kali ketemu dengan

orang-orang pribumi mereka akan mengira saya orang pribumi..

lama-lama tau jugalah.. kan saya juga tidak bisa bohong melulu

mengenai keluarga, apalagi kalo main ke rumah saya... dari

yang tadinya panggil MBAK... setelah berkunjung ke rumah, tuh

liat ada foto nenek moyang... jadi panggilnya nggak pakai Mbak

lagi...

 

Di kelompok keturunan, berhubung saya lumayan coklat

kehitaman, dan mata belo, dianggap bukan keturunan... wah

repot!! Kalo bergurau cerita film silat, terus terang saya

kurang pengetahuan... jadi merasa kuper dan tidak bisa

mengikuti obrolan kelompok ini juga. Ini dulu... waktu masih

masa sekolah. Lha mereka keluarga pedagang, saya keluarga

tentara... meskipun sama-sama keturunan mana bisa klop obrolannya?

Filmnya Liu Tek Hua aja ngga tau kayak apa... film serian

silat lagi... mana bisa pinjam, video pun tak punya!!

 

Nah... sekarang saya jadi imigran lagi di Australia ... dulu di

Indonesia berarti saya imigran juga dong... paling tidak nenek

moyang saya dulu dari China . Tapi banyak hal membuat saya

terharu ketika sampai di negara ini ya, kalo boleh disebut

banyak jadi dikit aja ya ... saya melihat anak-anak saya tidak

diperlakukan seperti ketika saya kecil... padahal suami dan

saya sendiri tidak ada andil sama sekali buat negara

Australia , bukan tentara seperti ayah saya yang keliling ke

Timor2... Kupang... Soe... demi membantu rakyat miskin.

 

Ketika diperlakukan sama dalam hal-hal kesehatan.. dan baru-baru ini

saya terima surat , saya buka, saya pikir ini dari Deparatemen

Education Victoria , asiiik... saya ditawarin kuliah lagi atau

apa... eh ternyata isinya check dari pemerintah, berkaitan

dengan anak saya yang baru saja masuk SMP, 300$ katanya uang

bantuan soalnya sudah memasukkan anak ke sekolah, artinya

mendukung program pemerintah dalam hal pendidikan. Waduh...

apa ngga terharu ya.. kaget aja, kita ini kan orang dari

Indonesia ... banyak warga Australia yang jadi korban bom

Bali .. dan sebagainya. Tentu saja pemerintah tahu saya ini imigran dari

negara mana. Tapi tidak dipermasalahkan.

 

Anak saya tidak pernah di data kamu orang apa... atau ketika

Berjalan-jalan dikata-katai Indo Indo.. Indo.. apa ya mau dikatai

Indo... wong keturunan China .. jadi mau dikatain apa, bingung

juga mestinya ini para bule seandainya mereka mau iseng...

Indocina apa? Mumet!! Kita tidak harus mengganti nama menjadi

Grace Mc Donald atau Grace Inggals Wilder...

 

Pengalaman hidup di Aussi malah makin excite buat saya ..

.ketika belanja di daerah orang Vietnam , saya diajak ngomong

Vietnam ...Mana ngerti?!! ketika belanja di daerah pecinan,

Tiba-tiba seorang bapak-bapak ngajak omong bahasa Mandarin, dan

saya cuma jawab wo wo wo... ya ya ya... sie sie... rupanya dia

bilang kalo pilih roti kalengan yang ini enak.. hau je...

Ketika ketemu kelompok bule, dianggap orang dari Filipina...

wah wah waaaaaah, mungkin tampang saya ini sudah amburadul...

saya malah berpikir begitu. Bener-bener deh.. kok ngga ada yang

anggap dari Indonesia !

 

Kalau boleh curhat ya... seseneng senengnya tinggal di

Aussi... hati ini berhubung sudah lahir, makan, tidur, sekolah

( di UI ehm... ehm..., yang ini ngaku kalo punya SBKRI lhooo,

kesadaran saya sudah tumbuh nih ceritanya) di Jawa... tentu masih

kangennya mendoan, tempe , tahu, rujak, gado-gado... Itu tidak bisa disangkal.

Kalo makan bangsa steak, spaghetti... apa lah itu namanya makanan Eropa,

enak si enak, suka si suka, tapi hati ini kadung cinta dengan

suasana bakso tek-tek lewat, soto mie... dan bakul songkro

nasi goreng telor mata sapi dan krupuk warna warni... Slruup

slruup..!

 

Hmmm.... tapi setiap orang mesti memilih. Bikin pilihan...

Life is a matter or choice kata orang tua. No pain no gain..

Artinya semua hal ada konsekuensinya. Tinggal mana yang paling

sreg... paling yahui di hati. Intinya sulit bisa happy kalau

masalah jati diri seperti ras.. agama.. status.. masih di

jadikan grundelan dalam hati. Mana bisa bebas bicara.. ih

takut! Mau kerja yang baik, rajin.. damai... maunya begitu...

tapi apa ada yang menjamin anak cucu yang notabede keturunan

Tionghoa ini akan jadi warga negara Indonesia (sama dengan

asli), tidak ada embel-embel keturunan Tionghoa? Keselamatan mereka

jika ada kerusuhan?

 

Ayah saya begitu taat pada negara. Keluarga ditinggalkan

bertahun-tahun makan beras jatah tentara, bagaimana sedih hati

saya melihat teman-teman didampingi ayah, sedangkan saya tidak

.. demi tugas. Ibu saya seorang guru, lho apa lagi, kurang apa

orangtua saya sudah bener-bener 100% mau jadi orang Indonesia . Saya

bisa tari Jawa juga lho.. Mesti mengganti nama sudah... suruh

berbahasa Indonesia sudah (sampai-sampai sama sekali tidak bisa

berbahasa Cina lagi).

 

Well.... saya berdoa semoga Indonesia suatu saat nanti

memiliki hukum yang kokoh dan pasti, tidak pakai suap-suapan...

pejabatnya memberi contoh hidup yang sederhana, karena rakyat

masih banyak yang miskin, birokrasi bersih, peraturan diikuti,

rakyat diperhatikan, Koran-koran bukan membahas artis ABC DE .. tapi

kesejahteraan rakyatnya. Semoga para keluarga tentara, polisi

bisa sejahtera, dengan gaji yang pantas dan layak.

 

Anak saya yang sulung, tiba-tiba berkata demikian ketika kami naik

mobil dari sekolahnya menuju rumah... "Mah... kita suruh orang

Australia tukeran negara sama Indonesia yuk. Biar mereka punya

tanah yang subur tidak gersang seperti ini... dan biar orang

Indonesia senang, bisa punya rumah semua .. tidak kebanjiran."

Saya hanya termangu... dalam hati berkata.. ya.. mama juga

maunya seperti itu. Seandainya...I never hate you Indonesia , still I love you. But man... life

is a matter of choice!

 

       

 


FastCounter by bCentral