Siapakah Musuh Kita ?

Oleh Chan. CT.

Tulisan diatas dengan judul "Siapakah Musuh Kita?" tentu harus dijawab

dengan baik sesuai dengan periode sejarah ketika itu, sehingga kita bisa

dengan baik mewujudkan seruan dikalimat terakhir: "INDONESIA UNTUK BANGSA

INDONESIA!" secara tepat pula.

 

Pada saat Indonesia masih dijajajah Belanda,

Belanda-lah musuh kita, juga pada saat Jepang menguasai Indonesia,

Jepang-lah musuh kita. Yang menjadi masalah justru setelah Indonesia

memproklamasikan Kemerdekaan 17 Agustus 1945, siapakah musuh kita? Persoalan

yang tidak bisa tidak harus direnungkan bersama, khususnya setelah lebih 61

tahun mencapai Kemerdekaan masih juga tidak berhasil mencapai tujuan

meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak, masih lebih 40% rakyat hidup

dibawah garis kemiskinan. Padahal kekayaan alam bumi Indonesia, khususnya

selama 37 tahun terakhir ini telah dikuras habis-habisan. Kemana larinya

kekayaan/harta hasil pengurasan kekayaan-alam, yang katanya minyak, besi,

timah, emas, sudah nyaris ludes, ... hutan lebih 70% gundul, kekayaan

dilaut, ikan-udang juga sudah jauh berkurang. Inilah kenyataan yang dihadapi

bangsa Indonesia.

 

Sesaat setelah Merdeka, Pemerintah RI dibawah pimpinan Presiden

Soekarno-Hatta menghadapi tantangan berat, disamping harus membangun ekonomi

peninggalan penjajah Jepang yang morat-marit dan serba kekurangan, masih

harus menghadapi agresi Belanda-Inggris yang berkeinginan meneruskan

jajahan. Tetapi, disaat-saat itu justru terjadi persatuan bangsa Indonesia

yang cukup teguh, benar-benar mewujudkan Bhineka Tunggal Ika dalam kenyataan

hidup. Persatuan nasional tergalang tanpa mempedulikan perbedaan ras,

perbedaan etnis dan perbedaan Agama yang ada, bergotong-royong menghadapi

segala kesulitan. Disaat-saat itulah kita masih bisa melihat adanya

tokoh-tokoh dari etnis Tionghoa dan etnis Arab diikut sertakan mengurus

negara ini, disaat itulah kita bisa melihat Amir Syarifudin yang Batak dan

Kristen bisa menjabat Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, ...

 

Tapi sayang, adanya pengaruh perang dingin yang makin memanas didunia

internasional, pertarungan makin sengit antara kubu kapitalis Amerika

Serikat dan kubu sosialis Uni Sovyet, tidak bisa tidak tercermin dalam

perjuangan politik di negeri ini. Presiden Soekarno yang berdiri tegak

mempersatukan negeri-negeri dunia ke-3, yang dimulai dengan berhasil

diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika, Bandung 1955, dimana Bandung

spirit yang dikenal ketika itu berkumandang membangkitkan perjuangan

kemerdekaan rakyat Asia-Afrika melepaskan diri dari belenggu imperialisme.

Kemudian akan dilanjutkan dengan CONEFO (Conference Of the New Emerging

Forces) yang batal karena meletus G30S. Kegagalan diselenggarakan CONEFO itu

mestinya sangat disayangkan oleh Rakyat Indonesia, karena CONEFO itu

merupakan langkah maju ke pelaksanaan UUD yang menentukan: "ikut

melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi

dan keadilan sosial". Tetapi, akibat dari politik luar-negeri Presiden

Soekarno yang makin condong kekiri, dalam posisi mempersatukan negeri-negeri

dunia ke-3 untuk melawan cengkraman dunia kapitalis/imperialis dengan

gembong Amerika Serikat itu. Sampai pada seruan yang terkenal: "Go to hell

with your aid". Membuat AS berang dan berusaha berkali-kali menyingkirkan,

membunuh Presiden Soekarno, dan, ... dengan munculnya G30S, Presiden

Soekarno berhasil digulingkan dan Jenderal Soeharto menjadi Presiden RI

ke-2.

 

Setelah Presiden Soeharto, dengan politik berpaling pada dunia

imperialis, menjalankan politik buka-pintu mengundang modal asing raksasa

masuk menguras kekayaan-alam bumi Indonesia, terjadilah perubahan besar di

Indonesia. Lahir sekelompok pejabat tinggi, jenderal-jenderal yang

kaya-raya, serta sekelompok konglomerat yang tampil sebagai pengusaha

"berhasil" di Indonesia. Terjadi bangunan-bangunan tinggi pencakar langit,

Hotel-hotel berbintang 5, bar-club mewah, mobil-mobil mewah berkeliaran, ...

kesenjangan sosial, perbedaan kaya dan miskin bagaikan jurang dalam yang

mencolok. Drs. Moh. Hatta, co-proklamator dan bekas wakil Presiden pertama

RI untuk menyatakan bahwa perkembangan ekonomi telah terjadi penyimpangan

dari cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945. Drs. Moh. Hatta di Sinar Harapan

tanggal 24 Agustus 1976, menyatakan lebih jauh: "Cita-cita proklamasi

kemerdekaan adalah mencapai kemakmuran bagi semua Rakyat. Tetapi sekarang

kita memperkuat sektor swasta, yang terdiri dari sedikit orang saja. Ini

menyebabkan kekayaan tidak merata". Yang terjadi, setelah kekayaan alam

bumi Nusantara ini dikuras secara besar-besaran, sebagian besar tentu jatuh

ketangan modal-asing, sedang bagian lain jatuh ketangan pejabat-pejabat

korup itu. Sedang maryoritas mutlak rakyat Indonesia hanya kebagian kerja

keras saja, bahkan bisa dikatakan hanya kebagian getahnya. Nangka dimakan

modal-asing dan sementara pejabat tinggi, rakyat jelata kebagian getahnya

saja.

 

Satu contoh yang menarik jadi perhatian, Haji Thahir secretaris dari dr.

jenderal Ibnu Sutowo, direktur utama Pertamina. Gaji resmi yang diperoleh

hanya US$.9.000 setahun, tapi ketika meninggal dunia, ia bisa meninggalkan

warisan harta yang diketahui saja US$.80 juta, peristiwa 'uang simpanan'

haji Thahir pada 3 Bank Asing di Singapore yang mencapai jumlah US$.80 juta,

jadi sama dengan gajinya selama 9.000 tahun! Haji Thahir oleh penguasa

dinyatakan sebagai 'pahlawan' dan dimakamkan di Taman Pahlawan. Sayang tidak

dijelaskan alasan dia diangkat menjadi seorang pahlawan, dan tidak sedikit

orang menjadi terheran-heran, pada saat hampir dari separoh Rakyat Indonesia

masih harus hidup dibawah garis kemiskinan, tapi tetap saja ada orang yang

tega menikmati kehidupan mewah diatas penderitaan rakyat banyak. Kebocoran

yang bisa masuk kantong seorang petugas perusahaan negara demikian besarnya,

merupakan bukti bahwa politik ketika itu belum ditujukan untuk mengabdi pada

kepentingan Rakyat terbanyak.

 

Beberapa tokoh oposisi dan diakui juga oleh Prof.dr.Sumitro sebagai

Menteri Research, bahwa ditahun 1980, penggunaan anggaran belanja negara

mengalami 'kebocoran' antara 30-40% dan atas dasar perhitungan pengeluaran

anggaran belanja kl. US$.10 milyard, maka uang negara yang lenyap akibat

'bocor' itu kl. US$. 3 hingga 4 milyard! 'Bocor' berarti tidak bisa

dipertanggung jawabkan kemana perginya dan digunakan untuk apa. Baik DPR,

Badan Pemeriksa Keuangan sampai MPR ternyata tidak bergigi 'untuk bisa

memeriksa dan usaha untuk mengatasi kebocoran' keuangan negara itu. Orang

tentu bisa menghitung sendiri, kalau jumlah uang ke 'bocoran' itu digunakan

untuk perbaikan kesejahteraan Rakyat banyak, tentu bisa mengakhiri

kemiskinan dengan lebih effektif.

 

Lalu bagaimana dengan lahirnya ratusan konglomerat yang kebetulan

mayortitas dari etnis Tionghoa itu? Merajalelanya KKN dijaman ORBA, dengan

memberikan "fasilitas", "kemudahan" pada segelintir pengusaha untuk

memonopoli dibidang usaha masing-masing, benar-benar telah merusak sistem

birokrasi yang sehat, merusak ekonomi nasional. Pemberian kredit tanpa

agunan yang sepadan, juga merusak sistem perbankan. Nyata terjadi setelah

Krismon diakhir tahun '97, akhirnya pemerintah dikemplang oleh hutan-piutang

konglomerat itu, sedang bantuan BLBI yang didapat dibawa kabur keluar-negeri

oleh sementara pengusaha. Pokoknya, "kolusi dan korupsi" makin menjadi-jadi

antara pejabat-pejabat tinggi kekuasaan negara dengan sementara

pengusaha-konglomerat, segelintir merekalah itulah yang jadi kaya-raya dan

nyaris membuat negeri ini bangkrut.

 

Melihat kenyataan-kenyatan demikian ini, siapakah musuh kita

sesungguhnya? Adalah satu kesalahan besar kalau kita hanya menunjuk

pengusaha-konglomerat Tionghoa yang "berhasil" itulah musuh kita, yang

membuat rakyat Indonesia tetap papa-miskin. Karena pengusaha-konglomerat

Tionghoa disini hanyalah akibat saja, yang menjadi sebab masalah

sesungguhnya adalah pejabat-pejabat tinggi yang korup itu. Untuk

mempertahankan hidupnya, si pengusaha entah "pribumi" entah "non-pribumi"

tidak bisa tidak, harus mencari orang yang bisa memberi kelancaran usahanya,

yaitu bapak-bapak pejabat di Pemerintahan dan bapak-bapak Jenderal, atau

anggota keluarga bapak-bapak pejabat tinggi yang bisa memberikan relasi.

Inilah sumber merajalelanya "kolusi dan korupsi" antara penguasa dan

pengusaha, yang sangat merusak dan merugikan perekonomian nasional! Dan, ...

semua pengeluaran ongkos membiayai pejabat-pejabat tinggi itu, pengeluaran

uang pelincir itu dijatuhkan pada rakyat jelata yang jadi konsumen.

Terjadinya persekongkolan pejabat-pejabat tinggi dengan segelintir pengusaha

inilah musuh bersama rakyat Indonesia.

 

Dan, inilah tantangan berat setiap Pemerintah yang berkuasa untuk

membenahi pembusukan yang telah terjadi disetiap aparat birokrasi untuk

membentuk satu pemerintahan yang bersih dan berkemampuan. Menegakkan HUKUM

sebaik-baiknya, untuk menjamin setiap warga sama dihadapan HUKUM, tak

seorangpun boleh kebal HUKUM. Jatuhilah hukuman seberat-beratnya pada

pejabat-pejabat tinggi yang ber-KKN untuk menyumbat kebocoran Anggaran

Belanja Negara yang terjadi, menjamin kelancaran perputaran roda ekonomi

nasional, semaksimal mungkin penghasilan pajak penghasilan dan pendapatan

digunakan mengangkat kesejahteraan rakyat terbanyak. Hanya dengan demikian

bisa tercapai seruan penutup tulisan, " Indonesia untuk Bangsa Indonesia!"

Dan warga Tionghoa yang sebagian besar sudah merupakan turunan entah

keberapa yang lahir dan dibesarkan di Nusantara ini, tidak bisa tidak

merupakan bagian integral Bangsa Indonesia, adalah juga bangsa Indonesia

asli. Demikian ketentuan yang telah ditetapkan UUK no.12/2006.

       

 


FastCounter by bCentral