Cruise ke Panama # 5
Jusni Hilwan/IM
Karena tujuh adalah salah satu angka keramat manusia, maka dari era jaman
dahoeloe kala, ada 7 keajaiban di dunia, salah satunya adalah piramid Mesir.
yang dimasukkan ke dalam 'ancient wonders'. Panama Canal, selain CN Tower
di kota Toronto, dimasukkan ke dalam 'seven wonders of the modern world'.
Kalau Anda menyimak 5 lainnya, antaranya San Francisco Golden Gate Bridge
dan The Empire State Building, Anda lalu akan maklum bahwa klasifikasi
keajaibannya didasarkan atas karya manusia modern.
Seperti sudah kutulis, tujuan cruise kami kali ini adalah Panama Canal dan
meski kapal kami cuma berlabuh di muara di sebelah Lautan Atlantiknya, kami
perlu menyusuri sang selat hebat buatan manusia itu, agar isteriku benar :-).
Ongkos nge-cruise gelombang kedua ini yang tidak terlalu murmer adalah
US$ 130 per orang, tadinya kukira akan dari ujung ke ujung. Salah besar rek,
mulainya dari sekitar pertengahan alias kami diangkut dulu naik bis sekitar
1 jam-an, ke kota bernama Gamboa. Kecapan mereka adalah, itulah daerah paling
menarik alias susah dibikinnya, Gaylord Cut, karena mereka mesti menggali
bukit yang disebut 'continental divide', daerah paling tinggi di Panama yang
membatasi membelah aliran sungainya, yang ke Atlantik dan yang ke Pasifik.
Selat Panama yang membutuhkan waktu 30-an tahun pembuatannya dan makan 27500
jiwa (mayoritas meninggal karena malaria dan demam kuning), mulai beroperasi
pada tahun 1914. Ada 3 lock atau bendungan di Panama Canal dan karena kami
mulainya dari Gamboa, satu lock bernama Gatun Lock kami lewatkan. Memang
pelayaran dari ujung ke ujung akan makan waktu sekitar 8 s/d 10 jam sebab
panjangnya kanal tersebut sekitar 80 km. Dua bendungan yang kami lalui dan
membuat kami terkesima dengan "keajaiban dunia" atau karya manusia di awal
abad lalu adalah Pedro Miguel Lock dan Miraflores Lock, bendungan terakhir
sebelum kami mencapai Samudera Pasifik (yang terlihat di kejauhan). Kehebatan
bendungan itu adalah, dalam waktu yang singkat hanya ukuran menit begitu kapal
kami masuk, ketinggian air mereka turunkan puluhan meter sehingga kapal bisa
melanjutkan perjalanannya ke danau/perairan yang lebih rendah. Dalam waktu
sekitar 8 menit untuk ruangan bendungan itu diisi atau dikosongkan, 800 juta
liter air berpindah tempat. Untuk Anda yang mau mengikuti jejak kami atau
cruising sepanjang Panama Canal, sekarang Anda tahu ada pilihan pergi dhewek
seperti kami lakukan, atau cari cruise ship yang melintasinya. So pasti
ongkosnya akan lebih mahal dibandingkan dengan ongkos cruise yang tidak perlu
melintasi Selat Panama seperti cruise kami kali ini. Konon ongkos kapal
cruise melintasi Panama Canal sekitar US$ 200 ribu sahaja per trip.
Perjalanan naik bis ke Gamboa dan pulangnya dari pelabuhan paling barat di
tepi Samudera Pasifik bernama Balboa, boljug. Jalan rayanya boleh dibilang
mulus sebab daerah zona Panama Canal itu pernah dikuasai Amrik tetapi sekarang
sudah di bawah kekuasaan Panama kembali. Yang menarik, pengoperasian sang
selat dikontrakkan kepada kumpeni RRT bernama Hutchison Whampoa. Anda yang
suka ke Hong Kong tentu tahu atau kenal dengan nama sang perusahaan. Kemarin
ketika kami di Cartagena, restorasi katedral disitu dikaryakan ke Hyundai,
jelas terpampang papan nama sang kumpeni Korea di sisi dinding luar katedral.
Entah kapan Basuki Engineering bisa kita lihat papan namanya terpasang di
luar kawasan Pulo Gadung di kota-kota dunia :-).
Hari ini gala dinner kami yang kedua alias makan enak pakai jas atau pakaian
resmi. Seperti kukatakan, di informasi yang bisa kita simak dari situs Web,
cruise MSC (cuma) terkenal dari makanan Italianonya. Setiap malam kami
menyantap hidangan dari daerah-daerah berlainan di Itali, provinsinya. Misal
dari Lombardi, Parma, Roma, Sicilia, deeste. Namun, dasar anak Betawi rada
norak, saya mah tidak bisa membedakan perbedaan masakan mereka, semuanya sama
seperti masakan Itali :-). Lain halnya kalau kita di Melayu pan, masakan Jawa
seperti gudegnya bisa kita bedakan dengan karedok Sunda atau ketoprak Jakarta.
Atau Anda yang sudah mendapat gelar doktor urusan makan di Toronto sini, so
pasti tahu bedanya makan di restoran Cantonese dengan Szechuan dengan Tiochew.
Engga heran anak Asianya bisa dihitung dengan jari, kecuali tentu awak kapal.
Mong-ngomong Melayu di atas kapal ini, sedemikian banyaknya mereka sehingga
setiap kami berpapasan, ada yang belum pernah kami kenal :-). Cem-macem yang
kami obrolin dan suatu ketika saya bertanya, kenapa tidak ada opiser atau
Melayu berpangkat tinggian di kapal ini. Paling banter jabatan mereka adalah
waiter (di atas assistant waiter) atau cabin attendant. Jawaban mereka masuk
di akal. "Engga ada yang mau pak naik pangkat jadi tinggian sebab nanti mesti
jadi galak ke sesama bangsanya." Kalau pun mereka mengejar karir, mereka
pindah ke cruise company lainnya dimana cuma sedikit awak kapalnya yang dari
Indonesia, demikian kata si Nyoman. Saya jadi teringat 'pecking order' di IBM.
Tepatnya, mereka yang sudah menduduki manager tingkat dua ke atas, memang
sudah sukar untuk tetap pren dengan koleganya dulu. Satu dua jadi 'ass....'
di mata teman-teminnya dan rupanya itu yang menyebabkan tidak ada kelasi yang
semart itu yang mau menjadi anunya keledai di mata prennya :-).
... (bersambung) ...
|