Gus Dur Nilai, Pemberantasan Korupsi Tebang Pilih

[ST]

Ketua Dewan Syuro DPP PKB Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menilai, pemberantasan korupsi masih dilakukan secara tebang pilih, sedangkan korupsi yang dilakukan pihak lain dibiarkan terjadi.

"Hukum berjalan tebang pilih. Asal kena Megawati (Soekarnoputri, mantan Presiden RI --Red) dan lingkungannya, jadi pelaku, tetapi korupsi di tempat lain dibiarkan. Inilah tebang pilih saat ini," katanya di Magelang, Minggu (4/3), saat berpidato politik dalam "Silaturahmi dan Konsolidasi Jajaran PKB Kabupaten Magelang", di Gedung Nahdlatul Ulama, Kabupaten Magelang.

Sejumlah orang dari lingkungan Megawati yang sekarang terkena kasus korupsi, kata Gus Dur, antara lain mantan Menteri Agama Said Agil Munawar, Direktur Utama Jamsostek Achmad Junaidi, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri. Ketiga mantan orang penting di era pemerintahan Megawati itu, menurutnya, telah disikat habis dalam kasus korupsi.

Ia mengemukakan, keinginan melakukan pemberantasan korupsi terkait dengan masalah kebersihan aparat atau pihak terkait yang melakukannya.

"Kita harus bersih, kita wajib membuat hubungan kemanusiaan yang baik dengan dasar kebersihan, itu bisa dilaksanakan kalau rakyat kita jujur," katanya.

Sementara PKB, kata Gus Dur, mengemban perjuangan berat untuk mengembalikan bangsa Indonesia kepada nilai-nilai kejujuran dan menata jalannya pembangunan.

Gus Dur menyatkan, tugas berat PKB pada masa mendatang adalah membangun masyarakat Indonesia yang bersih. Ia juga menjelaskan, bangsa Indonesia kini kehilangan akhlak karena sistem pendidikan yang keliru pada era pemerintahan orde baru, yang mendasarkan filsafat positivisme.

"Kita kehilangan akhlak karena pendidikan kita keliru, berdasarkan filsafat positivisme John Dewey dari Amerika Serikat 100 tahun lalu, yang hanya nguber (mengejar) kecakapan untuk melahirkan profesor, doktor, insinyur, MA (master of art --Red), tetapi MA-nya maling," kata Gus Dur.

"PKB dan NU memiliki perjuangan panjang untuk memperbaiki berbagai kerusakan bangsa, itu bisa dilaksanakan dengan kejujuran," katanya seraya menambahkan, saat ini kebangkitan bangsa bukan sekadar untuk suatu perbaikan melainkan perbaikan yang berarti.

 

       

 


FastCounter by bCentral