Budaya Islam di Tengah Masyarakat Tionghoa Sebuah Tinjauan Kultural
Oleh Seruni Ambarkasih
Selama ini kita mengenal Tiongkok, sebuah negara dengan penduduk terbanyak di dunia dan dengan wilayah terluas ketiga di dunia setelah Rusia dan Kanada sebagai negara dengan pemerintahan yang menganut sistem komunis. Hal itu didasarkan pada pembentukan Republik Rakyat Tiongkok (Zhong-hua Jen-Min Gong-he Guo) pada 1 Oktober 1949 setelah kekuatan komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong memenangkan perang saudara melawan kekuatan nasionalis yang dipimpin oleh Chiang Kaishek.
Meskipun ideologi komunis sudah cukup lama dianut penduduk Tiongkok dan sejak 1 Oktober 1949 RRT resmi menjadi negara yang berdasarkan komunisme, namun berabad-abad sebelumnya, masyarakat Tionghoa sudah berkenalan pula dengan Islam. Agama ini diperkirakan sudah menyebar di Tiongkok sejak abad ke-VII di masa pemerintahan dinasti Tang. Islam berkembang di Tiongkok terutama bukan karena dibawa oleh orang-orang Islam dari kawasan Timur Tengah, pusat kelahiran Islam, tetapi dibawa oleh orang Tionghoa sendiri yang berkunjung ke kawasan ini. Mereka datang membawa beberapa kemampuan teknologi antara lain percetakan dan pembuatan kertas, dan kembali ke negerinya dengan mengusung “oleh-oleh” agama Islam.
Di sini dapat disimpulkan bahwa pada masa itu sudah terjadi kontak budaya dan teknologi antara pemeluk Islam di wilayah jazirah Arab dengan perantau Tionghoa. Tidak aneh, beberapa provinsi seperti Qinghai, Gansu, Shanxi serta daerah otonom Ningxia dan Xinjiang dihuni oleh penduduk Tionghoa yang kebanyakan beragama Islam sejak berabad-abad yang lalu. Orang-orang Tionghoa yang sudah masuk Islam ini terutama berada di wilayah barat laut, namun secara umum mereka tinggal merata di seluruh daratan Tiongkok. Suku atau etnik yang banyak memeluk Islam antara lain Uygur, Uzbek, Tajik, Kazakh, Huizu, Tatar dan Kirgiz. Suku-suku ini juga ada yang tinggal di wilayah Rusia, karena itu kita mengenal sebutan Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan dan Kirgiztan yang pernah dianeksasi oleh pemerintahan Uni Soviet menjadi negara bagiannya sampai Uni Soviet runtuh dan wilayah yang dihuni oleh suku-suku tersebut kembali menjadi wilayah yang merdeka.
Islam menjadi salah satu agama terpenting dan berkembang paling pesat di Tiongkok. Akulturasi budaya Islam dan tradisional Tiongkok sudah berlangsung demikian lama, sehingga kebudayaan masyarakat Tionghoa sekarang sebenarnya tidak murni merupakan budaya rakyat Tiongkok, karena sedikit banyak telah mendapat pengaruh budaya Islam. Hal itu mudah diketahui antara lain dari bangunan fisik masjid di Tiongkok yang merupakan campuran arsitektur Tiongkok dan arsitektur Islam. Masjid Huaizheng yang terletak di Bandar Guangzhou provinsi Guangdong misalnya, yang dibangun oleh dinasti Tang dan dianggap sebagai masjid tertua di negeri ini, mempelihatkan arsitektur gaya Timur Tengah yang amat menonjol. Padahal masjid tesebut dibangun di tengah komunitas Tionghoa yang memiliki bangunan khas arsitektur Tiongkok. Keduanya tumbuh berdampingan bahkan kemudian saling melengkapi.
Ketika itu Bandar Guangzhou sudah ramai dikunjungi oleh orang-orang asing beragama Islam, dan di antara mereka tentu saja banyak yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Budaya Islam bukan hanya semakin meluas, bahkan banyak diadopsi oleh penduduk asli Tiongkok di kawasan ini. Proses “asimilasi” budaya Islam dan tradisional Tionghoa berkembang pesat di zaman dinasti Yuan dan masa itu merupakan “zaman keemasan” perkembangan Islam di Tiongkok. Pemikiran Islam mulai menjadi bagian yang penting dari pemikiran bangsa Tiongkok dalam kehidupan berpolitik dan bermasyarakat.
Meskipun di negeri itu tidak banyak orang Arab Islam yang hidup di tengah komunitas Tionghoa yang memegang teguh budaya tradisionalnya, namun proses sosialisasi dan interaksi sosial-budaya bukan tidak pernah terjadi. Justru selama berabad-abad proses interaksi sosial-budaya berlangsung terus di negeri ini. Karena yang diadopsi oleh masyarakat Tiongkok budaya Islamnya dan bukan masalah geneologis etnisitas, maka yang terjadi di masyarakat Tiongkok budaya Islam berkembang dan berbaur dengan budaya tradisional Tiongkok untuk membangun kultur baru (sebut saja kultur Islam Tiongkok atau Tiongkok Islam) namun orang-orang Tiongkok tidak sampai mengalami arabisasi. Mereka mengadopsi filsafat Islam tapi tidak mengadopsi pakaian jubah dan jenggot orang Arab. Mereka mengadopsi kesenian Timur Tengah namun tidak mengadopsi sorban dan terompahnya.
Implikasi proses pertemuan Islam dan Tiongkok lewat jalur akulturasi ini mengakibatkan banyak orang Tiongkok menjadi pemeluk Islam secara kultural namun tidak membuat mereka mengambil sikap politik radikal. Apalagi sikap fanatik dengan keinginan menghapus budaya lokal mereka sendiri. Bagi masyarakat Tiongkok, Islam kultural merupakan suplemen untuk memperkaya budaya lokal. Barangkali ini suatu pelajaran penting bagi sementara masyarakat Islam Indonesia, di mana arabisasi malah lebih ditonjolkan daripada pengembangan Islam kultural yang perlu disosialisasikan sebagai pelengkap budaya lokal.
Radikalisme agama yang terjadi di Indonesia juga disebabkan karena di antara para pemeluknya ada yang lebih mengutamakan faktor formal-legalistik daripada sosial-humanistik. Akibatnya nilai humanisme yang menjadi pokok filosofi Islam tergeser oleh urusan seremonial. Dan di masyarakat Tiongkok, tampaknya itu tidak terjadi. Kebudayaan Islam menjadi faktor penting dalam kebudayaan Tiongkok, tetapi budaya Islam tetaplah budaya Islam dan budaya Tiongkok tetaplah budaya Tiongkok. Keduanya menyatu menjadi kebudayaan Tiongkok yang modern dengan masyarakatnya yang tetap moderat.
|