Indahnya China, dari Tembok Besar hingga teater

Oleh M. Syahran W. Lubis

China, raksasa itu, terus bergerak. Menguasai bidang ekonomi dan

menyatukannya dengan keindahan desain. Itulah yang terjadi belakangan ini di

Negeri Tirai Bambu tersebut yang diimplementasikan dengan bakal hadirnya 10

keajaiban di bidang desain, mulai dari National Grand Theatre hingga Commune

by the Great Wall.

 

Seperti yang ditulis sohochina.com, Commune memang membuka kesempatan bagi

mereka yang hendak menikmati keindahan Tembok Besar China dari dekat.

Kompleks ini terdiri dari perumahan yang dirancang oleh 12 arsitek terkemuka

di Asia.

 

Disokong oleh ide yang melambung tinggi dari perkawinan pengembang real

estat Zhang Xin dan Pan Shiyi, memungkinkan setiap arsitek mendapatkan

renumerasi hingga US$1 juta (Rp9 miliar)! Tapi tak disebutkan berapa persis

modal yang ditanam untuk keseluruhan proyek ini.

 

Shigeru Ban, yang kondang dengan kemampuan desainnya bagi perumahan untuk

korban gempa bumi Kobe lebih dari satu dasawarsa lalu, memberikan karyanya

berupa Furniture upa Furniture House yang didominasi panel kayu, sedangkan arsitek Yung Ho

Chang berkreasi dengan Split House yang mengusung ide dari hunian yang

mengotak, terdapat bagian menyerupai irisan, dan tersebar seperti kipas

angin.

 

Commune dibangun beberapa tahap. Tahap pertama rampung 2002, sedangkan

proyek ekspansi diperkirakan rampung 2010.

 

Saat ini Commune dioperasikan sebagai hotel butik oleh Kempinski, operator

hotel mewah asal Jerman. Commune akan dilengkapi dengan jalan setapak yang

menjaga privasi dari penghuninya, namun jalan itu sama sekali tak mengusik

Tembok Besar China.

 

Proyek lainnya

 

Desain 'ajaib' lainnya yang bakal menyemarakkan China ialah karya Foster &

Partners yang akan mewujudkan perluasan Beijing International Airport.

 

Seperti ditulis centripetalnotion.com, bandara ini disiapkan untuk menampung

arus kedatangan warga berbagai negara yang bakal menyaksikan perhelatan

Olimpiade 2008, sehingga diharapkan dapat mulai dioperasikan pada pengujung

tahun depan.

 

Dengan terminal yang menempati areal seluas lebih dari 1 juta m2, bandara

ini dirancang mampu menampung 43 juta penumpang per tahun pada tahap awal

dan kapasitasnya terus ditingkatkan hingga mampu menampung 55 juta penumpang

per tahun mulai 2015.

 

Foster tercatat berpengalaman mendesain megaproyek Bandara Chek Lap Kok di

Hong Kong. Menurut construction.com, proyek perluasan bandara di Beijing ini

menelan dana tak kurang dari US$2 miliar.

 

Proyek dengan desain ciamik lainnya adalah Shanghai World Financial Center

yang merupakan hasil karya Kohn Pedersen Fox Associates, dibantu oleh

Architectural Design & Research Institute Co. Ltd.

 

Proyek yang konstruksinya dijadwalkan rampung pada dua tahun mendatang itu

menjulang di antara gedung lainnya di distrik keuangan Lujiazhui di Pudong, Shanghai. Menurut emporis.com, ketinggian gedung bertingkat 101 ini mencapai

492 meter.

 

Bukan hanya ketinggiannya yang luar biasa, tapi mendekati tingkat teratas

gedung tersebut dilengkapi dengan sebuah hotel bintang 6 (!), yang

menjadikannya sebagai hotel paling tinggi kedua di dunia setelah Union Square tahap 7 di areal reklamasi Kowloon, Hong Kong, yang juga dirancang

Kohn Pedersen Fox Associates.

 

Yang juga masuk kategori berdesain fenomenal ialah gedung kantor pusat

Central Chibnese Television (CCTV) di Beijing, yang dijadwalkan rampung

paling lambat 2008.

 

Selain itu, proyek Linked Hybrid yang terdiri dari 750 unit apartemen dan

dirancang mampu menjadi tempat hunian yang nyaman bagi 2.500 orang dibangun

di lahan seluas 1,6 juta ft2 (feet).

 

Dilengkapi dengan sistem pengatur suhu udara, menjamin kenyamanan bagin

pemiliknya. Menurut stevenholl.com, situs resmi milik arsitek proyek

tersebut, Steven Holl Architecs, proyek milik Modern Investment Group

tersebut dilengkapi dengan properti komersial, hotel, bioskop, taman

kanak-kanak, serta parkir bawah tanah.

 

Proyek properti yang pemancangan tiang pertamanya dilakukan pada 28 Desember

2005 ini akan dirampungkan pada 2008.

 

Dongtan Eco City

 

Yang juga masuk kategori sangat menarik untuk diketahui adalah rencana

Shanghai Industrial Investment Corp (SIIC) merealisasikan proyek Dongtan Eco

City dengan mengandalkan master plan dari arsitek Arup. Direncanakan

dibangun dalam beberapa tahap, fase pertama direncanakan selesai pada 2010.

Proyek prestisius ini dibangun di tepi Sungai Yangtze yang kesohor itu di

distrik Dongtan, di bagian timur Shanghai.

 

Menurut arup.com, Dongtan Eco City akan dibangun di lahan seluas 630 hektare

dan dirancang sebagai kawasan komersial dan tempat yang tepat untuk

menikmati waktu luang di sela-sela kesibukan bisnis Shangai.

 

Ditargetkan mampu membentuk jatidiri sebagai kota yang ramah lingkungan,

Dongtan Eco City akan menyediakan fasilitas manajemen energi

berkesinambungan, tata kelola sampah, implementasi proses energi yang dapat

diperbarui, pengembangan sosial, namun tanpa menanggalkan sisi perencanaan

bisnis dan ekonomi.

 

Empat proyek berdesain 'wah' lainnya di Negeri Tirai Bambu adalah Stadion

Olimpiade di Beijing, Jembatan Donghai, Pusat Renang Nasional, dan National

Grand Theatre di Beijing.

 

Stadion Olimpiade memang disiapkan untuk menggelar berbagai kegiatan olah

raga di ajang empat tahunan tersebut, sehingga dipatok mesti rampung dalam

dua tahun ke depan. Arsitek proyek ini adalah Herzog & de Meuron dari Swiss.

 

Jembatan Donghai merupakan buah karya bersama arsitek Zhongtie Major Bridge

Engineering Group, Shanghai #2 Engineering Co, Shanghai Urban Construction

Group.

 

Jembatan berstruktur kabel ini menghubungkan Shanghai dan Pulau Yangshan

yang direncanakan sebagai lokasi pelabuhan perdagangan bebas pertama China

dan dioperasikan mulai 2010. Namun, Jembatan Donghai sendiri telah

dioperasikan sejak Desember 2005.

 

Pusat Renang Nasional juga disiapkan untuk Olimpiade 2008. Proyek ini

didesain oleh PTM dan Ove Arup.

 

Sementara, karya megah National Grand Theatre adalah hasil karya Paul Andreu

and ADP dari Prancis. Lokasinya yang dekat dengan lapangan bersejarah

Tiananmen-tempat pembantaian berdarah rakyat oleh tentara dan polisi China

pada 1989-merupakan nilai tersendiri. Proyek ini dicanangkan selesai

dibangun dua tahun lagi.

 

Begitulah, genjotan kreasi desain di Negeri Tirai Bambu juga dipicu oleh

bakal diselenggarakannya Olimpiade dua tahun mendatang. Terlepas dari adanya

unsur 'keterpaksaan' itu, selayaknya kalangan arsitek kita belajar hingga ke

negeri China.

 

 

       

 


FastCounter by bCentral