Kehidupan di Tiongkok Bagian ke-41
Sub judul: Menunggu Keberangkatan
Indonesia Media
Dari perundingan dua belah pihak, pihak teman-teman Delegasi dan pihak kami
sekeluarga, sudah dapat ketentuan bahwa kami akan menuju Perancis. Negara
Perancis tak pernah seujung rambutpun menjadi tujuan saya, tak termasuk
hitungan saya. Kini kami sekeluarga bertiga ditentukan menuju negara itu.
Padahal artinya saya harus mulai benar-benar dari nol - dari mulai belajar
bahasa Perancis. Dulu ketika di SMA, kami pernah mendapat pelajaran bahasa
Perancis. Tetapi kini tak sepatahkatapun yang teringat - semua lupa karena
tak pernah digunakan. Belajar bahasa Perancis ketika itu semata-mata buat
mencari angka yang baik - agar lulus ujian penghabisan SMA. Ini tahun 50-an.
Ketika saya tanyakan mengapa harus menuju Perancis - apa dasar pikirannya -
apa landasan berpikirnya. Teman-teman Delegasi mengatakan bahwa teman-teman kita yang sudah ke luar Tiongkok dan yang tadinya menyebar di tanah Eropa lainnya - sudah banyak di negara-negara tertentu. Sudah banyak yang di
Holland - sudah banyak yang di Jerman dan juga sudah ada yang di Swedia dan
lainnya. Tetapi boleh dikatakan masih kosong tempat di Perancis. Sedangkan
kita masih perlu mencarikan banyak jalan - banyak kemudahan buat teman-teman kita lainnya. Di belakang kita masih banyak teman-teman yang harus menjadi pikiran kita - harus berusaha membantu mereka. Lagipula apa yang dikatakan pos di Perancis masih sangat perlu orang - perlu teman kita. Yang
dimaksudkan pos itu adalah tempat biasa - tempat pelarian politik seperti
halnya juga di Belanda - Jerman dan lain-lain itu. Dan atas dasar itu semua
- pada akhirnya saya menyetujui semua pikiran itu. Dan dengan anak-anak
saya, sudah saya diskusikan bahwa kita akan menuju Perancis.
Bagaimana perasaan saya ketika itu? Tidak merasa sangat gembira - tetapi
juga ada rasa kegembiran karena kami tahu bahwa kami akan segera
meninggalkan Tiongkok. Kami sudah sangat lama tinggal di Tiongkok. Tinggal
terlalu lama di suatu tempat - apalagi sebagai tanggungan tuanrumah - tetap
tidak baik - bukan hanya di Tiongkok - tetapi walaupun di tempat manapun
samasaja! Dan saya merasa bahwa sudah waktunya meninggalkan Tiongkok dan melihat dan mencari pengalamana di negara lain. Dengan tahun itu kami sudah tinggal di Tiongkok selama 18 tahun – betapa lamanya! Lalu bagaimanakah perasaan saya terhadap Tiongkok? Saya tetap mencintai Tiongkok - terutama rakyatnya - penduduknya - adat-kebiasaannya - apalagi peradabannya dan kebudayannya. Saya punya perbedaan pendapat dengan
kebijaksanaan pemerintah Tiongkok serta garis politiknya. Tetapi perkara
cinta kepada Tiongkok, terutama pada negerinya yang peradabannya serta
kebudayaannya sudah berlangsung ribuan tahun - sangat saya kagumi - sangat
saya cintai. Saya sangat cinta dan suka musik Tiongkok - lukisan Tiongkok -
apalagi masakan Tiongkoknya. Alam Tiongkok sangat bagus dan sangat indah.
Saya pernah melayari Sungai Yangtse dari Shanghai sampai Chungking dan sudah beberapa kali. Tetapi tak pernah merasa bosan dan sampai kinipun masih tetap mau.
Rupanya setelah tuanrumah kami mengetahui bahwa kami sudah menemukan jalan buat ke luar Tiongkok, barulah mereka mengumumkan secara resmi kepada semua para akhli - expert di Radio Beijing bahwa Kawan Sofyan akan berangkat - pindah ke Paris sekeluarga - bertiga. Sejak itulah kami punya kesibukan lain. Hampir setiap hari teman-teman dan tetangga kami mengundang
makan-siang ataupun makan-malam di rumahnya. Di gedung apartemen kami
berdiam sejumlah 33 bangsa yang bekerja di Radio. Umumnya yang berumahtangga selalu mengundang makan bersama - hampir setiap hari. Kecuali para expert bujangannya yang hidup sendirian. Lagipula para expert yang berkeluarga ini adalah teman-teman istri saya ketika dia masih hidupnya. Jadi antara mereka antara kami sudah saling mengenal. Apalagi Wati - mamanya anak-anak ini sangat ramah - sangat hangat dalam pergaulan - dan sangat menyenangkan berkomunikasi dengannya. Yang kami ingat ketika itu pada umumnya expert dari Asia yang selalu mengundang makan itu. Dari Malaysia - Bangladesh - dari Pakistan - dari Srilangka - Jepang - Korea - dan juga ada yang dari Venezuela - Perancis dan beberapa lagi. Teman anak-anak saya banyak yang dari Amerika Latin - seperti dari Peru - Argentina - Chlili, yang umurnya sebaya - mereka punya acara sendiri dengan teman-teman sebayanya.
Kami belajar bahasa Perancis secara kilat - dua kali seminggu kepada seorang
teman Indonesia yang pernah tinggal di Bamako - Afrika. Mereka tinggal di
Hotel Persahabatan - jauh dari tempat kami. Kami bertiga bersepeda kira-kira
8 km dua kali dalam seminggu. Juga belajar kepada seorang expert yang dari
Swiss di gedung apartemen kami sendiri. Dia ini Barbara - sangat fasih
berbahasa Tioghoanya. Kepada dialah kami belajar bahasa Perancis
sementara menunggu keberangkatan kami. Kesibukan ke arah persiapan keberangkatan ini agaknya makan-waktu - makan-pikiran dan tenaga
juga rasanya. Teman-teman sekerja di Radio selalu datang dan menanyakan apa yang kira-kira bisa mereka bantu. Mereka sangat baik dan sangat peduli
kepada kami. Kami tidak tahu akan berapa lama kami di Perancis - kami
masih merasa gelap dan belum ada kepastian bagaimana dan apa rencana selama belum bisa pulang ke tanahair dan sementara di Perancis itu nanti.
Semua masih meraba-raba. Tapi satu hal - kami sudah ada jalan ke luarnya -
berpindah tempat dan berpindah cara hidup dan kebiasaan - dan ini tidak
gampang - perlu banyak penyesuaian diri dengan keadaan setempat.
|