DISKRIMINASI DALAM PENGANGKATAN PAHLAWAN NASIONAL

Oleh : RM Danardono HADINOTO

Karena saya sering ke Minahasa (banyak saudara dan sahabat isteri
dari sana), saya juga seringkali berdiskusi dengan mereka. Suatu
thema adalah penulisan sejarah. Seorang tokoh mereka (dosen Unsrat),
berkata, bahwa sejarah kebanyakan ditulis tentang orang Jawa. Sampai
sampai kota Manado dan lain lain, penuhhhh nama nama jalan pahlawan
dari Jawa.

Mereka kadang kadang sengit, apa urusan kami belajar mengenai Ken
Arok, Ken Dedes, kami seharusnya juga punya banyak tokoh sejarah.
Saya jadi tersenyum, eh iya ya, ada yang tahu mengenai sejarah
rakyat Minahasa ? juga disini? sedikit kan?

Nah, di luar negeri saya banyak baca (buku buku lebih lengkap), antara lain
episode masuknya bangsa bangsa barat ke Nusantara. Banyak yang tidak
tertulis dibuku sejarah kita. Antara lain, mengenai adanya sebuah
republik Tionghoa di Pontianak (Republik Lan Fang).

Tidak heran. Karena dimasa republik ini berdiri, semua kegiatan
politis, juga penulisan sejarah, ada di Jawa. Kementrian PPK (kini
PDK) penuh sarjana dan guru guru orang Jawa. Juga banyak penulis
dari Sumatra barat, termasuk seorang tokoh sejarawan kita, Mohammad
Yamin.

Ada yang tahu disini mengenai kisah Toar dan Lumimuut? Tidak 'kan?
nah, ini adalah kisah mengenai asal mula bangsa Minahasa. Seperti
juga sejarah Minahasa, atau sejarah lainnya, misalnya suku Kadazan
atau Dayak lainnya, Toraja, juga masyarakat Tionghoa di Indonesia
berhak mendapatkan penulisan sejarah mereka, yang merupakan bagian
dari sejarah Tanah Air.

Seorang kenalan saya, orang Jawa, yang ahli sejarah, juga pernah
berkata, setengah bergurau, bahwa sebenarnya Diponegoro bukan
pahlawan kemerdekaan, karena tidak bertempur untuk membebaskan suatu
wilayah, tetapi karena kesal, tanahnya dipatok Belanda, untuk
membuat jalan. Dari sisi sejarah sih ada benarnya, beliau tak
mengenal istilah wilayah atau bangsa yang mau dibebaskan. Beda
dengan sultan Agung Hanyokrokusumo, yang memang mengirim pasukan
menyerang Batavia (jauh lho, dari Mataram ke Batavia, membawa
senjata, logistik, pasukan).

Lha, yang lain, banyak pahlawan yang jadi pahlawan karena
dibunuh.Tidak dalam kegiatan pertempuran atau melawan kekuatan lawan.
Arif Rahman Hakim, misale, ditembak siapa? bukan musuh yang nembak
kok? Tetapi Pengawal Istana yang saat itu menjalankan tugas.

Jadi, kalau nulis sejarah sebuah bangsa, ya yang proporsional lahh.
Semua dilibatkan.


       

 


FastCounter by bCentral