Kempingan Toronto ke Vancouver # 5
Jusni Hilwan
Sabtu, 19 Agustus 2006 adalah hari check-in kami di campsite berikutnya,
yakni di Jasper National Park, Alberta. Di propinsi ini terletak Rocky
Mountain-nya Kanada, yang menurut saya lebih indah dari yang di Amrik. Kami
melintasi jalan raya Highway 16 yang oleh orang Alberta dinamakan Yellowhead
Highway dari nama seorang jagoan Indian jaman dahulu yang rambutnya bule.
Jalan raya ini akan melewati Jasper N.P., melewati pegunungan Rockies. Mulai
dari kota bernama Hinton, pemandangannya menjadi asyik, seronok, bahenol
kata anak Betawi. Bagaimana tidak? Jalan rayanya melintasi lamping-lamping
gunung yang tinggi-tinggi dan disana-sini terbentang danau besar dan kecil
yang airnya mewakili cem-macem warna, dari mulai hijau susu ke hijau jamrud
sampai ke hijau turquoise. Ongkos bensin sejauh ini yang dibacakan Janti
bendahari trip kami sebesar kira-kira $ 500, tiadalah artinya untuk bisa
melihat pemandangan seindah demikian. "It is worth it," katanya.
Sebelum mencapai kemgron Whistler di Jasper Park, kami mampir dulu ke tempat
permandian bernama Miette Hotsprings. Dari namanya, bisa ditebak itu adalah
sumber air panas mineral yang konon paling panas di Canadian Rockies. Bau
belerangnya tidak keterlaluan seperti di Indo tapi masih terasa. Airnya
jernih dan mandi atau berendamnya di dua kolam renang yang cukup besar.
Yang hesbat adalah pemandangannya bo. Di suatu lembah dikelilingi lamping
gunung maupun puncak beberapa bukit disitu. Panasnya air sekitar 40C, pas dah.
Oya, harga karcisnya tidak terlalu menggorok leher, dewasa $ 6, anak-anak
setengah harga. Dari Miette yang terletak sekitar 15 km dari jalan raya, kami
cabut menuju kemgron dan tak lupa lewat dulu kota Jaspernya untuk kulonuwun.
Baru kali inilah kami kemping di propinsi Alberta sebab ketika pergi pertama
kali dahulu, kami masih belum sesinting sekarang alias nginap di hotel motel
seperti Anda-anda anak Indo yang masih waras :-). Ternyata aturan bikin api
unggunnya lain dari yang lain. Kita kudu beli apa yang namanya 'fire permit'
yang harganya $ 7.90 per malamnya sudah termasuk ongkos kayu bakar. Lantaran
engga pasti gimana cuaca esok hari, kami hanya beli untuk semalam. Ketika
kami tiba di tempat dimana kayu bakar tersedia dan biasanya akan dikasihin
satu kantong, tidak ada seorang pun disitu dan ada segunungan kayu bakar.
Weladalah, ternyata kayu silaken diambil 'all you can burn'. Tidaklah percuma
BC dan Alberta merupakan sumber kayu sedunia dan kayunya juga bukan jenis
kayu jinjing a la Indo, tetapi kayu eks pohon pinus yang wangi dibakarnya.
Suhu Sabtu malam di kemgron Whistlers Jasper National Park, mendekati 0C
sehingga luluslah tenda kami dari test angin, hujan, dan dingin. Satu
pengalaman lagi kemping di 'bear country', selain tidak boleh ada makanan atau
pun sampah yang ditinggalkan bila kita pergi, juga kita tidak boleh mencuci di
campsite seperti biasanya di cagar-cagar alam lainnya. Melainkan, di dekat WC
disediakan suatu bak cuci air panas dan air dingin dimana kita bisa
membersihkan alat masak dan makan kita dengan sangat 'comfy'. Juga ada satu
gazebo atau ruangan beratap tak berpintu yang berisi beberapa meja piknik
guna kita memasak dan makan disitu, terutama bila turun hujan atau salju.
Karena kami menginap dua malam di kemgron di Jasper ini, maka banyak waktu
untuk bertamasya di hari Minggunya. Acara utama adalah naik kereta kabel,
Jasper tramway ke puncak salah satu bukit di atas kota Jasper. Yang agak
istimewa adalah beda ketinggian antara stasiun awal yang letaknya tak begitu
jauh dari kemgron kami dengan puncak bukit, sekitar 1 km. Jarak segitu
ditempuh dalam waktu 7 menit. Saking cepatnya pendakian sekilometer itu,
ketika kami sampai di stasiun tujuan, tipisnya oksigen di ketinggian 3 km
tersebut mulai terasa. Yakni ketika kami hiking lagi naik ke bukit yang lebih
atas. Karena pernah mengalami poyeng kekurangan oksigen ketika dari Puncak
Pass Tower yang tingginya sekilometer, saya langsung mendaki Pangrango 3 km,
maka belum sampai ke puncak bukit, saya menyetujui keputusan da bosku untuk
turun lagi sebab ia pun sudah empas-empis, maklum ia mantan asthmatis.
Dari kereta kabel kami menuju suatu danau bernama Maligne Lake yang baru
pertama kali ini saya kunjungi, trims untuk rekomendasi Somali Travel. Mirip
dengan pemandangan Lake Louise tetapi menurut saya, Maligne Lake lebih indah
karena jauh lebih luas. Sampai kisah berikutnya, bai bai lam lekom.
... (bersambung) ...
|