|
 |
Upacara Ngaben
Oleh: Setefani Tuadi
Upacara “ngaben” yang juga disebut upacara “palebon” adalah salah satu ciri khas dari upacara pembakaran mayat bagi orang beragama Hindu khususnya bagi orang Hindu di Bali. Menurut kisah dari ayah almarhum, nenek buyut penulis dari pihak ayah adalah seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke sebuah kota kecil di Jawa Barat untuk menghindari atau menolak memeluk ajaran agama Hindu. Beberapa generasi berikutnya, suatu yang ironi terjadi, entah kebetulan atau memang sudah takdir penulis dan anak dapat menyaksikan upacara ngaben ini dari dekat sebagai turis. Perjalanan penulis ke Bali ini hanya penulis rencanakan seminggu sebelum keberangkatan dan sesampainya di Bali penulis pergi menyaksikan upacara ngaben yang diadakan pada tanggal 24 Agustus 2006 yang sepertinya sudah diatur agar penulis menghadirinya.
Selebaran yang penulis temukan tentang adanya upacara ngaben ini di lobby hotel tempat penulis menginap tidak menarik sama sekali dan tinggal satu. Selebaran itu hanya berupa fotocopy yang dibuat dengan mesin fotocopy yang tidak bagus. Receptionist hotel ketika tahu bahwa penulis berminat untuk pergi menyaksikan upacara nagaben segera menghubungi nomor telepon yang ada di selebaran tersebut, maka transaksipun terjadi, entah mengapa harga yang dipasang di selebaran disebut satu orang harganya lima belas dollar menjadi sebilam belas dollar. Waktu itu penulis tidak perduli akan perbedaan harga tersebut karena bagi penulis ini adalah satu kesempatan yang langka dan juga sebagai sarana pendidikan untuk anak penulis agar dia bisa melihat sendiri adat dan budaya yang beberapa generasi sebelumnya coba dihindari oleh nenek moyangnya. Ternyata dengan membayar harga istimewa tersebut penulis benar-benar menyaksikan kemegahan yang luar biasa dari acara palebon tersebut karena upacara palebon ini diadakan untuk jenazah panglisir Puri Tjokroda Gde Rai yang berumur 92 tahun dan adik laki-laki beliau, Tjokrodra Gde Ngurah yang meninggal pada usia 86 tahun. Beliau –beliau adalah dua putera terakhir dari Puri Agung Batubulan di Gianyar. Alhmarhum Tjokroda Gde Ngurah pada saat upacara palebon tersebut sudah berupa abu karena beliau sudah di kremasi sebelumnya di Surabaya.
Upacara dimulai sekitar jam 8 pagi di Puri Agung Batubulan yang dikuti oleh ribuan krama. Setelah kedua jenazah diangkat dan ditempatkan di Bade yang bertingkat sembilan, pada sekitar jam 12:30 naga banda dipanah oleh pedanda. Ketinggian bade tempat ditaruhnya jenazah sebelum dibakar ini tergantung dari kelas kasta orang yang meninggal. Bade berbentuk candi ini dibuat dari bambu dan kertas warna warni, yang mencermikan hasil karya arsitektur yang luar biasa. Selain naga, bade dan tragtag bade sebagai sarana upacara ada dua ekor lembu hitam. Semua sarana upacara tersebut diusung atau dibawa dari Puri Agung Batubulan ke Serta Desa Adat Jero Kuta oleh para penyanggi yang datang dari beberapa banjar adat seperti Banjar Telabah, Banjar Bantur, Banjar Bedil dsb.
Sesampainya di Serta Desa Adat Jero Kuta kedua jenazah diturunkan dari bade dan dimasukan ke dalam Lembu Cemeng, lembu ini merupakan peti jenazah . Setelah itu kedua lembu yang mengapit naga dibakar dengan diiringi musik hidup gamelan khas Bali. Api begitu cepat membakar semuanya menjadi abu. Kesempatan ini juga digunakan oleh warga desa yang mempunyai keluarga yang sudah meninggal dan belum sempat mengadakan upacara ngaben untuk melaksanakan upacara nagben jenazah keluarganya pada waktu itu. Mereka menggali mayat-mayat yang mungkin sudah dikubur beberapa tahun sebelumnya . Mayat-mayat yang tinggal berupa tulang ini dibungkus dengan kain putih, dibawa ke Puri Agung untuk diberkati oleh pendada dengan percikan air. Jenazah-janazah tersebut dibawa ke tempat pembakaran dengan diusung diatas kepala oleh kaum wanita yang kebanyakan berkebaya warna putih seperti membawa sesaji atau diusung di atas pundak oleh kaum laki-laki yang juga berbaju putih.. Penulis tidak menyadari bahwa barisan wanita yang mengenakan kebaya putih tersebut dengan usungan diatas kepalanya adalah mayat, karena barisan ini diselingi dengan pembawa sesaji yang penulis lihat ada yang berbentuk anak ayam hidup. Yang penulis tahu bahwa sewaktu mereka lewat ada keluar bau aneh. Mayat-mayat tersebut ditaruh di bade yang sederhana yang terbuat dari bambu dan dibakar bersamaan dengan jenazah kedua putra dari Puri Agung Batubulan.
Upacara ngaben ini mencerminkan satu karya gotong royong yang masih dipunyai oleh masayarakat Indonesia, karena melibatkan orang banyak yang tercermin dalam menggotong bade, lembu, naga dan tragtag bade dari puri Agung ke desa adat. Acara ini juga tidak terlepas dari para penjaja yang berkeliaran selama jalannya upacara ngaben seperti para penjual cedera mata, minuman dan makanan. Yang menarik yang penulis pelajari adalah bahwa para penjaja tersebut menjual barang dagangannya dengan harga yang berbeda kepada turis lokal dan asing. Karena penulis berbahasa Indonesia maka harga yang dipasang oleh mereka adalah untuk para turis lokal sedangkan bagi dua orang turis asal Itali yang sama-sama datang dengan penulis satu kendaraan mereka kenakan harga untuk turis asing. Misalnya air minum satu botol penulis beli dengan harga Rp 2000 dan mereka jual keturis asing seharga Rp 5000 , walaupun ditawar Rp 3000 penjual tidak mau memberikannya. Penulis merasa kasian kepada kedua teman penulis dari Itali ini, maka penulis yang belikan air minum untuk mereka dan ice cream. Ice cream adalah makanan yang penulis makan dan yang saya anjurkan untuk mereka untuk sekedar penganjal perut. Penulis tidak berani untuk membeli jajanan lainnya seperti sate dan tahu yang dijual pada hari itu karena penulis tahu system pencernaan dan daya tahan tubuh penulis sudah berbeda.
Perbedaan harga untuk turis lokal dan asing ini juga ternyata diterapkan dalam hampir segala hal, misalnya dalam harga tour dari hotel ke tempat-tempat pariwisata sampai ke karcis masuk ke objek pariwisata. Penulis sangat kecewa sekali dengan “double standards” ini. Penulis tahu dan mengerti masudnya adalah agar harga tersebut terjangkau oleh masayarakat Indonesia. Departemen Pariwisata mungkin bisa mengaturnya dengan jalan lain, misalnya dengan perbedaan service bukan dengan harga yang berbeda dengan service yang sama. Banyak orang tidak tahu bahwa kebanyakan para turis asing tersebut bukanlah orang yang kaya, tetapi mereka menabung untuk dapat pergi berlibur. Penulis sendiri juga terkejut ketika semua harga pakai dollar dan tidak murah dimata penulis, jadi tidak salah kalau ada citra Bali yang mahal dimata turis asing. Melihat turunya animo turis asing ke Bali, bukankah sudah saatnya merubah citra Bali menjadi Bali yang ekonomis. Bukankah jika kita bisa menjual satu barang sebanyak 10.000.000 buah dengan keutungan 10 persen kita akan dapat lebih banyak laba daripada jika kita menjualnya dengan keutungan seratus persen tetapi yang terjual hanya satu???
| |