4 Jet Siluman Jaga Bush

(rdl/tom)

Pemerintah AS benar-benar menganggap Indonesia sebagai sarang teroris. Untuk mengamankan kunjungan Presiden George W. Bush yang hanya enam jam di Bogor pada Senin (20/11), sejumlah armada perang AS dikerahkan. Pengamanan superketat dengan mengerahkan puluhan ribu personel TNI-Polri dianggap belum cukup oleh Gedung Putih.

 

Armada perang yang dikerahkan Bush meliputi satu kapal induk USS Essex yang diberangkatkan dari Armada Tujuh AS di Sasebo, Jepang. Juga, dua helikopter Sikorsky Black Hawk, empat pesawat siluman, serta satu pesawat pengintai (AWACS). Dua heli Black Hawk bertugas mengawal pesawat Marine One yang ditumpangi Bush dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, menuju Kebun Raya Bogor.

 

Kemarin, dua heli tersebut telah tiba di Halim. Sebelum digunakan mengawal pada 20 November nanti, kedua heli itu akan melakukan uji terbang menjelajahi rute yang akan dilalui Bush.

 

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyatakan, dengan banyaknya armada AS yang ikut dikerahkan tersebut, tidak berarti TNI bisa didikte US Secret Service (dinas rahasia AS) yang bertugas mengamankan Bush. ’’Banyak permintaan mereka yang sudah kami tolak,’’ ujarnya di Istana Negara kemarin.

 

Di antaranya, soal permintaan helikopter-helikopter AS yang disiagakan di satu tempat. ’’Itu tidak mungkin,’’ katanya. Sebab, helipad yang baru dibangun di Istana Bogor hanya cukup menampung satu heli.

 

Selain itu, TNI menawar soal jumlah orang yang berada dalam Istana Bogor. ’’Realistis saja, kita lihat luas ruangannya,’’ ungkap jenderal kelahiran Madiun tersebut. Meski prosesnya rumit, menurut Djoko, US Secret Service akhirnya mau menerima penawaran TNI.

 

Pengamanan kedatangan Bush memang unik. Berbeda dari tamu negara lainnya, orang nomor wahid di AS tersebut selalu paranoid. Seakan-akan, selalu ada ancaman dari warga negara tempat Bush berkunjung.

 

Mabes TNI tetap tidak mau mengambil risiko. Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Moh Soenarto mengatakan tidak akan ambil kompromi dalam pengamanan Bush. ”Semua ancaman kita amati serius. Ini menyangkut kewibawaan bangsa,” ujarnya kemarin. Meski begitu, Soenarto menolak membeberkan secara detail prosedur pengamanan. ”Itu rahasia negara,” katanya.

 

Sumber tepercaya Jawa Pos di lingkungan TNI mengatakan, seluruh personel yang terlibat telah 100 persen siap. ”Kita tinggal tunggu datangnya,” ujarnya saat dihubungi tadi malam.

 

Menurut sumber itu, US Secret Service berkali-kali meminta tim TNI mengecek ulang semua persiapan. Termasuk mencoba berbagai skenario pengamanan. ”Standar pengamanan VVIP itu tidak boleh tetap. Harus berubah terus polanya supaya tidak dibaca dan dianalisis oleh lawan,” jelasnya.

 

Selain ribuan personel, TNI mengerahkan dua pesawat tempur F-16 Fighting Falcon yang diterbangkan dari Pangkalan Skuadron F-16 Iswahyudi, Maospati, Magetan. 30 anggota tim elite Pasukan Khas (Paskhas) TNI-AU bergabung dengan tim Mabes TNI

 

Dari matra laut, kapal selam KRI TNI-AL Cakra 401 terus berpatroli selama kunjungan Bush. Kapal jenis striking force yang diawaki 43 ABK itu mempunyai bobot 1.300 ton, mampu menyelam di kedalaman 300 meter di bawah permukaan laut, memiliki kecepatan 21 knot, dengan 8 tabung peluncur torpedo serta mampu beroperasi 50 hari. Sejumlah 40 orang tim elite Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) Marinir juga bergabung dengan tim dari Markas Besar TNI.

 

Menurut pengamat militer Rakyan Adibrata, pengamanan SS Amerika Serikat sudah merupakan standar tetap. ”Logikanya, mereka tidak akan ambil risiko, di negara mana pun,” katanya.

 

Sikap MUI

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali memilih sikap berseberangan dengan sebagian organisasi Islam. Kalau Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) serta sejumlah ormas Islam menolak kedatangan Presiden Amerika Serikat George W. Bush, MUI berpendapat sebaliknya.

 

MUI menyatakan menerima kedatangan Bush ke Indonesia. Alasannya, agenda yang dibicarakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Bush menyangkut kepentingan bangsa Indonesia. ’’Kami menemui presiden untuk Syawalan sekaligus menanyakan agenda pertemuan presiden dengan Bush 20 November nanti,’’ kata Ketua Umum MUI Muhammad Achmad Sahal Mahfudz seusai bertemu SBY di Kantor Presiden kemarin.

 

Rais Aam Syuriah PB NU itu kemarin bersama Ketua MUI Umar Shihab menemui SBY. Hadir juga Menko Kesra Aburizal Bakrie, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng.

 

Umar Shihab menjelaskan, MUI bisa memahami mengapa pertemuan tersebut perlu digelar. Menurut Umar, kedatangan Bush ke Indonesia merupakan kunjungan balasan. Sebelumnya SBY telah lebih dulu berkunjung ke Amerika Serikat. ’’Agenda yang dibicarakan juga ditentukan SBY, bukan oleh Bush,’’ katanya.

 

Kepada Umar, SBY menyampaikan, ada lima agenda yang akan dibicarakan dengan Bush. Yakni, pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, pendeteksian dini tsunami, dan pengembangan teknologi. ’’Selama ini banyak yang salah kaprah mengira kedatangan Bush akan mendikte pemerintah RI,’’ kata Umar.
       

 


FastCounter by bCentral