400 Prajurit dan Sipil Kodam Tertipu
( riyono toepra/cn09 )
Semarang, CyberNews. Penipuan dan penggelapan dengan modus operandi penyertaan atau penanaman modal uang, kembali terjadi. Kali ini dilakukan Interbanking Bisnis Terencana (Ibist) yang membuka cabang di Jl Raya Sukun 22 Banyumanik. Korbannya, 400 prajurit dan PNS Kodam IV/Diponegoro.
Uang yang ditanamkan ratusan tentara mulai dari pangkat perwira menengah, pertama hingga bintara dan para PNS golongan II, mencapai Rp 21 miliar. Suatu jumlah yang sangat besar.
Terungkapnya kasus penipuan dan penggelapan uang itu setelah kantor pusat Ibist di Jl Mulyasari I, Bandung, Jawa Barat, ditutup Polwiltabes Bandung, pekan lalu. Direktur Utamanya, Wandi Sofyan, melarikan diri dan kini jadi buron Polda Jabar dan Jateng.
Nasabah di Kota Kembang dan sekitarnya berjumlah sekitar 2.500 orang dengan total dana yang disetorkan sebanyak 56,7 miliar. Dengan demikian total dana yang disedot dari nasabah dua provinsi itu mencapai Rp 77 miliar.
Akibat penutupan kantor pusat usaha penyertaan modal itu, ratusan nasabah di Semarang, ramai-ramai mendatangi kantor cabangnya, yang berlokasi tidak jauh dari Makodam IV/Diponegoro.
Mereka yang akan menarik kembali uang ditanamkan akhirnya kecewa karena kantor cabangnya di Kota Lumpia itu juga tutup. Tidak ada staf dan karyawannya yang biasa mereka temui. Demikian juga koordinator cabang berinisial DA. Semuanya sudah kabur.
Pinjam Bank
Menurut Kapendam IV/Diponegoro Letkol CAJ Agus Subroto, anak buahnya yang menjadi nasabah kelompok usaha penyertaan modal itu, awalnya meminjam uang di sejumlah bank seperti BRI dan Bank Jateng dengan bunga sekitar 11 persen per tahun.
Uang pinjaman dari bank itu, kata dia, selanjutnya disetorkan ke kantor Ibist yang membuka kantor cabang di Jl Raya Sukun 22 Banyumanik. Mereka menyetorkan lewat koordinator cabang bernama Danu Ariyanto yang kini belum diketahui keberadaannya.
''Karena diiming-imingi bunga sebesar empat persen per bulan, para prajurit saya dan sipil (PNS-red) jadi tertarik,'' papar Kapendam yang dimintai konfirmasi soal kasus itu, Minggu malam.
Iming-iming itu disampaikan lewat salah seorang perwira menengah di lingkungan markas komando militer tersebut. ''Kalau ada perwira di lingkungan Kodam IV/Diponegoro yang terlibat, ya harus bertanggung jawab. Paling tidak harus bisa mengembalikan uang para prajurit dan PNS yang telah ditanamkan di Ibist,'' tandas dia.
Pihaknya menyatakan sangat terkejut atas kejadian yang menimpa anak buahnya. Dirinya juga tidak habis pikir, kasus yang banyak terjadi di sejumlah daerah, akhirnya menimpa di lingkungan kerjanya di markas komando daerah militer itu.
''Saya sangat kasihan dengan mereka. Saya prihatin sekali atas kejadian ini. Ini kasus yang harus mendapat perhatian semua pihak,'' ujar dia.
Kapolda Jateng Irjen Drs Dody Sumantyawan HS SH melalui Direskrim Kombes Drs HM Zulkarnain MM mengungkapkan, secara resmi pihaknya belum menerima laporan soal penipuan dan penggelapan itu.
Karena kasusnya telah merugikan ratusan warga Jateng dan mendapat perhatian masyarakat luas, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah penyidikan. Antara lain, bekerjasama dengan Kodam IV/Diponegoro untuk mendata jumlah korbannya. Karena korban banyak berasal dari lingkungan markas militer itu.
''Saya harapkan juga, jika ada anggota masyarakat lainnya yang menjadi korban segera melapor. Juga bila mengetahui keberadaan koordinator cabang dan direktur utama yang kini masih buron. Ya kita tindaklanjutilah. Tapi ada penahapannya,'' papar dia.
|