|
 |
Kandidat Presiden Jawa
RM Danrdono HADINOTO
PAUL Salam Somohardjo boleh dibilang merupakan wong Jawa di Suriname
dengan karier politik tertinggi. Sejak bitingan (pemilu) pada 25 Mei
2005, untuk kali pertama warga dalam sejarah Republiek Suriname
keturunan Jawa terpilih sebagai ketua De Nationale Assemblee (DNA).
Sebelumnya, posisi tertinggi orang Jawa di bekas koloni Belanda itu,
hanyalah sebagai menteri.
Partai yang dipimpin Paul, Partij Pertjajah Luhur memenangi pemilu
itu, dan menguasai parlemen setelah berkoalisi dengan sejumlah
partai lain. Mengingat presiden Suriname tidak dipilih secara
langsung oleh rakyat, melainkan oleh parlemen, maka dan posisi yang
ditempati Paul pun bernilai strategis.
, Semula, Paul mengaku, tak terlampau tertarik pada politik. Sarjana
hukum lulusan sebuah universitas di Paramaribo (ibukota Suriname)
itu lebih suka terlibat pada penyelenggaraan pertunjukan musik, baik
konser maupun festival.
"Saya pernah mengundang Mus Mujiono dan Helen Sparingga untuk
manggung di Paramaribo. Juga, Didi Kempot, yang sampai sekarang
menjadi panutan para pemusik di Suriname," akunya.
Paul juga sering menggelar Miss Suriname. Biasanya, yang menang ya
selalu orang Jawa, Maka, dia agak heran, ketika melihat Miss
Indonesia (Agni Pratistha Arkadewi Kuswardono) ternyata berasal dari
Jawa. "Kalau dibawa ke Suriname, berarti dua orang Jawa yang patut
dicalonkan menjadi Miss Universe. Ha ha ha, " kata Paul ketika
ditemui di sela-sela pelaksanaan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) IV di
Hotel Patra Semarang, beberapa waktu lalu.
Dari aktivitas itu, Paul bertemu dengan aktivis partai dari kalangan
wong ireng, bangsa Creole. Dia, yang ketika itu masih berumur 20-an,
diajak bergabung ke partainya. Pada awal 1970-an, dia sudah menjadi
anggota parlemen. Dari aktivitas partai, bergaul dengan para
politikus keturunan Jawa membuat dia tersadar, potensi besar ini
harus dipersatukan. maka terbentuklah Partij Pendhowo Limo. Sampai
akhirnya, Paul membentuk partai sendiri, Pertjajah Luhur.
Ternyata, pilihan Paul tak luput. Politik sepertinya telah
ditakdirkan sebagai garis hidup pria kelahiran 2 Mei 1943 itu. Dia
telah menjadi anggota parlemen sejak dekade 1970-an, ketika masih
berusia 20-an tahun. Sempat menjabat Menteri Kesejahteraan Sosial,
sebelum akhirnya menjadi orang pertama di Parlemen Suriname.
Kans Besar
Banyak kalangan menyebut, suami Siti Aminah Pardi ini itu memiliki
kans besar untuk menjadi presiden Suriname, pada bitingan 2010
nanti. Kalau prediksi itu menjadi kenyataan, maka Paul akan tercatat
sebagai orang Jawa pertama yang menjadi Presiden Suriname.
"Kalau dianggap sebagai peluang, dengan posisi sebagai ketua
parlemen sekarang, tentu saja cukup terbuka menjadi presiden. Itu
bergantung pada pilihan rakyat pada bitingan empat tahun mendatang,"
tutur Paul, yang salah satu kakeknya berasal dari Semarang.
Dia menggenggam peluang besar untuk mewujudkan rekor, menjadi orang
Jawa pertama yang menjadi presiden di luar Indonesia. Itu bukan hal
yang musykil, mengingat orang Jawa memiliki jumlah yang signifikan
di Suriname, sekitar 15% dari 492.829 jiwa penduduknya. Terlebih
kalau partai-partai berbasis Jawa, seperti Partij Pertjajah Luhur,
Karukunan Tuladha Pranatan Inggil (KTPI), Partij Pembangunan Rakyat
Suriname (PPRS), Pandhowo Limo, dan Partij D'21 (De Selikur) bisa
bersatu padu.
"Bukan, bukan politik kesukuan. Politik kesukuan itu sudah lewat.
Kalau kita mau berkuasa, maka kekuatan kita sendiri tidak memadai.
Kalau ingin kuat, maka ya harus bergabung bersama," katanya. (Achiar
M Permana-35)
| |