Agung Laksono: Setuju Dwikewarganegaran
Dilaporkan Oleh : Dr.Irawan

Los Angeles, September 16 , 2006 / Indonesia Media

Sabtu itu sejumlah masyarakat Indonesia di Los Angeles melakukan tatap muka dengan ketua DPR-RI di lantai 3 gedung KJRI-LA , Wilshire Blvd. Kedatangan Agung sebenarnya dalam rangka memenuhi undangan dari USINDO dan Congress AS. Dari pertemuan yang berjalan singkat dan disudahi dengan makan siang itu ternyata memberi masukan kepada ketua DPR itu , dan sebaliknya masyarakat Indonesia juga diberi update situasi terkini di tanah air.

Beberapa point yang dipaparkan Agung tentang situasi tanah air antara lain:
Saat ini sepertiga dari APBN digunakan untuk jadwal pembayaran hutang, padahal angka subsidi BBM dan listrik terus meningkat , sementara itu produksi minyak Indonesia anjlok dibawah 1,4 juta barel, sedangkan konsumsi minyak Indonesia naik terus . Kalau kondisi ini tetap berlanjut maka Indonesia bisa dikeluarkan dari keanggotaan OPEC. Indonesia saat ini bukan lagi sebagai pengekspor minyak melainkan sudah menjadi negara pengimpor minyak. Ada kesalah kaprahan mendasar dalam pola konsumsi energi di Indonesia, yaitu masyarakat umum masih menggunakan minyak tanah (Kerosen) yang mahal, padahal harga gas LPG lebih murah. Hal ini dikarenakan rakyat umumnya berpandangan bahwa kalau kompor LPG (Elpiji) adalah barang mewah ketimbang kompor sumbu yang mengkonsumsi minyak tanah. Kesalahan lainnya adalah tidak adanya atau kurangnya fasilitas penyulingan minyak di Indonesia sehingga Indonesia harus membeli bensin dari luar negeri.

Pada umumnya anggaran belanja negara masih memprihatinkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, contohnya anggaran pendidikan harusnya diatas 20%, tapi kita masih berkisar di 9,1% . Anggaran bidang kesehatan harusnya 15%, tapi kita baru sanggup 2,6%. Kalau anggaran belanja militer di Malaysia Rp. 400 trilliun , TNI harus puas dengan Rp.33 trilliun saja.

Dari segi investasi ternyata Indonesia masih sulit menarik investasi baru dari luar, ironisnya sekarang malah banyak industri di Malaysia kepunyaan orang Indonesia. DPR menyadari perlunya Undang-undang penanaman modal yang kompetitif sehingga bisa meningkatkan nilai saing dengan negara lainnya. Disamping itu Undang-undang Ketenagakerjaan juga perlu revisi besar-besaran, agar tidak menakutkan perusahaan.

Saat ini Indonesia memang terkesan masih kuat nilai Rupiahnya karena banyak dana (petro dolar) masuk dari Timur Tengah, mereka tidak berani menanamkan uangnya di AS, sebab takut di tahan oleh AS. Tapi kalau sontak mereka menarik modalnya dari Indonesia akibatnya sangat buruk. Maka itu dihimbau agar mereka menanamkan modalnya di sector riil, terutama di infrastruktur, macam pembangunan sarana transportasi.

Undang-undang perpajakan sudah lebih baik, karena sekarang sudah ada sanksi dan hukumnya bagi oknum perpajakan yang bermanipulasi.

Tahun depan DPR akan mulai membahas Rencana undang-undang Pemilu. Saat ini pemilihan masih sangat semrawut DPR selalu dipusingkan oleh pengaduan Pilkada yang curang dan pertikaian antara yang menang dan kalah. Masalahnya mereka tidak ada yang mempunyai persiapan untuk kalah, apalagi kalau calon calonnya ternyata masih mempunyai hubungan keluarga, tidak jarang pertentangan antar anggota keluarga diteruskan ke Pilkada. Untuk itu Agung ingin mencontoh sistem pemilhan seperti di Amerika yang dilakukan sekali gus. kalau tidak DPR setiap hari direpotkan oleh urusan pertikaian Pilkada.

Masukan dari masyarakat Indonesia kepada DPR-RI

Tegakkan HUKUM
Point ini sudah berulang kali di suarakan oleh masyarakat Indonesia dimana saja, bahwa pentingnya menegakkan Hukum agar Indonesia mempunyai kepastian Hukum . Ketidak pastian hukum inilah yang banyak menyebabkan para investor hengkang dari Indonesia. Pelaku bisnis asal Indonesia saja tidak tahan , apalagi orang luar. Ditambahkan juga sulitnya menegakkan Hukum di Indonesia karena mental yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya Feodal. Oleh karena itu pendidikan agar keluar dari kungkungan feodalisme, dan hukum tanpa pandang bulu harus dilaksanakan.
Sempat pula di beri contoh yang terjadi di AS; Sheriff Los Angeles Lee Baca pernah di tilang oleh anak buahnya sebanyak dua kali karena speeding, padahal dia masih berkuasa sebagai sheriff. Richard Riordan ketika menjabat sebagai walikota Los Angeles pernah ditutup restaurantnya karena pelanggaran public health. Gubernur California Arnold Schwarzenegger juga pernah ditangkap polisi karena mengemudi moge tanpa SIM yang berlaku. Apakah hal seperti ini bisa terjadi di Indonesia ?

Perlunya perubahan paradigma dalam sistem kerja anggota DPR, sebab seperti Congressman di AS mereka mempunyai staff ahli yang membantu mereka, tapi kalau di DPR-RI yang namanya staff biasanya hanya sopir dan tukang angkat koper.

Belitung Timur gratis sekolah dan pengobatan
Bupati Belitung Timur, koq bisa membebaskan biaya sekolah dari SD sampai SMA, serta asuransi kesehatan gratis bagi rakyatnya. Bagaimana dengan daerah daerah lainnya ? Agung malah bingung dan tidak percaya mendengar kejadian seperti itu, dan berjanji akan mencari tahu kebenaran berita itu. ( ... kita tunggu saja ...red)

Travel warning dan Visa
Travel warning dan perlunya Visa yang diterapkan oleh imigrasi terhadap warga AS yang ke Indonesia adalah tindakan yang merugikan Indonesia sendiri. Pemeritah Indonesia harus mengupayakan agar lebih serius menangani masalah terorisme di Indonesia agar AS mencabut Tarvel warning tersebut. Hal ini telah membuahkan dampak jelek sekali terhadap program pembelajaran tentang Indonesia. Saat ini pembelajaran tentang Indonesia oleh sarjana-sarjana AS jatuh pada peringkat terendah dibanding dengan negara-negara Asia Tengara lainnya. Demikian pernyataan dari Juliana Wijaya Ph.D seorang dosen bahasa dan budaya Indonesia di UCLA.

Dwikewarganegaraan.
Kenapa sich Indonesia tidak membolehkan Dual Citizenship ? Demikian protes seorang ABG kelahiran AS. Padahal banyak Negara yang membolehkan warganya memegang dwikewarganegaraan, pasalnya banyak kemudahan-kemudahan dan hak untuk pemilu yang hanya bisa diperoleh bagi warga negara Amerika. Anak yang mengaku bernama Batara Supraba ini dengan terbata-bata berbicara bahasa Indonesia formal dihadapan ketua DPR ini hendaknya kami hargai, karena sebagai US Citizen bisa saja dia tidak perlu tahu urusan ini. Semangat kepeduliannya terhadap tanah air orang tuanya sangat berpotensial melahirkan bibit-bibit lobbyist yang berguna bagi hubungan bilateral AS dan RI.

Bukan Hanya yang ABG, tapi juga orang yang sudah sepuh macam Pak Agus Djayaputra juga turut mengeluhkan policy dari Indonesia soal dwikewarganegaraan. Diceritakan juga ketika mantan MenKumDang dan HAM, Yusril ketika datang ke Los Angeles pernah juga diminta masyarakat disini agar bisa diatur dwikewarganegaran bagi orang Indonesia yang tinggal di AS. Namun ketika itu Yusril mengatakan bahwa, “Kalau dikasih, maka Negara-negara lainnya bisa ikut minta seperti Pakistan, RRT , atau Afganistan”. Kakek yang berambut putih inipun balik bertanya :”Memangnya Indonesia bukan Negara yang berdaulat, kenapa harus menuruti orang lain, koq tidak berpendirian?”.

Menanggapi gempuran tentang Dwikewarganegaraan itu, akhirnya Agung Laksono yang putera-puteri-nya pernah tinggal dan sekolah di California itu mengatakan:”Saya secara pribadi setuju Dwikewarganegaraan diberikan kepada masyarakat yang tinggal di AS, sejauh ini memang dwikewarganegaraan sudah berlaku bagi anak-anak WNI yang lahir di Luar negeri dan belum berusia 18 tahun”.

Soal Pabean
Julian seorang pengusaha impor export suku cadang kendaraan mengeluhkan menjadi sapi perahan oknum oknum Bea Cukai di Indonesia yang selalu mempersulit masuk keluarnya barang di pelabuhan, dan minta agar ketua DPR memperhatikannya. Menanggapi cerita lama ini, Agung berjanji akan mempelajarinya, disisi yang lain beliau juga dipusingkan oleh jatuhnya perekonomian industri textile di Jawa Barat yang saat ini tinggal 25% akibat ketentuan Flat rate cukai container yang membawa masuk cita halus dari luar negeri.


 

 
       

 


FastCounter by bCentral