Mampir di Warung Malang, Hong Kong

Mendung yang menggantung sejak dari Causeway Bay, akhirnya runtuh di pelabuhan Central Lamma Ferry. Gerimis yang temaram, membuat wajah Hong Kong jadi pucat. Dan bangunan-bangunan pencakar langit, jadi seperti kaki-kaki raksasa yang melangkah di antara bukit-bukit batu di bumi Hong Kong nan purba.


Saat Ferry yang kami tumpangi membelah ombak menuju Pulau Lamma, maka Kowloon, Macao, Yuen Long, cuma tinggal bayang-bayang. Di hadapan kami, adalah Lautan China Selatan yang sedikit bergelora pada Senin (28/8) sore itu.
Padahal kemarin, pada Minggu (27/8), saat sore seperti ini, saya bersama penyanyi Franky Sahilatua yang kini jadi duta buruh migran, berada di tengah ribuan buruh migran yang berkumpul di Victoria Park untuk merayakan HUT RI ke-61.
Begitulah kami, saya, Franky, istri dan anak bungsu Franky, serta Haris dari Serikat Buruh Migran Indonesia, selama empat hari (26-29 Agustus), terseret dalam irama Hong Kong yang tertib dan serba cepat. Dalam sehari, kami bisa menjelajahi dua tiga tempat yang jaraknya berjauhan.
Maka jadilah kami berlima turut melangkah cepat menyusuri jalanan Hong Kong. Kadang menggunakan bus, kadang naik kereta api bawah tanah, tapi kerap kali kami berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya.
Inilah kiranya yang membuat warga Hong Kong tak ada yang kelihatan gendut. Tradisi berjalan kaki bukan saja menguatkan otot kaki warga Hong Kong, tapi juga membakar gula, lemak dan kolesterol di tubuh mereka.
Maklumlah, tradisi "jalan" warga Hong Kong, memang sebanding dengan tradisi kuliner mereka, yang menurut Santi, wartawan koran Suara yang terbit di Hong Kong untuk kalangan buruh migran asal Indonesia, cuma ada dua jenis makanan di negeri bekas jajahan Inggris itu. Yakni, makanan enak dan enak sekali.
Bicara soal makanan, saya jadi ingat Pak Ali. Dialah pemilik Warung Malang yang berlokasi di Jalan Pennington, Causeway Bay, Hong Kong. Ya, ya…, masakan Pak Ali…, maksud saya, masakan Nyonya Ali yang bernama Katinem itu juga tergolong lezat. Ah…, rasanya baik juga saya memulai kisah perjalanan saya di Hong Kong dengan menampilkan cerita tentang Pak Ali dan Warung Malang-nya itu.
Well, baiknya Anda jangan kaget. Kendati berada di Hong Kong yang ribuan mil jauhnya dari Indonesia, tapi begitu makan di Warung Malang, kita serasa di Tanah Air. Itulah keistimewaan Warung Malang milik Pak Ali.
Di sini, Anda bisa merasai rawon, pepes, nasi campur, soto, perkedel, pecel lele dan lain sebagainya. Dan asal tahu saja, semua bahan baku itu, mulai dari lele, bebek, ayam kampung, dikirim langung dari Indonesia tiap minggu.
Pak Ali bilang, tiap minggu ia mendapat kiriman dari Indonesia berupa bakso (40 kg), lele (50 kg), ayam kampung (50 ekor), burung dara (50 ekor), empek-empek (600 biji/bulan), serta aneka baju muslim, kaset, buku-buku, dan VCD.
Untuk warung makan dan toko buku, Ali harus rela mengeluarkan 23 ribu dollar Hong Kong per bulan untuk sewa tempat. Tapi, rasanya itu bukan soal buat Ali. Maklumlah, pada hari biasa saja rata-rata warungnya yang dijamin halal itu dikunjungi tak kurang dari 100 orang. Pada Sabtu serta Minggu, minimal 500 orang makan di warung Ali. Selain para pekerja dari Indonesia yang tinggal di Hong Kong, langganannya juga ada yang datang dari Malaysia atau Jakarta. "Kalau mereka pas datang ke Hong Kong, biasanya mampir ke sini," ujar Ali saat ditemui di warungnya di Sabtu sore (26/8).
Kesuksesan yang diperoleh Ali lewat Warung Malang-nya kini, merupakan kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Semenjak masih bekerja di Konsulat Jenderal RI di Hong Kong, suami istri itu sudah berjualan di kantin Konjen.
Baru setelah Ali pensiun di tahun 1997, ia mendirikan Warung Malang. Ya, Ali boleh membuka usaha karena dirinya telah memiliki permanent resident sejak 1975.
"Waktu membuka Warung Malang, tiap hari saya angkut-angkut barang ke sini dari tempat tinggal kami di belakang Konjen. Sekarang, alhamdulillah kami sudah bisa sewa tempat yang lumayan besar sehingga perkakas warung bisa ditinggal," ungkap Ali mengenang jarak antara tempat tinggalnya dengan warungnya kini yang bisa menghabiskan sepasang sandal dalam sebulan.
Haji Mochamad Nurali, demikian nama lengkap Pak Ali. Ia lahir di Jombang tahun 1944. Masuk ke Hong Kong tahun 1967, setelah dua tahun tinggal di China menjadi pembantu di bagian rumah tangga Konsulat Jenderal di negeri Tirai Bambu itu.
Sembilan tahun di Hong Kong, Ali pun beroleh jodoh. Dialah Katinem, perempuan asal Nganjuk yang dibawa ke Hong Kong oleh majikannya yang semula tinggal di Indonesia pada tahun 1973.
Ali dan Katinem menikah pada 1976. Setahun kemudian, pasangan ini memperoleh anak kembar, laki dan perempuan. Kini, anak mereka yang laki-laki sudah memberi cucu buat Katinem dan Ali. Adapun anak perempuan mereka, sekarang sedang kuliah perhotelan dan manajemen di Melbourne, Australia.
Sekarang, dengan adanya Warung Malang yang laris, selain mampu menghidupi keluarganya dengan layak, Ali juga bisa mempekerjakan beberapa saudaranya di Warung Malang. Selain itu, ia juga telah memiliki rumah yang amat layak huni di Nganjuk, serta bisa pulang tiap tahun sekali ke Indonesia.
Saat ditanya, apakah dirinya akan menghabiskan sisa usianya di Hong Kong. Ali tersenyum seraya menyitir sebuah peribahasa, "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."
Ali sekeluarga memang sudah memilih menjunjung langit Hong Kong. Sebab di Hong Kong itulah, Ali sekeluarga telah beroleh banyak kemuliaan dari bumi Hong Kong yang ia tinggali.
Sementara, sambil menyantap nasi campur Warung Malang, saya pun teringat idola saya di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Mas Bondan Winarno yang kini membawakan acara Wisata Kuliner di Trans TV. Maka, saat menyuap sendok pertama, saya pun ngomong model Mas Bondan...."Hmmmm, enak...enak sekali. Bumbunya benar-benar meresap.."


Jodhi Yudono

 
       

 


FastCounter by bCentral