Bush Akui Hambali Disekap di Penjara CIA

WASHINGTON - Keberadaan tersangka teroris Ridwan Isamuddin alias Hambali, warga Indonesia, akhirnya terkuak juga. Presiden AS George W Bush Kamis kemarin mengakui, selama tiga tahun ini Hambali termasuk salah satu dari 14 tersangka teroris yang ditahan di penjara rahasia Dinas Intelijen Amerika (CIA).

Bush mengakui hal itu saat menyampaikan pidato mengenai terorisme, yang disiarkan secara langsung oleh televisi nasional Amerika. Bush mengatakan sebanyak 14 tersangka teroris kelas kakap selama ini disekap di tahanan rahasia yang dikelola CIA. Pemerintah AS, kata Bush, telah memindahkan para tersangka terorisme itu ke penjara Guantanamo di Kuba.

Selain Hambali, ke 14 tersangka teroris itu adalah Khalid Sheikh Mohammed alias Mukhtar, Abu Zubaydah, Ramzi bin al-Shibh, Mustafa Ahmad al-Hawsawi, Lillie alias Mohammed Nazir Bin Lep, Walid bin Attash alias Khallad, Majid Khan, Abd al-Rahim al-Nashiri, Abu Faraj al-Libi, Zubair, Ahmed Khalfan Ghailani, Gouled Hassan Dourad, dan Ali Abd al-Aziz Ali.

Khalid Sheikh Mohammed merupakan arsitek serangan teroris 11 September 2001. Sementara Hambali pernah dilukiskan Bush sebagai tokoh Al Qaedah yang menjadi sahabat dekat Khalid Sheikh Mohammed. Hambali pernah disebut Bush sebagai tersangka teroris yang membahayakan dan mematikan. Hambali selama ini juga dikenal sebagai tokoh di balik kasus bom-bom di Indonesia.

Dia ditangkap aparat Thailand pada 15 Agustus 2003. Setelah ditangkap, Hambali tidak diekstradisi dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia, namun malah dibawa pemerintah AS.

Pemerintah Indonesia telah berupaya dan meminta izin agar aparat Indonesia bisa menemui Hambali. Namun, pemerintah AS selalu menolak memberikan akses kepada penyidik Indonesia untuk bertemu Hambali. AS hanya memberikan akses kepada penyidik Indonesia untuk memeriksa Hambali secara tertulis. Pemerintah AS juga menyembunyikan tempat penahanan Hambali. Karena itulah, selama ini tempat penahanan Hambali misterius.

Terkuak

Dengan pernyataan Bush itu, terkuak bahwa selama tiga tahun ini, Hambali yang asli Cianjur, Jawa Barat itu ternyata mendekam di penjara rahasia CIA.

Isu mengenai keberadaan penjara rahasia CIA itu pernah dibocorkan oleh harian the Washington Post November 2005 lalu. Namun, pemerintah AS tidak pernah membenarkan atau pun menyangkal pemberitaan itu.

Keberadaan tahanan rahasia ini mendulang kritik dari para aktivis hak asasi. Namun, Bush menegaskan bahwa tahanan rahasia merupakan bagian integral dari upaya pemerintah AS untuk membuat negeri Amerika aman.

''Untuk memenangi perang melawan teror, kita harus mampu menahan, menginterogasi, dan juga mengadili para teroris yang tertangkap di Amerika maupun di arena pertempuran di seluruh penjuru dunia,'' ujar Bush.

Program penjara CIA itu membuat marah Eropa beberapa waktu lalu. Eropa menuduh Amerika Serikat telah melanggar hukum internasional mengenai perlakuan terhadap tawanan.

Penjara rahasia tersebut dimulai pada 2002 setelah penangkapan Abu Zubaydah, pembantu utama Usamah bin Ladin. CIA menggunakan teknik itu untuk memaksa tahanan berbicara kepada petugas interogator.

CIA telah memperoleh keputusan Departemen Kehakiman AS bahwa tak satu pun dari metode interogasi itu melanggar hukum Amerika. Prosedur itu kemudian digunakan terhadap para tahanan kelas kakap.

Teknik Interogasi

Bush tetap ingin melanjutkan program penjara rahasia CIA itu, meskipun Mahkamah Agung Juni lalu telah memutuskan bahwa semua tahanan harus dilindungi sesuai dengan Konvensi Jenewa.

Pejabat dan pakar hukum AS mengatakan, program itu kemungkinan kecil dilanjutkan sebelum Kongres secara eksplisit menyatakan teknik interogasi CIA telah memenuhi standar Konvensi Jenewa.

Seorang pejabat yang minta namanya dirahasiakan mengatakan, program itu tampaknya akan dihentikan.

''Banyak orang menyatakan, teknik-teknik interogasi itu jelas-jelas melanggar, tetapi sebagian lainnya menyatakan tidak melanggar. Ini menunjukkan, penyelesaian masalah itu belum menemukan kepastian,'' kata Robert Chesney, profesor hukum di Wake Forest University.
(rtr-ben-dtc-25)

 

 

 
       

 


FastCounter by bCentral